Sabtu, 27 Mei 2017

Karakteristik PTK

Karakteristik PTK 

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)

 Beberapa ahli telah memberikan kombinasi dari berbagai definisi tentang PTK yang pada hakikatnya memunculkan empat karakteristik utama, yaitu:

  1. Dilakukan oleh praktisi (guru kelas), dengan dilandasi dari kerisauan guru terhadap kinerjanya dan kemudian memprakarsai diri melakukan perbaikan
  2. Metode utamanya adalah refleksi diri dalam mengumpulkan data
  3. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran, yaitu interaksi guru dengan siswa dalam kelas
  4. Ditujukan untuk mengubah sesuatu yang terkait dengan pembelajaran.
Secara lebih terperinci, Creswell menjelaskan enam karakteristik.
  1. PTK terfokus pada tujuan praktis, dalam pengertian diarahkan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah aktual yang spesifik. Dengan demikian, PTK digunakan peneliti untuk memperoleh manfaat langsung bagi dirinya dan pihak lain yang terlibat dalam penelitian tersebut.
  2. PTK merupakan penelitian yang reflektif-mandiri (self-reflektive) atau kolaboratif. Dalam konteks ini, peneliti (atau kelompok peneliti) mengkaji praktik yang dia/mereka lakukan (bukan praktik orang lain), untuk melihat apa yang harus dilakukan dalam rangka memperbaiki praktik tersebut.
  3. PTK bersifat kolaboratif karena dilaksanakan oleh individu dengan bantuan orang lain (minimal sebagai observer) atau oleh sekelompok kolega, praktisi (guru) atau peneliti.
  4. PTK merupakan sebuah proses yang dinamis dan fleksibel yang melibatkan pengulangan-pengulangan aktivitas (sehingga membentuk pola spiral) yang maju-mundur diantara refleksi, penjaringan data, dan tindakan.
  5. PTK merupakan suatu rencana tindakan. Meskipun merupakan proses yg dinamis dan fleksibel, sebagai sebuah metode penelitian, PTK harus dirancang secara sistematis yang memenuhi pola umum prosedur PTK.
  6. PTK merupakan penelitian kebersamaan (sharing research). Berbeda dengan hasil penelitian tradisional yang biasanya langsung dipublikasikan dalam jurnal atau buku, peneliti PTK biasanya mendistribusikan laporan penelitiannya kepada teman sejawat yang mungkin dapat memakai temuan tersebut. Meskipun saat ini laporan PTK juga sudah dipublikasikan melalui jurnal, biasanya para peneliti PTK lebih cenderung untuk membagikan informasi tersebut dengan berbagai rekan sejawat untuk dipraktikkan atau dikaji ulang di sekolah/kelas masing-masing.
Berdasarkan karakteristik tersebut dapat dibandingkan ciri-ciri PTK dengan penelitian kelas dan penelitian formal.

Tabel 1. Perbandingan PTK dan penelitian kelas non PTK
Aspek
PTK
Non PTK
Peneliti Guru Orang luar
Rencana Penelitian Oleh guru (memungkinkan dibantu orang luar) Oleh peneliti
Munculnya masalah Dirasakan oleh guru (mungkin dorongan orang luar) Dirasakan oleh orang luar
Ciri utama Ada tindakan untuk perbaikan yang berulang Belum tentu ada tindakan perbaikan
Peran guru Sebagai guru dan peneliti Sebagai guru (subjek penelitian)
Tempat penelitian Kelas Kelas
Proses pengumpulan data Oleh guru dan bantuan orang luar Oleh peneliti
Hasil penelitian Langsung dimafaatkan oleh guru dan dirasakan oleh siswa Menjadi milik peneliti dan belum tentu dimanfaatkan oleh guru



Sedangkan perbedaan karakteristik PTK dengan penelitian non PTK dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain:
Tabel 2. Perbedaan karakteristik PTK dan penelitian kelas non PTK
Dimensi
PTK
Penelitian Non PTK
Motivas Tindakan Kebenaran
Sumber masalah Diagnosis status Induktif - deduktif
Tujuan Memperbaiki praktik, sekarang dan di ini Verifikasi dan menemukan pengetahuan yang dapat digeneralisasi
Peneliti yang terlibat Pelaku dari dalam (guru) Orang yang berminat
Sampel Kasus khusus Sampel yang refresentatif
Metedologi Longgar tetapi berusaha objektif, jujur, dan tidak memihakBaku dengan objektivitas dan ketidakmemihakan yang terintergrasi
Sampel Kasus khusus Sampel yang refresentatif
Metedologi Longgar tetapi berusaha objektif, jujur, dan tidak memihakBaku dengan objektivitas dan ketidakmemihakan yang terintergrasi
Penafsiran hasil penelitian Untuk memahami praktik melalui refleksi oleh praktisi yang membangun Mendiskripsikan, mengabstraksikan, penyimpulan dan pembentukan teori oleh ilmuwan
Hasil akhir Siswa belajar lebih baik (proses dan produk)Pengetahuan, prosedur atau materi yang diuji

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas 

 Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?

disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
 
Menurut IGAK Wardanai dan Kuswaya Wihardit (2014) terdapat beberapa karakteristik Penelitian Tindakan Kelas, yaitu:
  1. Adanya masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dulakukannya selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu diselesaikan. Dengan perkataan lain, guru merasa bahwa ada sesuatu yang harus di perbaiki dalam praktik pembelajaran yang dilakukannya selama ini, dan diprakarsai dari dalam guru sendiri (an inquiry of practice from whitin), bukan oleh orang luar.
  2. Self reflektif inquiry, atau penelitian melalui refleksi diri, merupakan ciri PTK yang paling esensial. Untuk melakukan refleksi, guru berusaha bertanya pada diri sendiri, misalnya dengan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apakah penjelasan saya terlampau cepat?
  • Apakah saya sudah member contoh yang baik?
  • Apakah saya sudah memberi kesempatan beratanya kepada siswa?
  • Apakah saya sudah memberi latihan yang memadai kepada siswa?
  • Apakah hasil latihan siswa sudah saya komentari?
  • Apakah bahasa yang saya gunakan dapat dipahami siswa?
Dari pertanyaan seperti di atas guru akan dapat memperkirakan penyebab dari masalah yang dihadapi dan kemudian akan mencoba mencari jalan keluar untuk memperbaiki/meningkatkan hasil belajar siswa.
  1. Penelitian kelas dilakukan di dalam kelas, sehingga focus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi;
  2. Penelitian Kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran. Dimana perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus menerus, selama kegiatan penelitian dilakukan. Oleh karena itu, dalam PTK dikenal adanya siklus tindakan (action) yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mencapai perbaikan yang diinginkan.
Untuk lebih jelas perbedaan PTK dengan penelitian kelas non-PTK dapat kita amati pada table di bawah ini:
No Aspek Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Kelas Non-PTK
1 Peneliti Guru Orang Luar
2 Rencana Penelitian Oleh Guru (mungkin dibantu orang luar) Oleh Peneliti
3 Munculnya masalah Dirasakan oleh guru (mungkin dengan dorongan oleh orang luar) Dirasakan orang luar
4 Ciri Utama Ada tindakan untuk perbaikan yang berulang (siklus) Belum tentu ada
5 Peran guru Sebagai Guru dan peneliti Sebagai Guru (Objek Penelitian)
6 Tempat Penelitian Kelas Kelas
7 Proses Pengumpulan data Oleh guru sendiri atau bantuan orang lain Oleh Peneliti
8 Hasil Penelitian Langsung dimanfaatkan oleh guru dan dirasakan oleh Kelas Menjadi milik peneliti belum tentu dimanfaatkan oleh guru
Untuk memperjelas posisi PTK ada baiknya kita juga menyimak pendapat Raka Joni dkk., berkenaan dengan perbedaan PTK dengan Penelitian Formal lainnya, yaitu:
No Aspek Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Kelas Non-PTK
1 Motivasi Tindakan Kebenaran
2 Sumber Masalah Diagnosis Status Induktif-Deduktif
3 Tujuan Memperbaiki praktik, sekarang dan di sini Verifikasi dan menemukan pengetahuan yang dapat digeneralisasi
4 Peneliti yang terlibat Pelaku dari dalam Orang luar yang berminat
5 Sampel Kasus Khusus Sampel yang representative
6 Metodologi Longgar tapi berusaha untuk Objektif-Jujur-tidak memihak (Impartiality) Baku dan Objektivitas dan ketidakmemihakan yang terintegrasi (build-in objectivity and impartiality)
7 Penafsiran hasil penelitian Untuk memahami praktik melalui refleksi oleh praktisi yang membangun Mendeskripsikan, mengabstraksi, serta menyimpulkan, dan membentuk teori oleh ilmuwan
8 Hasil Akhir Siswa belajar lebih baik (Proses dan Produk) Pengetahuan, prosedur, atau materi yang teruji
Tujuan PTK
Penelitian pendidikan pada umumnya ditujukan untuk memperoleh landasan dalam mempertimbangkan suatu prosedur kerja, khususnya prosedur pembelajaran, menjamin cara kerja yang efektif dan efisien, memperoleh fakta-fakta tentang berbagai masalah pendidikan, dan menghindarkan sesuatu yang dapat merusak, serta meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran. Berdasarkan pemahaman tersebut, secara umum penelitian tindakan kelas bertujuan untuk:
  1. Memperbaiki dan meningkatkan kondisi-kondisi belajar serta kualitas pembelajaran.
  2. Meningkatkan layanan professional dalam konteks pembelaaran, khhususnya layanan kepada peserta didik sehingga tercipta layanan prima.
  3. Memberi kesempatan kepada guru berimprovisasi dalam melakukan tindakan pembelajaran yang direncanakan secara tepat waktu dan sasarannya.
  4. Memberi kesempatan kepada guru mengadakan kajian secara bertahap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya sehingga tercipta perbaikan yang berkesinambungan.
  5. Membiasakan guru mengembangkan sikap ilmiah, terbuka dan jujur dalam pembelajaran.
Perkembangan masyarakat dewasa ini sangat cepat dan sangat kompleks sehingga tuntutan terhadap layanan pembelajaran yang hams dilakukan oleh gmujuga meningkat. Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan atau memperbaiki layanan pembelajaran tersebut.
Tujuan ini dapat dicapai dengan cara melakukan berbagai tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan pembelaj aran di kelas yang selama ini dihadapi, baik disadari atau mungkin tidak disadari. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas adalah terletak kepada tindakan-tindakan altematif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitas tindakan-tindakan Alternative itu dalam memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru.
Jika perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran dapat terwujud dengan baik berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, menurut Suyanto (1999) ada tujuan penyerta yang juga dapat dicapai sekaligus dalam kegiatan penelitian itu. Tujuan penyerta yang dapat dicapai adalah terjadinya proses latihan dalam jabatan oleh guru selama proses penelitian tindakan kelas dilakukan. Ini dapat terjadi karena tujuan utama dari penelitian tindakan kelas adalah perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran.Artinya, dengan penelitian tindakan kelas itu guru sekaligus banyak berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan alternatif yang telah dipilihnya sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pembelajaran. Di sini guru akan lebih banyak mendapatkan pengalaman tentang keterampilan praktik pembelaj aran secara reflektifdaripada ilmu baru dari penelitian tindakan kelas yang dilakukan itu. Dalam konteks pengalaman latihan guru ini, Borg (1996) menegaskan bahwa tujuan utama penelifian tindakan adalah untuk pengembangan keterampilan guru berdasarkan pada persoalan-persoalan pembelajaranyang dihadapi guru di kelasnya sendiri, dan bukannya bertujuan untuk pencapaian pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.
McNiff (1992) menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan. Kata perbaikan di sini terkait dengan memiliki konteks dengan proses pembelajaran. Jika tujuan utama PTK adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan professional pendidik dalam menangani proses belajara mengajar, bagaimana tujuan ituu dapat di capai?. Tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternative dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran.
Sedangkan dalam bukunya Kunandar (2008) disebutkan bahwa tujuan penelitian tindakan Kelas adalah sebagai berikut:
  1. Untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dan siswa yang sedang belajar, meningkatkan profesionalisme guru, dan menumbuhkan budaya akademik dikalangan para guru.
  2. Peningkatan kualitas praktik pembeljaran di kelas secara terus menerus mengingat masyarakat berkembang secara cepat.
  3. Peningkatan relevansi pendidikan, hal ini dicapai melalui peningkatan proses pembelajaran
  4. Sebagai alat training in-service,yang memperlengkapi guru dengan skill dan metode baru, mempertajam kekuatan analisisnya dan mempertinggi kesadaran dirinya.
  5. Sebagai alat untuk memasukkan pendekatan tambahan atau inovatif terhadap system pembelajaran yang berkelanjutanyang biasanya menghambat inovasi dan perubahan
  6. Peningkatan hasil mutu pendidikan melalui perbaikan praktik pembeljaran di kelas dengan mengembangkan berbagai jenis ketrampilan dan menningktkan motivasi belajar siswa
  7. Meningkatkan sikap profesionalpendidik dan tenaga kependidikan
  8. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tercipta proaktif dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan
  9. Peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan, peningkatan atau perbaikan proses pembelajran di samping untuk meningkatkan relevansi dan mutu hasil pendidikan juga situnjukkan untuk meningkatkan efisiensi peemanfaatan sumber-sumber daya yang terintegrasi di dalamnya
Manfaat PTK
Manfaat PTK dapat dilihat dari dua aspek yakni aspek akademis dan aspek praktis. Aspek Akademis, manfaatnya adalah untuk membantu guru mengahasilkan pengetahuan yang shahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki mutu pembelajaran dalam jangka pendek. Adapun Manfaat Praktis dari pelaksanaan PTK antara lain:
  1. merupakan pelaksanaan inovasi pembelajaran dari bawah. Peningkatan mutu dan perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara rutin merupakan wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan pendekatan, metode,maupun gaya pembelajaran sehingga dapat melahirkan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik kelas.
  2. pengembangan kurikulum di tingkat sekolah, artinya dengan guru melakukan PTK maka guru telah melakukan implementasi kurikulum dalam tataran praktis, yakni bagaimana kurikulum itu dikembangkan dan disesuaikan dnegan situasi dan kondisi, sehingga kurikulum dapat berjalan secara efektif melalui proses pembelajran yang aktif,inovatif,kreatif,efektif dan menyenangkan.
Melalui PTK guru akan lebih banyak memperoleh pengalaman tentang praktik pembelajaran secara efektif, dan bukan ditujukan untuk memperoleh ilmu baru dari penelitian tindakan kelas yang dilakukannya. Dengan kata lain, tujuan utama PTK adalah mengembangkan katerampilan proses pembelajaran. Bukan untuk mencapai pengetahuan umum dalam bidang pendidikan. Meskipun demikian, PTK sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman guru terhadap pembelajaran yang menjadi tugas utamanya. Berbagai manfaat penelitian tindakan kelas antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut.
  1. Mengembangkan dan melakukan inovasi pembelajaran sehingga pembelajaran yang dilakukan senantiasa tampak baru dikalangan peserta didik.
  2. Merupakan upaya pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai dengan karakteristik pembelajaran, serta situasi dan kondisi kelas.
  3. Meningkatkan profesionalisme guru melalui upaya penelitian yang dilakukannya, sehingga pemahaman guru senantiasa meningkat, baik berkaitan dengan metode maupun isi pembelajaran.
Dalam pda ini, praktik PTK diharapkan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas pendidikan pada umumnya. Untuk mewujudkan tujuan dan memperoleh manfaat sebagaimana dikemukakan diatas, terhadap beberapa hal yang harus ditanyakan dalam pelaksanaannya, sebagai berikut: a) Apakah hipotesis tindakan telah dirumuskan berdasarkan tujuan dan hasil kajian dengan landasan yang tepat, baik secara teoritis maupun konseptual? b) Apakah alternative pemecahan masalah yang direkomendasikan dapat mencapai tujuan dan memecahkan permasalahan dengan tepat? c) Bagaimanakah tindakan pemecahan masalah dilakukan, bagaimana mengetahui dan mengontrol hasilnya? d) Bagaimanakah cara menguji hipotesis tindakan untuk membuktikan perbaikan kondisi atau peningkatan kinerja system pembelajaran? e) Apakah pengambilan kesimpulan sesuai dengan tujuan, kondisi dan karakteristik pembelajaran?
Referensi:
Hamzah, dkk. 2011. Menjadi peneliti PTK yang professional. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.
Mulyasa, E. 2011. Praktik Penelitian Tindakan Kelas,menciptakan perbaikan berkesinambungan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Kunandar. 2008. Langkah Mudah PTK sebagai Pengembangan Profesi Guru Jakarta: PT. Rajagrafindo. Persada
Djunaidi, Ghony. M, 2008. Penelitian Tindakan Kelas Malang: UIN-Malang Pers.
Asrori Muhammad, 2007. Penelitian Tindakan Kelas Bandung: CV. Wacana Prima.
Wardhani, IGAK dan Wihardit, Kuswaya, 2014. Penelitian Tindakan Kelas Jakarta: Universitas Terbuka.

KARAKTERISTIK, TUJUAN, SERTA MANFAAT PTK

KARAKTERISTIK, TUJUAN, SERTA MANFAAT PTK 

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sertifikasi guru menjadi suatu titik perhatian yang sangat menarik dan menyedot konsentrasi serta energy banyak orang dilingkungan pendidikan. Guru dituntut untuk memiliki dan menampilkan kinerja secara berkualitas sesuai dengan bidang tugasnya. Standar Nasional Pendidikan (2005) telah menegaskan bahwa guru harus memiliki kompetensi kepribadian, pedagogis. Professional dan sosial.
Salah satu dari 4 komponen tersebut yang berkaitan langsung dengan proses inovasi gaya pembeljaran adalah kompetensi professional yaitu kemampuan guru melakukan penelitian sederhana. Salah satu bentuk penelitian yang sederhana yang dapat dilakukan guru didalam proses pembelajaran yakni “Penenlitian Tindakan Kelas”. Yang didalamnya terdapat karakteristik, tujuan dan manfaat dari Penelitian Tindakan Kelas.
1.2  Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Karakteristik dari Penelitian Tindakan Kelas?
  2. Bagaimana Tujuan dari PTK?
  3. Apa Manfaat dari PTK?
1.3  Tujuan
  1. Untuk mengetahui Karakteristik dari Penelitian Tindakan Kelas
  2. Untuk mengetahui Tujuan dari PTK
  3. Untuk mengetahui Manfaat dari PTK
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Penelitan Tindakan Kelas
Mencermati definisi Penelitian Tindakan Kelas yang telah dipaparkan di atas, muncul suatu pertanyaan: “Kalau Penelitian Tindakan Kelas didefinisikan seperti itu, maka apa saja karakteristik penelitian tindakan kelas itu? Semua penelitian memang pada dasamya dilakukan dalam upaya untuk memcahkan masalah.Jika dilihat dari masalah yang harus dipecahkan, Penelitian Tindakan Kelas memiliki karakteristik penting yaitu masalah diteliti untuk dipecahkan harus selalu berangkat dari psrsoalan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehari-hari di kelas.
Jadi, Penelitian Tindakan Kelas akandapat dilaksanakan jika guru sejak awal memang menyadari adanya masalah yang terkait dengan proses dan hasil pembelaj aran yang dihadapi di kelas dan harus dipecahkan. .
Persoalannya adalah tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yang sudah dilakukan selama mengajar di kelas. Dapat terjadi guru berbuat kekeliruan selama bertahun-tahun dalam melaksanakan proses pembelajaran, tetapi tidak tahu kalau yang dilakukan itu salah. Bahkan, sangat bolehjadijustru merasa yang dilakukannya selama ini diyakini sebagai seseuatu yang benar.
 Oleh sebab itu, guru dapat meminta bantuan orang lain untuk melihat apa yang selama ini dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelasnya. Di sinilah pentingnya proses kolaborasi atau kerj asama antara guru dengan peneliti.
Dalam konteks seperti itu, guru dapat bekerjasama dengan peneliti dari perguruan tinggi untuk berdiskusi guna mencari dan merumuskan pennasalahan pembelajaran yang selama ini dilakukan di kelas. Dengan kata lain, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratifdengan peneliti dari perguruan tinggi.
 Dengan kegiatan secara kolaboratif ini akan muncul pemahaman dan kesadaran terhadap kemungkinan adanyan banyak masalah yang telah diperbuat selama guru itu melaksanakan proses pembelaj aran selama  ini Suyanto (1997) menegaskan,jika guru bersedia melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratifdengan para peneliti dari perguruan tinggi, maka banyak manfaat yang akan diperolehnya baik secara profesional maupun secara fungsional untuk meningkatkan karirnya.
 Karya tulis ilmiah semakin diperlukan oleh guru di masa depan. Penelitian tindakan kelas secara kolaboratif akan mampu menawarkan peluang yang luas terhadap terciptanya karya tulis bagi guru sambil mengajar di kelas sesuai dengan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakannya.
            PTK berbeda dengan penelitian formal, pada umumnya PTK memilki karateristik sebagi berikut:[1]
1.      Fokus peneliti Tindakan yang Praktis
Tujuan dari penelitian tindakan kelas adalah untuk menangani suatu problematika actual pada setting pendidikan. Dengan demikian,para peneliti penelitian tindakan mengkaji isu-isu praktis yang akan menghasilkan keuntungan bagi pendidikan. Isu-isu ini dapat merupakan masalah dari seorang guru di dalam kelas atau sebuah problematika yang melibatkan banyak pendidik dalam gedung lembaga pendidikan. Ini bias merupakan suatu  kebutuhan bagi suatu isu antara sekolah dan masyarakat, sebuah isu dengan suatu kebijakan sekolah atau stuktur yang menghambat kebebasan individu dan tindakan, atau suatu urusan individu di kota-kota kecil dan kota-kota besar. Para peneltian tindakan tidak melakasanakan benuk penelitian ini untuk memajukan pengetahuan untuk kepentingan ilmu pengetahuan akan tetapi untuk memecahkan suatu problem tersebut sifatnya terapan.
2.      Pendidik- Peneliti memiliki kegiatan Praktis
Dalam hal ini para peneliti tindakan terjun ke dalam penelitian partisipatori atau penelitian self reflektif  di mana mereka mengalihkan pendangan pengamatan mereka pada ruang kelas, sekolah , atau praktik-praktik pendidikan mereka sendiri. Karena mereka mengkaji situasi mereka sendiri, mereka merefleksikan tentang apa yang telah mereka pelajari suatu bentuk pengembangan diri serta apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki praktik-praktik pendidikan mereka. Dalam refleksi ini para peneliti tindakan menimbang solusi yang berbeda-beda pada problema mereka dan belajar dari menguji ide. Penelitian tindakan yang demikian telah disebut “suatu self refleksi spiral”
3.      Kolaborasi
PTK dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra deng pihak lain, seperti teman sejawat. Jadi dalam PTK perlu ada partisipasi dari pihak lain yang berperan sebagai pengamat. Hal ini diperlukan untuk mendukung objektivitas dari hasil PTK. Kolabborasi dalam pelaksanaanny, seperti antara guru dengan rekan sejawat, guru dengan kepala sekolah,guru dengan dosen ataupun guru dengn pengawas.[2]
4.      Suatu proses yang dinamis
Para peneliti PTK yang terjun ke dalam suatu proses yang dinamis meliputi pengulangan kegiatan, seperti suatu ”spiral” dari beberapa kegiatan. Ide penting ialah bahwa peneliti “spiral” kembali maju  mundur diantara refleksi atau merenungkan suatu problema, pengumpulan data, dan tindakan suatu team school-based, misalnya bias mencoba beberapa tindakan setelah merefleksikan atau merenungkan waktu yang paling baik bagi sekolah menengah atas untuk memulai. Merefleksikan,mengumpulkan data,mencoba suatu solusi,dan spiral kembali pada refleksi adalah merupakan bentuk kehiatan dari semua bagian dalam proses PTK. Proses tersebut tidak mengikuti suatu pola linier atau suatu urutan kausal dari problematika ke tindakan.
5.      Suatu rencana Tindakan
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi suatu rencana tindakan. Pada bebrapa poin di dalam proses kegiatan penelitian tersebut,peneliti PTK merumuskan suatu rencana tindakan untuk merespon terhadap problema. Perencanaan ini mungkin penting karena penyajian data terhadap penyandang dana,membangun suatu program sebagai pilot proyek atau sebagai perintis, menyediakan beberapa program yang sifatnya berkompetensi, atau mengimplementasikan suatu agenda penelitian yang sedang berjalan untuk menyelidiki praktik kegiatan yang baru. Ini bias merupakan suatu perencanaan tertulis, formal atau diskusi-diskusi informal tentang bagaimana menjalankan, dan ini mungkin melibatkan beberapa orang individu atau melibatkan seluruh komunitas.
6.      Penelitian Bersama
Tidak seperti penelitian tradisional bahwa para investigator melaporkan dan diplubikasikan dalam juranl dan buku-buku para peneliti PTK melaporakn hasil kegiatan penelitian mereka kepada para pendidi, yang selanjutnya segera dapat menggunakan hasilnya.
Karakteristik PTK berbeda secara konseptual dan fundamental di mana PTK tak lain adalah sebagai berikut:
a.       An inquiri of practice from within, berarti kegiatan PTK didasarkan pada masalah keseharian yang dirasakan, dan dihayatai dalam melaksanakan pembelajaran yang selalu muncul, sekalipun siswa/mahasiswa yang dihadapi berlainan pada setiap semesternya.
b.      A collaborative effort and participative, mengisyaratkan bahwa tindakan dan upaya perbaikan itu dilakukan bersama-sama siswa/mahasiswa secara kolaboratif dan partisipatif.
c.       A reflektif practice made public, yang menghendaki agar keseluruhan proses implementasi tindakan guru-dosen maupun tindakan siswa-mahasiswa dipantau dengan mempergunakan metode dan alat yang dapat dipetanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan demikian laporan PTK akan dapat memenuhi kaidah metodologi ilmiah dan kesimpulan atau temuan yang berupa model atau prosedur upaya perbaikan,peningkatan dan perubahan kearah yang lebih baik dan dapat disebarluaskan.
PTK itu situasional, yaitu berkaitan dengan mendiagnosis masalah dalam konteks tertentu, misaknya di kelas dalam sekolah dan berupaya menyelesaikannya dalm konteks. PTK itu bersifat self-evaluatif, yaitu kegiatan modifikasi praksis yang dilakukan secara continue, dievaluasi dalam situasi yang terus berjalan, yaitu tujuan akhirnya adalah untuk peningkatan perbaikan dalam praktik nyatanya.
Adapun dalam buku karangan prof. Dr. hamzah B. Uno, M.pd. nina lamatenggo, S.E., M.pd. Dra. Satria M.A. koni, M.pd. berjudul menjadi peneliti PTK yang profesional  karakteristik PTK ada yang membedakannya dengan jenis penelitian lain dapat dilihat pada ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dilakukannya selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu diselesaikan. Dengan kata lain, guru merasa bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam praktik pembelajaran yang dilakukan selama ini, dan perbaikan tersebut diprakarsai dari dalam diri guru sendiri (an incuiri of practice from within), bukan oleh orang dari luar. Tegasnya kepedulian guru terhadap kualitaas pembelajaran  yang dikelolanya merupakan awal dari munculnya masalah yang perlu dicari jawabannya. Hal ini berbeda dengan penelitian biasa, yang secara umum adanya masalah ditandai oleh penelitian yang biasanya berasal dari luar lingkungan yang mempunyai masalah tersebut.
2.      Self-reflective inquiry atau penelitian melalui refleksi diri, merupakan ciri PTK yang paling esensial. Berbeda dengan penelitian biasa yang mengumpulkan data dari lapangan atau obyek atau tempat lain seperti responden. Maka PTK mensyaratkan guru mengumpulkan data dari praktiknya sendiri dari melalui refleksi diri. Ini berarti guru mencoba mengingat kembali apa yang dikerjakannya di dalam kelas, apa dampak tindakan tersebut bagi siswa? Dari hasil tersebut guru mencoba menemukan kelemahan dan kekuatan dari tindakan yang dilakukannya, dan mencoba memperbaiki kelemahan dan mengulang penyempurnaan tindakan-tindakan yang dianggap sudah baik. Dengan demikian, data yang dikumplkan dari praktik sendiri, bukan dari sumber data yang lain. Pengumpulan data adalah guru yang terlibat dalam praktik sehingga didalam hal ini guru mempunyai fungsi ganda. Yaitu sebagai guru dan sebagia peneliti. Metodologi yang digunakan agak longgar, namun dapat disimpulkan secara sistematik , sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian dan rencana yang dibuat.
3.      Peneliti tindakan kelas dapat dilakukan didalam kelas sehingga fokus penelitian itu adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi belajar mengajar.
4.      Penelitian tindakan kelas dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran. Perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus menerus, selama kegiatan penelitian dilakukan. Oleh karena itu dalam penelitian PTK dikenal adanya siklus penelitian berupa pola: perencanaan- pelaksanaan- observasi- revisi (perencanaan ulang). Hal ini tentu berbeda dengan penelitian biasa yang biasanya tidak diserta dengan perlakuan berupa siklus. Kunci utama PTK adalah adanya tindakan yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mencapai perbaikan yang diinginkan.
Secara sederhana dapat dikemukakan beberapa   karakteristik inti dan penelitian tindakan kelas, yaitu:
1.      Masalah berasal dari guru
2.      Tujuannya memperbaiki pembelajaran
3.      Metode utama adalah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian;
4.      Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran;
5.      Guru bertindak sebagai pengajar dan peneliti.
Jadi, adanya “tindakan-tindakan”tertentu dalam penelitian kelas inilah yang juga menjadi karakteristik penting bagi penelitian tindakan kelas. Penting untuk dipertegas di sini adalah: “Tindakan seperti apakah yang dapat dikategorikan sebagai tindakan  dalam penelitian tindakan kelas itu?” Suharsimi (2007) menceritakan pengalamannya menilai karya tulis ilmiah yang dibuat oleh gum, ternyata masih banyak yang keliru menafsirkan penelitian tindakan kelas. Pada sampul depan ditulis “Penelitian Tindakan Kelas”, tetapi di bagian dalam ternyata hanya menguraikan proses pembelajaran biasa. Dalam penjelasannya memang gum sudah melakukan sesuatu, tetapi sesungguhnya guru melakukan hanya melakukan proses pembelajaran seperti biasa saja. Misalnya guru memberikan Lembar Kerja  kepada siswa, atau guru memberikan tugas untuk dikerjakansiswa di luar kelas, atau guru menugaskan siswa menghafalkan rumus untuk digunakan siswa di kelas. Tindakan-tindakan semacam ini sesungguhnya bukan merupakan tindakan yang dikehendaki oleh penelitian tindakan kelas. Suhasimi.(2007) menegaskan bahwa prinsip dasar tindakan dalam penelitian tindakan kelas adalah “tindakan yang diberikan oleh guru kepada siswa dengan maksud rneningkatkan prestasi belajar siswa rnelalui peningkatan kegiatan siswa.”
Untuk memperjelas kriteria “tindakan” dalam penelitian tindakan kelas, berikut ini disajikan ilutrasi kasus.
“seorang guru IPA di suatu SMP mengamati bahwa siswa pada umumnya merasa senang ketika ditugaskan melakukan praktikum di laboratorium. Begitu diberi tahukan untuk melakukan praktikum dan guru memberikan lembar petunjuk pelaksanaan praktikum, mereka segera menuju laboratorium, mengambil peralatan praktikum, mengambil bahan, dan melaksanakan praktikum. Guru tidak sempat menunggu secara utuh ketika siswa melakukan praktikum. Setelah selesai, siswa menyusun laporan dan langsung menyerahkan kepada guru.Ketika gum mernbaca laporan praktikum yang disusun oleh siswa, guru merasa kecewa karena pada umumnya laporannya kurang sistematis dan isinya jauh dan teon' praktikum yang seharusnya.Oleh sebab itu, guru tersebut berniat untuk membimbing agar siswa mampu melaksanakan praktikum dan membuat laporan dengan benar.Kalau hanya diberitahu saja, dan dipesan agar Waktu memasuki laboratorium harus hati-hati, mengarnbil alat-alat praktikum dengan cennat, sangat boleh jadi pesan guru tersebut tidak terlalu diperhatikan.”
oleh sebab itu, sebagai guru yang bijaksana, dia berusaha menganalisis dan mengenali apa sajakelemahan-kclemahan yangterjadi ketika siswa melakukan praktikum.Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, gum tersebut memperoleh beberapa aspek dari keseluruhan kegiatan praktikum yang harus dibenahi, yaim;
1.      Ketika guru membagikan lembar petunjuk praktikum, siswa tidak diberikankesempatan untuk menelaah dan menanyakan hal-hal yang belum dipahami.Barangkali masih ada yang tidak dipahami oleh siswa dalam petunjuk praktikum tersebut, tetapi siswa langsung melakukan praktikum. Tentu saja pada bagian yang belum dipahami itu menyebabkan siswa melakukan praktikum dengan tidak benar. Bagian ini akan dicari cara untuk memperbaikinya.
2.      Ketika siswa mengambil alat-alat dan bahan praktikum tidak diberitahu secara rinci agar hari-hati serta bflrgiliran dan bfirurutan dalam mengambilnya. Bagian ini juga akan diperbaiki.
3.      Ketika siswa melaksanakanpraktikum, guru tidak selalu menunggui dan mengamati dengan sungguh-sungguh cara siswa bekerja sejak awal sampai akhir. Bagian ini juga menjadi perhatian guru untuk diperbaiki.
4.      Ketika siswa menyusun laporan tidak dibimbing, langsung disuruh menyusunnya, dan kemudian langsung diserahkan kepada guru. Hasil praktikum belum tentu dikuasai oleh siswa karena tidak ada kesempatan untuk menelaah bersama-sama guru. Bagian ini juga menjadi perhatian guru untuk diperbaiki.
Setelah guru menganalisis kelemahan-kelemahan tersebut, selanjutnya merumuskan tindakan-tindakan perbaikan proses pembelaj aran praktikum tersebut, yaitu:
1.      Setelah petunjuk praktikum diperbanyak dan dibagikan kepada siswa, seluruh siswa diberikan kesempatan untuk membaca dan memahami secara cermat dan diberikan kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Setelah guru yakin bahwa semua siswa memahami petunjuk praktikum, maka siswa disuruh mulaimelaksanakan praktikum.
2.      Gurumemberikan petunjuk agar siswa dalam mengarnbil alat-alat dan bahan praktikum harus bergiliran dan berurutan. Ini dilakukan karena guru yakin bahwa jika siswa diberi panduan untuk lnengambil alat-alat dan bahan praktikum secara bergiliran dan dengan urutan yang benar, maka siswa akan tertib, tidak berebut, dan melakukannya secara hati-hati.
3.      Selain membuat petunjuk praktikum, gum j uga membuat lembar pengamatan yang digunakan untuk mengamati kegiatan siswa ketika sedang melakukan praktikum. Dengan cara demikian, siswa dapat melaksanakan praktikum dengan lancar, tidak mengalami kebingungan, dan tidak akan bekerja secara seenaknya karena selama melaksanakan praktikurn senantiasa diamati oleh guru.

Rabu, 24 Mei 2017

Kumpulan Judul Skripsi

Kumpulan Judul Sekripsi
 
Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)
merupakan suatu hal penting bagi para mahasiswa yang akan menyusun skripsi,  karena judul skripsi yang baik akan memudahkan bagi mahasiswa dalam menempuh tahap selanjutnya dalam menyusun skripsi. Judul skirpsi



Jdul skripsi yang saya berikan disini adalah judul skripsi yang sudah di acc kan oleh dosen wali, atau dengan kata lain judul skripsi disini merupakan judul yang sudah digunakan oleh orang lain dalam menyusun skripsinya. Judul skripsi pendidikan, nin pendidika, tekhnik, dan lain-lain juga tersedia disini


Anda bisa mencari judul skirpsi disini, mudahan judul skripsi yang saya berikan dapat memudahkan anda dalam menyusun skripsi anda. SELAMAT MENYUSUN SKRIPSI.

Contoh Skripsi Olahraga (FPOK)

Contoh Skripsi Olahraga (FPOK)

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)

Kali ini saya memberikan beberapa judul skripsi jurusan Olahraga atau biasanya disebut FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Pendidikan) yang saya ambil  dari beberapa skripsi yang sudah jadi. seblumnya saya juga sudah memebrikan judul skripsi keguruan yang lain seperi juduls skrip IPS, MATEMATIKA, BIOLOGI, PAI, KIMIA, dan yang lain-lainnya.


Berikut Judul Skripsi Jurusan Olahraga :
  • PENGARUH LATIHAN PUSH - UP TERHADAP PRESTASI LEMPAR CAKRAM PADA SISWA PUTRA KELAS VIII MTS
  • IDENTIFIKASI TINGKAT KETERAMPILAN BERMAIN SEPAK BOLA PADA SISWA PUTRA KELAS IX MTS
  • STUDI TENTANG HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN DAN PRESTASI SHOOTING PERMENIT DALAM PERMAINAN BOLA BASKET PADA SISWA PUTRA KELAS X SMA
  • STUDI PERBANDINGAN PRESTASI TOLAK PELURU ANTARA GAYA ORTODOK DENGAN GAYA O'BRIEN PADA  SISWA PUTRA KELAS VII SMP
  • STUDI DESKRIPSI TINGKAT KESEGARAN JASMANI ANTARA PUTRA DAN PUTRI PADA SISWA DAN SISWA SMP aadesanjaya.blogspot.com
  • HUBUNGAN ANTARA KELENTUKAN TUBUH DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PUTRA KELAS IX DI MTS
  • STUDI PERBANDINGAN ANTARA TEKNIK PUKULAN SMASH FOREHAND DAN TEKNIK PUKULAN SMASH BACKHAND TERHADAP KETEPATAN PUKULAN PADA PERMAINAN TENIS MEJA PADA SISWA KELAS VII DAN KELAS VIII MTS
  • PENGARUH LATIHAN PASSING ATAS DAN PANTULAN DINDING TERHADAP KETEPATAN PASSING ATAS DALAM PERMAINAN BOLA VOLLY
  • PENGARUH TINGGI BADAN TERHADAP PRESTASI RENANG GAYA BEBAS 50 M PADA SISWA KELAS XI  MA (MADRASAH ALIYAH) aadesanjaya.blogspot.com
  • IDENTIFIKASI TINGKAT KESERAGAMAN JASMANI SISWA PUTRI KELAS XI
  • PENGARUH LATIHAN NAIK TURUN BANGKU TERHADAP DAYA LEDAK OTOT TINGKAT PADA SISWA PUTRA KELAS VIII  MTS (MADRASAH TSANAWIYAH )
  • STUDI PERBANDINGAN TEPATAN MENENDANG BOLA KEARAH GAWANG DENGAN MENGGUNAKAN KAKI BAGIAN DALAM DAN KAKI BAGIAN LUAR PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP
  • HUBUNGAN LARI SPRINT 100 METER DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH PADA SISWA PUTRA KELAS XI SMA
  • KORELASI ANTARA LOMPATAN TERHADAP SMASH DALAM PERMAINAN BOLA VOLY PADA CLUB BOLA VOLY SISWA SMP
  • PENGARUH PANJANG LENGAN TERHADAP PRESTASI LEMPAR CAKRAM PADA SISWA KELAS XI SMA
  • KORELASI PERBANDINGAN ANTARA PUKULAN FOREHAND DAN BACHAND PERMAINAN TENIS MEJA PADA SISWA SMK
  • PENGARUH LATIHAN LARI SEGITIGA TERHADAP KETRAMPILAN MENGGIRING BOLA TERHADAP PEMAIN (tulis club pemain)
  • KORELASI ANTARA KEMAMPUAN ANGKAT BEBAN TERHADAP PRESTASI TOLAK PELURU PADA SISWA PUTRA KELAS VIII MTS
  • HUBUNGAN BERAT BADAN TERHADAP KELINCAHAN GERAK DALAM SENI BELA DIRI PENCAK SILAT PERISAI SIRI DI SMK aadesanjaya.blogspot.com
  • HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN HASIL LOMPAT TINGGI PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP
Semoga dengan adanya judul skripsi olahraga ini anda terbantu dalam proses pengajuan skripsi anda, atau judul skripsi disini bisa membantu anda juga dalam mencari beebrapa referinsi tentang judul skripsi olahraga

Judul Skripsi Olahraga dan Kepelatihan

 Judul Skripsi Olahraga dan Kepelatihan
Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)

Contoh Judul Skripsi Olahraga dan Kepelatihan

Kumpulan Judul Skripsi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi | Penjas | Pendidikan Kepelatihan – Skripsi adalah salah satu mata kuliah yang wajib diselesaikan oleh setiap mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan sarjana apapun fakultasnya, tidak terkecuali oleh fakultas keolahragaan. Nah berikut ini kami sediakan beberapa contoh judul skripsi olahraga yang mungkin memberikan inspirasi bagi anda.



KORELASIONAL
  • HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA
  • HUBUNGAN KELINCAHAN DENGAN KETRAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PERMAINAN SEPAKBOLA
  • HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTO LENGAN DENGAN KETEPATAN SMASH PADA PERMAINAN BOLA VOLI
  • HUBUNGAN ANTARA BERAT BADAN DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH
  • HUBUNGAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI DENGAN PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK
  • HUBUNGAN LARI CEPAT 100 METER DENGAN KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA PADA PERMAINAN SEPAKBOLA
  • HUBUNGAN ANTARA KECEPATAN LARI 50 METER DENGAN HASIL PRESTASI LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA
  • HUBUNGAN ANTARA KESEGARAN JASMANI DENGAN INTELEGENSI (KECERDASAN) PADA SISWA
  • HUBUNGAN KEKUATAN OTOT LENGAN DENGAN KEMAMPUAN TOLAK PELURU GAYA OBRIEN PADA SISWA
  • HUBUNGAN ANTARA LARI KELOK-KELOK (ZIG ZAG TWIN) DENGAN KETRAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PERMAINAN SEPAKBOLA
  • HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KESEGARAN JASMANI DENGAN HASIL PRESTASI BELAJAR PADA SISWA
  • HUB ANTARA TINGGI BADAN DENGAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA SISWA

PERBANDINGAN
  • PERBANDINGAN ANTARA LATIHAN BOX SKIP DENGAN LATIHAN SKIPPING TERHADAP KEMAMPUAN TEMBAKAN LAY UP DALAM PERMAINAN BOLA BASKET
  • PERBANDINGAN EFEKTIFITAS HASIL KETEPATAN SERVIS ANTARA TEKNIK SERVIS MENGAMBANG DI ATAS KEPALA DENGAN TEKNIK SERVIS MELINGKAR DALAM PERMAINAN BOLA VOLI
  • PERBANDINGAN LATIHAN SISTEM PIRAMIDA DENGAN PIRAMIDA TERBALIK TERHADAP HASIL ERGO 2000 METER

EKSPERIMEN
  • PENGARUH MENONTON SIARAN PERTANDINGAN SEPAKBOLA DI TELEVISI TERHADAP MOTIVASI BERPRESASI ATLET SEPAK BOLA JUNIOR DI SSB
  • PENGARUH LATIHAN SIMULASI (SIMULATION TRAINING) TERHADAP PENINGKATAN PERCAYA DIRI ATLET KUMITE PADA CABANG OLAHRAGA KARATE 
  • PENGARUH LATIHAN MENGGIRING BOLA DENGAN MATA TERTUTUP TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGIRING BOLA PADA PERMAINAN BOLA BASKET
  • PENGARUH LATIHAN SERVICE MENGGUNAKAN ALAT BANTU TALI DENGAN YANG TIDAK MENGGUNAKAN ALAT BANTU TALI TERHADAP KETERAMPILAN SERVICE PENDEK 
  • DAMPAK PENERAPAN PELATIHAN HARNESS TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN KECEPATAN (SPEED) 
  • DAMPAK LATIHAN DRIBBLE SLALOM DAN DRIBBLE BEBAS TERHADAP KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA
  • PENGARUH LATIHAN TOTAL (TOTAL TRAINING) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA PEMAIN FUTSAL
  • PENGARUH METODE PROGRESIF TERHADAP PENINGKATAN TEMBAKAN BEBAS PADA CABANG OLAHRAGA BOLA BASKET