- Mengkaji Silabus
Silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar untuk satu mata pelajaran tertentu yang diajarkan selama waktu satu semester atau satu tahun
Dalam Kurikulum 2013, secara umum untuk setiap materi pokok pada setiap silabus terdapat 4 KD sesuai dengan aspek KI (Sikap kepada Tuhan, sikap social, pengetahuan, dan keterampilan). Untuk mencapai 4 KD tersebut, di dalam silabus dirumuskan kegiatan peserta didik secara umum dalam pembelajaran berdasarkan standar proses.
- Mengidentifikasi Materi Pembelajaran
Materi Pelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran. Utamanya materi pelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi Pelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Ini mengisyaratkan bahwa, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya Kompetensi Inti dan kompetensi dasar, serta tercapainya indicator kompetensi yang diharapkan.
Ada beberapa jenis materi pelajaran yang dapat diklasifikasi sebagai berikut:
- Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya.
- Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya.
- Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat.
- Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem.
- Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja.
Materi-materi tersebut harus dikembangan dengan berpatokan pada prinsip-prinsip pengembangan materi. Dan prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pelajaran adalah: kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
- Relevansi yang artinya kesesuaian.
Materi Pelajaran hendaknya harus sesuai dengan pencapaian kompetensi inti dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka Materi Pelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain.
Sebagai contoh pelajaran Ekonomi kelas X semester 1: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah “Menjelaskan hukum permintaan dan hukum penawaran serta asumsi yang mendasarinya” maka pemilihan materi pelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang hukum permintaan dan penawaran” (materi konsep), bukan Menggambar kurva permintaan dan penawaran dari satu daftar transaksi (materi prosedur).
- Konsistensi artinya keajegan
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik dalam Matematika Kelas X semester 1 adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.
- Adequacy artinya kecukupan
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik dalam menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan KI dan KD).
Hal-hal penting lainnya dalam pengembangan Materi Pemlajaran yang harus diperhatikan dan diidientifikasi adalah:
- Kemampuan dan Potensi peserta didik
- Kesinergisan dan relevansi dengan karakteristik daerah
- Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik
- Kebermanfaatan bagi peserta didik
- Struktur keilmuan
- Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pelajaran
- Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan dan
- Alokasi waktu.
Dalam penyajiannya, materi pembelajaran haruslah berurutan sehingga bisa membantu untuk menentukan proses pembelajaran. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya. Misalnya, materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Peserta didik akan mengalami kesulitan mempelajari pengurangan jika materi penjumlahan belum dipelajari. Peserta didik akan mengalami kesulitan melakukan pembagian jika materi perkalian belum dipelajari.
Materi Pelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan hierarkis.
- Pendekatan prosedural.
Hal ini menggambarkan langkah-langkah layaknya melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah: dalam menelpon, dalam mengoperasikan peralatan kamera video, cara menginstalasi program computer, dan sebagainya.
Contoh urutan Prosedural (tatacara) pada mata pelajaran Biologi, peserta didik harus mencapai kompetensi dasar ” Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses sintesisprotein”. Agar peserta didik berhasil mencapainya, harus melakukan langkah-langkah berurutan mulai dari cara hubungan DNA-RNA-polipeptida, transkripsi dan replikasi DNA, urutan proses sintesis protein. Prosedur tersebut dapat disajikan dalam Materi Pelajaran sebagaimana dalam tabel di bawah ini :
- Pendekatan hierarkis
Urutan Materi Pelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
- Menentukan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran perlu dibuat guru apabila indikator mengandung tuntutan kerja yang belum operasional (tidak mudah diukur). Hal lain yang menentukan perlunya dibuat tujuan pembelajaran adalah jika materi dalam indikator terlalu luas. Selain itu ada kalanya dalam indikator terkandung tuntutan keterampilan yang lain.
Pada prinsipnya, tujuan pembelajaran (
instructional objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Atau bisa juga sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh peserta didik sesuai kompetensi.
Dalam bahasa yang sederhana,
tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam
proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.
Penyusunan tujuan pembelajaran merupakan tahapan penting dalam rangkaian pengembangan desain pembelajaran. Hal ini karena beberapa hal penting, diantaranya:
- Guru harus mengetahui tujuan pembelajarannya agar dapat melakukan pemilihan materi, metode, dan media. Tujuan itu akan mengarahkan guru dalam memilih materi, metode, dan media dan urutan kegiatan pembelajaran.
- Mengetahui tujuan pembelajarannya sendiri juga menjadikan guru memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga tujuan itu dapat dicapai.
- Sebagai misal, jika tujuan dari satu RPP fisika adalah “Dapat mengukur arus yang mengalir di dalam sebuah rangkaian sederhana dengan amperemeter,” lingkungan belajar itu harus meliputi sebuah amperemeter dan rangkaian sederhana.
- Alasan penting lain untuk menyatakan rumusan tujuan adalah membantu menjamin evaluasi yang benar. Guru tidak akan tahu apakah siswanya telah mencapai sebuah tujuan kecuali guru itu mutlak yakin apa tujuan yang hedak dicapai.
Secara teknis, tujuan pembelajarannya menegaskan hal berikut: “Tugas saya sebagai guru adalah menyediakan aktivitas pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan itu. Tanggungjawab kamu sebagai siswa adalah berpartisipasi dengan sungguh-sungguh dalam aktivitas pembelajaran itu.”
Tujuan pembelajaran dengan format ABCD
- Tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan baik mulai dengan menyebut Audience peserta didik untuk siapa tujuan itu dimaksudkan.
- Tujuan itu kemudian mencantumkan Behavior atau kemampuan yang harus didemonstarsikan dan Conditions seperti apa perilaku atau kemampuan yang akan diamati.
- Akhirnya, tujuan itu mencantumkan Degree keterampilan baru itu harus dicapai dan diukur, yaitu dengan standar seperti apa kemampuan itu dapat dinilai.
Audience adalah
- Premis utama pengajaran sistematik adalah fokus pada apa yang dilakukan siswa, bukan apa yang dilakukan guru.
- Pembelajaran paling mungkin terjadi bila siswa aktif, baik secara mental memproses ide-ide atau secara fisik berlatih keterampilan.
- Karena tercapainya tujuan bergantung kepada apa yang dilakukan siswa, maka tujuan pembelajaran mulai dengan menyatakan kemampuan siapa yang akan berubah, sebagai misal, “siswa kelas-sembilan” atau “peserta wokrkshop pembelajaran inovatif.”
Behavior adalah:
- Inti tujuan pembelajaran adalah kata kerja yang mendeskribsikan kemampuan baru yang akan dimiliki audience setelah pengajaran.
- Kata kerja ini dapat paling jelas mengarahkan perhatian guru jika kata kerja itu dinyatakan sebagai perilaku yang dapat diamati.
- Kata kerja yang kabur seperti mengetahui, memahami dan mengapresiasi tidak mengkomunikasikan tujuan guru dengan jelas.
- Kata-kata yang lebih baik menyatakan kinerja yang dapat diamati meliputi mendefinisikan, mengkategorikan, dan
- Behavior atau kinerja yang dinyatakan dalam tujuan seharusnya mencerminkan kemampuan dunia-nyata yang dibutuhkan oleh siswa, bukan kemampuan artifisial atau tidak nyata atau buatan semata-mata untuk berhasil dalam tes.
- Tabel pada slide berikut merupakan contoh-contoh kata kerja kinerja yang dapat diamati.
Condition adalah:
- Pernyataan tujuan seharusnya memasukkan kondisi-kondisi saat siswa melakukan kinerja yang dievaluasi.
- Sebagai misal, apakah siswa diijinkan untuk menggunakan catatan atau membuka buku saat mengidentifikasi variabel dalam sebuah hipotesis.
- Jika tujuan dari dari pelajaran tertentu adalah agar siswa dapat mengidentifikasi burung-burung, apakah identifikasi dilakukan dari sejumlah transparansi berwarna atau sejumlah foto hitam putih?
- Jadi sebuah tujuan dapat dinyatakan, “Diberikan sejumlah transparansi berwarna, siswa dapat mengidentifikasi burung-burung itu.”
- Atau contoh lain, “Tanpa membuka buku, siswa dapat menyebutkan Hukum Ohm.”
Degree adalah:
- Persyaratan terakhir tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan baik adalah rumusan itu menunjukkan standar, atau kriteria, yaitu kriteria yang digunakan untuk menilai kinerja siswa. Misalnya tingkat kecermatan atau ketuntasan seperti apa yang harus diperagakan siswa?
- Apakah kriteria itu dinyatakan dalam istilah kualitatif atau kuantitatif, kriteria itu seharusnya didasrkan pada persyaratan dunia nyata. Sebagai misal, “Siswa dapat meloncat melewati mistar setinggi 175 cm.” atau “Siswa dapat merencanakan eksperimen untuk menguji sebuah hipotesis sesuai rincian tugas kinerja yang ditentukan.”
Berikut ini kriteria dan contoh tujuan pembelajaran
- Minimal berpola A-B-C (Audience-Behavior-Content). Jika lengkap berpola A-B-C-C-D (Audience-Behavior-Content-Condition-Degree)
- Menggunakan kata kerja khusus (operasional atau mudah diukur)
- Ada 3 domain tujuan (kognitif, afektif, psikomotor)
Contoh tujuan pembelajaran:
- Siswa dapat menyebutkan contoh larutan elektrolit melalui percobaan minimal 2 contoh. (termasuk tujuan kognitif). Ini berpola A-B-C-C-D
- Siswa dapat menyebutkan pengertian hidrolisis (termasuk tujuan kognitif)
- Siswa aktif bertanya jawab tentang sifat-sifat koloid (termasuk tujuan afektif)
- Siswa terampil mendemonstrasikan percobaan titrasi asam basa (termasuk tujuan psikomotor)
- Siswa terampil membuat kesimpulan berdasarkan tanya-jawab tentang ciri-ciri setimbang dinamis (termasuk tujuan psikomotor)
Contoh 2,3,4,5 di atas berpola A-B-C.
- Mengembangkan Kegiatan pembelajaran
Langkah pembelajaran adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui dari setiap proses pembelajaran yang telah disusun dan dirancang. Langkah pembelajaran yang baik akan sangat berpengaruh pada tingkat penerimaan materi pada siswa.
Terdapat beberapa tahapan dari langkah pembelajaran, diantaranya adalah:
- Pendahuluan
Kalau dari kurikulum sebelumnya kita mengenal istilah pendahuluan ini dengan pembinaan keakraban. Pendahuluan ini bertujuan untuk mendekatkan guru kepada siswa-siwa dan untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara guru dan siswa dan antara siswa dengan siswa yang lainnya.
Tujuan lain dari pendahuluan ini adalah agar mengkondisikan para siswa supaya mereka siap melakukan kegiatan belajar antara siswa dan pendidik harus saling mengenal terlebih dahulu agar menumbuhkan keakraban antara keduanya. Hal ini sangat penting sebelum memasuki kegiatan inti.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pada tahap pendahuluan ini, diantaranya adalah:
- Diawal pertemuan pertama, guru memperkenalkan diri kepada peserta didik dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, pendidikan terakhir, dan tugas pokoknya disekolah.
- Peserta didik masing-masing memperkenalkan diri dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, serta mengapa mereka belajar disekolahan ini.
- Siswa bisa menceritakan atau mengabarkan keadaan mereka
- Pada tahap pembelajaran berikutnya guru cukup melakukan pengabsenan kehadiran siswa.
- Langkah selanjutnya, guru bisa mengulas garis besar pelajaran sebelumnya jika dibutuhkan. Kemudian Guru memberikan apersepsi terhadap materi yang akan diberikan. Hal ini berfungsi untuk membuka cakrawala pengetahuan siswa terhadapa materi yang akan diberikan.
- Pada tahap ini, guru boleh memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai materi yang akan diberikan.
- Guru menjalaskan mengenai KD yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut
- Siswa diminta mendengarkan guru mengenai cakupan materi dan proses yang akan dilalui pada pembelajaran saat itu.
Model langkah pendahuluan lainnya juga bisa dengan guru mengawali pembelajaran setelah melakukan pengabsenan dan berdoa dengan pre-test (tes awal). Pre-test ini dilakukan setelah membina keakraban. Hal ini berfungsi sebagai:
- Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pre-test maka pikiran mereka akan terfokus pada materi pelajaran nantinya.
- Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pre-tes dengan post-test.
- Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.
- Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai. Tujuan-tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.
Selain langkah pendahuluan di atas, langkah lainnya bisa juga dengan model berikut ini:
- Kegiatan yang mula-mula harus dilakukan oleh guru pada kegiatan pendahuluan di dalam sebuah proses pembelajaran adalah mempersiapkan siswa baik psikis maupun fisik agar dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
- Selanjutnya guru harus mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait materi pembelajaran baik materi yang telah siswa pelajari serta materi-materi yang akan mereka pelajari dalam proses pembelajaran tersebut.
- Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan, guru kemudian mengajak siswa untuk mencermati suatu permasalahan atau tugas yang akan dikerjakan sehingga dengan demikian mereka akan belajar tentang suatu materi, kemudian langsung dilanjutkan dengan menguraikan tentang tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut.
- Terkahir, dalam kegiatan pendahuluan guru harus memberikan outline cakupan materi serta penjelasan mengenai kegiatan belajar yang akan dilakukan oleh siswa untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas yang diberikan.
- Kegiatan Inti
Pada prinsipnya, kegiatan inti dalam proses pembelajaran adalah kegiatan agar tercapainya tujuan pembelajaran dengan baik. Maka dari itu, proses kegiatan inti ini bisa bermacam-macam, dan akan sangat baik dilakukan dengan cara-cara yang bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi agar semua bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa tersalurkan dengan baik.
Dalam kegiatan ini guru haruslah menyampaikan informasi tentang pembahasan materi standart, untuk membentuk kopetensi peserta didik serta melakukan tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi.
Peserta didik dibantu oleh guru sebagai fasilitator. Kegiatan ini perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Guru dituntut agar bisa beraktifitas dan berkreatifitas dalam menciptakan lingkungan yang konduktif. Maka dari itu, dibutuhkan strategi pembelajaran yang menarik dan inovatif agar proses belajar menjadi menyenangkan.
Pada tahapan ini, siswa juga bertangung jawab untuk mengembangkan kegiatan belajar yang telah disepakati dan ditetapkan bersama. Tehnik pelaksanaan kegiatan inti ini bisa dengan berbagai macam metode serta strategi yang telah dipersiapkan guru dalam rancangan pembelajaran atau RPP.
Metode yang digunakan dalam kegiatan inti harus bersesuaian dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Dan hal tersebut harus inti mencakup proses-proses berikut ini:
- Melakukan observasi
- Bertanya
- Mengumpulkan informasi
- Mengasosiasikan informasi-informasi yang telah diperoleh
- Mengkomunikasikan hasilnya.
Pada proses pembelajaran yang terkait dengan KD yang bersifat prosedur untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi siswa agar dapat melakukan pengamatan terhadap materi pembelajaran atau demonstrasi yang diberikan guru atau ahli, kemudian siswa menirukannya, selanjutnya guru melakukan pengecekan dan pemberian umpan balik.
Di tiap kegiatan pembelajaran seharunya guru memperhatikan kompetensi yang terkait dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain sebagaimana yang telah dicantumkan pada silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
Cara-cara yang dilakukan berkaitan dengan proses pengumpulan data (informasi) diusahakan sedemikian rupa sehingga relevan dengan jenis data yang sedang dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio, lapangan, perpustakaan, museum, dan lain-lain. Sebelum menggunakan informasi atau data yang telah dikumpulkan dan diperoleh siswa mesti tahu dan kemudian berlatih, lalu dilanjutkan dengan menerapkannya pada berbagai situasi.
Berikut ini merupakan contoh penerapan dari kelima tahap kegiatan ini pada proses pembelajaran:
- Melakukan observasi atau pengamatan
Dalam kegiatan ini, guru membuka materi secara luas dan bervariasi dan siswa melakukan pengamatan melalui kegiatan-kegitan seperti: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
- Bertanya
Pada kegiatan pengamatan, guru bisa membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk bertanya mengenai apapun yang telah mereka lihat, mereka simak, atau mereka baca. Penting bagi guru untuk memberikan bimbingan kepada siswa agar bisa mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud di sini berkaitan dengan pertanyaan dari hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak baik berupa fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan dapat pula yang bersifat faktual hingga pada pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Kegiatan bertanya ini dimaksudkan juga agar siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu mereka. Pada prinsipnya, semakin terlatih siswa untuk bertanya maka rasa ingin tahu mereka akan semakin berkembang.
Pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka ajukan akan dijadikan dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber-sumber belajar yang telah ditentukan oleh guru hingga mencari informasi ke sumber-sumber yang ditentukan oleh siswa sendiri, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.
- Mengumpulkan dan mengasosiasikan informasi
Kegiatan selanjutnya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari beragam sumber dengan berbagai macam cara. Dalam hal ini siswa boleh membaca buku yang lebih banyak, mengamati fenomena atau objek dengan lebih teliti, atau bisa juga melaksanakan eksperimen. Berdasarkan kegiatan-kegiatan inilah pada akhirnya akan dikumpulkan banyak informasi.
Informasi yang banyak ini selanjutnya akan dijadikan fondasi untuk kegiatan berikutnya yakni memproses informasi sehingga pada akhirnya siswa akan menemukan suatu keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
- Mengkonfirmasi hasil
Kegiatan terakhir dalam kegiatan inti yaitu membuat tulisan atau bercerita tentang apa-apa saja yang telah mereka temukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar siswa atau kelompok siswa tersebut.
Pemahaman lain dari kegiatan inti ini juga bisa ditempuh dalam pembentukan kopetensi sebagai mana yang telah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran, misalkan:
- Berdasarkan kompetensi dasar dan materi standart yang telah dituangkan dalam perencanaan pembelajaran (satuan pembelajaran) guru menjelaskan kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik.
- Guru menjelaskan materi standart secara logis dan sistematis, pokok bahasan dikemukakan dengan jelas. Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya sampai materi standar tersebut benar-benar dapat dikuasai.
- Membagikan materi standar atau sumber belajar kepada siswa dalam bentuk apa saja agar bisa dipelajari.
- Membagikan lembaran kegiatan untuk setiap siswa ketika dipelukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.
- Semua proses ini tergantung dengan metode atau strategi belajar yang dipergunakan. Dan masing-masing metode serta strategi pembelajaran yang ada, tentu memiliki karakteristik masing-masing.
- Dalam kegiatan ini ini haruslah ada proses mengamati, menanya, mencoba atau eksperimen atau eksplorasi serta mengumpulkan informasi, kemudian menalar atau mengasosiasi, setelah itu mengkomunikasikan seluruh informasi yang telah di dapat.
- Kegiatan akhir
Pada kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan siswa membuat rangkuman atau kesimpulan pelajaran, melakukan penilaian dan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan memberikan tugas, baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Langkah sederhana dan terstruktur pada kegiatan akhir atau penutup, diantaranya adalah:
- Bersama-sama siswa dan guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru diselesaikan
- Bersama- sama siswa dan guru mengidientifikasi manfaat materi yang dipelajari
- Secara bersama-sama juga siswa dan guru mengidientifikasi nilai-nilai positif yang diperoleh dari materi pembelajaran.
- Siswa mendengarkan umpan balik yang diberikan oleh guru atas proses dan hasil pembelajaran
- Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tugas mandiri tidak terstruktur (TMTT) yang harus dikerjakan
- Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi pelajaran pada pertemuan berikutnya.
Perlu diingat, bahwa KD-KD diorganisasikan ke dalam 4 (empat) KI (Kompetensi Inti).
- KI-1 berkaitan dengan sikap diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
- KI-2 berkaitan dengan karakter diri dan sikap sosial.
- KI-3 berisi KD tentang pengetahuan terhadap materi ajar
- KI-4 berisi KD tentang penyajian pengetahuan.
KI-1, KI-2, dan KI-4 harus dikembangkan dan ditumbuhkan melalui proses pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3, untuk semua mata pelajaran. KI-1 dan KI-2 tidak diajarkan langsung, tetapi menggunakan proses pembelajaran yang bersifat indirect teaching pada setiap kegiatan pembelajaran.
- Menentukan Model, Metode, Dan Strategi Pembelajaran
Model-Model Pembelajaran
Dalam Permendikbud no.65 tahun 2013 tentang Standar Poses, kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik dan/atau tematik terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri dan penyingkapan (discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan. Dalam implementasinya, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran, antara lain Discovery Learning, Project Based Learning, dan Problem Based Learning.