Minggu, 30 April 2017

Contoh Cara Pembuatan PTK dan PTS Lengkap

  Cara Pembuatan PTK dan PTS 

jasa pembuatan rpp SD SMP SMA

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)




Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.
Seiring tuntutan profesi dan kebutuhan sertifikasi guru serta tenaga kependidikan, Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah wajib dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas kinerja guru dan tenaga kependidikan. Namun, pekerjaan yang menumpuk dan waktu yang tidak fleksibel membuat guru tidak memiliki banyak waktu luang untuk membuat laporan tentang pembelejaran dan penelitian yang telah dilakukannya. Om Dompet hadir untuk membantu permasalahan Anda seputar pembuatan Laporan PTK/PTS.

Ketentuan:

  • Pastikan Anda sudah memilih judul PTK/PTS berikut ini
    Daftar Judul PTK KLIK DI SINI 
    Daftar Judul PTS KLIK DI SINI
  • Kirimkan data berupa (Nama Lengkap, NIP, Sekolah, Kelas yang diteliti, Jumlah Siswa, Nama Siswa, Nama Teman Sejawat dan NIP, Waktu Penelitian (Semester/Th. Pelajaran), Foto. Untuk Laporan PTS (Data Guru dan Karyawan, Profile Sekolah), Foto ( Pengiriman data ke email omdompet@gmail.com)
  • Pengerjaan selama 5 (hari) hari kerja (menyesuaikan antrian);
  • Biaya jasa dilunasi sebelum pengiriman project PTK/PTS.

Beberaa Jenis Perilaku yang menjadi objek penelitian tindakan kelas

Beberaa Jenis Perilaku yang menjadi objek penelitian tindakan kelas

jasa pembuatan rpp SD SMP SMA

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)




Beberapa jenis perilaku sasaran serta arah tujuan penelitian tindakan itu antara lain dapat dikemukakan sebagai.
1.       Unjuk kerja seseorang atau kelompok yang lamban dan tidak efisien. Dengan penilaian diri melalui penelitian tindakan, subjek penelitian di dorong untuk bekerja lebih cepat dan lebih efisien.
2.       Semangat kerja yang rendah karena unsur-unsur pribadi yang bersifat menusiawi tidak berfungsi secara memadai. Dalam kaitan ini, penelitian tindakan ditujukan untuk memberi motivasi kerja dengan menerapkan cara kerja yang lebih manusiawi dan melibatkan fungsi-fungsi pribadi secara optimal.
3.       Deksripsi tugas yang kurang jelas. Dalam hal ini penelitibersama-sama dengan subjek penelitian melakukan analisis pekerjaan, sehingga tugas-tugas pekerjaan menjadi lebih jelas dan lebih difahami, sehingga para pekerja mempunyai orientasi kerja yang jelas.
4.       Organisasi kerja yang tidak jelas atau sudah tidak layak diterapkan karena telah terjadi perkembangan tertentu. Dalam hal ini, penelitian tindakan diarahkan kepada penataan, perubahan atau perbaikan organisasi kerja.
5.       Sentuhan pembaharuan. Dalam hal ini, penelitian tindakan dimaksudkan untuk memperkenalkan pembaharuan atau inovasi tertentu yang diperkirakan dapat diterapkan dalam sistem kerja yang sedang berjalan untuk memperbaiki sistem kerja dan meningkatkan mutu pelaksanaan kerja.
6.       Perencanaan dan pengambilan keputusan. Dalam hal ini penelitian tindakan diarahkan kepada penelaahan unsur-unsur yang relevan dalam rangka menyusun suatu rencana kerja atau mengambil keputusan tertentu.
7.       Pemecahan masalah. Dalam hal ini, penelitian tindakan kelas diarahkan untuk memecahkan masalah dengan menelaah sebab-sebab terjadinya masalah yang dihadapi, faktor-faktor yang mungkin dimanfaatkan untuk memecahkan masalah itu, dan mencari cara-cara yang sesuai dan tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi itu.
8.       Penerapan prinsip-prinsip teoritis dalam tata kerja yang sedang berlangsung. Penelitian tindakan dilaksanakan dalam hubungan ini, apabila diperkirakan bahwa tata kerja yang sedang berjalan tidak terlalu memperhatikan prinsip-prinsip teoritis, yang apabila diperhatikan akan menambah efektivitas dan efisiensi dari tata kerja tersebut.

MENERIMA JASA PEMBUATAN PTK
phone: 0813-8906-4093 (sms only)
cdma : +622141346966 (phone only)

Type of target behavior that became the object of a class action research


Several types of behavioral goals and direction for action research, among others, can be expressed as.1. The performance of the person or group that slow and inefficient. With self-assessment through action research, research subjects are encouraged to work faster and more efficiently.2. Low morale because of personal elements that are not functioning adequately menusiawi. In this regard, action research is intended to motivate the work by adopting a more humane way of working and involving the private functions optimally.3. Job description is less clear. In this case penelitibersama together with the subject of research to analyze the work, so the job tasks become more clear and more understandable, so that workers have a clear work orientation.4. Organization of work that are not clear or is not feasible because there have been certain developments. In this case, action research is directed to the arrangement, alteration or repair work organization.5. Touch of updating. In this case, action research is intended to introduce certain reforms or innovations are expected to be implemented in a system of ongoing work to improve the work system and improve the quality of execution of work.6. Planning and decision making. In this case action research directed towards the review of relevant elements in order to formulate a work plan or take certain decisions.7. Solving problems. In this case, class action research directed to solving the problem by reviewing the causes of the problems encountered, the factors that may be utilized to solve the problem, and seek appropriate ways and appropriate means to solve the problems facing it.8. Application of theoretical principles in the work procedure is in progress. Action research conducted in this connection, if it is predicted that the current working arrangement is not too much attention to theoretical principles, which if considered would increase the effectiveness and efficiency of working procedures of these.

Manfaat Praktis Penelitian Tindakan Kelas


Banyak manfaat yang dapat diraih dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas. Manfaat itu antara lain dapat dilihat dan dikaji dalam beberapa komponen pendidikan atau pembelajaran di kelas dan kemanfaatan yang terkait dengan komponen pembelajaran antara lain mencakup : (1) inovasi pembelajaran; (2) pengembangan kurikulum di tingkat regional/ nasional; dan (3) peningkatan profesionalisme pendidikan.
1.       Manfaat dari Inovasi Pembelajaran
Ini berarti bahwa penelitian tindakan kelas dapat dipandang sebagai wahana pelaksanaan inovasi pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu selalu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan pendekatan, metode,atau gaya pembelajarannya agar ia mampu melahirkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik kelasnya.
Dengan cara seperti ini, inovasi pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi oleh guru ketika mereka mengajar di kelas, inovasi pembelajaran seperti ini akan jauh lebih efektif daripada dilakukan melalui model “penataran”. Alasannya ialah karena inovasi yang dilakukan lewat penataran tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual untuk memecahkan masalah pembelajaran dikelasnya.
   
2.       Manfaat bagi pengembangan kurikulum di tingkat sekolah atau kelas
Dalam kaitan ini penelitian tindakan kelas menjadi sangat bermanfaat karena hasil dari penelitian tindakan kelas akan dapat dijadikan salah satu masukan penting dalam pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan kelas.

3.       Manfaat bagi pengembangan profesi guru
Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh guru untuk memahami apa yang terjadi dalam kelas, dan kemudian meningkatkannya menuju arah perbaikan-perbaikan secara profesional. Dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas guru ditantang untuk memliki keterbukaan terhadap pengalaman dan proses pembelajaran yang baru. Pelaksanaan program-program baru oleh guru dalam kegiatan penelitian tindakan kelas dapat dipandang sebagai bentuk pendidikan bagi guru. Oleh karena itu, keterlibatan guru dalam penelitian tindakan kelas akan secara tidak langsung dapat meningkatkan professionalisme guru dalam proses pembelajaran.

MENERIMA JASA PEMBUATAN PTK
phone: 0813-8906-4093 (sms only)
cdma : +622141346966 (phone only)

Practical Benefits of Classroom Action Research


Many benefits can be achieved with the implementation of classroom action research. That among other benefits can be seen and studied in several components of education or learning in the classroom and the benefits associated with the learning component include the following: (1) learning innovation, (2) curriculum development at the regional / national, and (3) increased professionalism education.1. Benefits of Learning InnovationThis means that a class action research can be viewed as a vehicle for the implementation of learning innovation. In learning activities, teachers should always try to alter, develop, and improve the approach, method, or style of learning for learning model he was able to give birth in accordance with the characteristics of its class.In this way, learning innovation really depart from the reality of the problems faced by teachers when they teach in class, learning innovation like this would be far more effective than done through a model of "upgrading". The reason is because innovation is done through the upgrading is not rare departure from theories that are not appropriate to the needs of individual teachers to solve the problem of learning class.
    
2. Benefits for curriculum development in schools or classesIn this connection studies class action becomes very useful because the results of research will be class actions could be one important input in curriculum development in schools and classrooms.3. Benefits for teacher professional developmentClassroom action research is one medium that can be used by teachers to understand what happens in the classroom, and then increase it toward the direction of improvements in a professional manner. By conducting action research classroom teachers are challenged to possess openness to experience and new learning process. Implementation of new programs by teachers in classroom action research activities can be viewed as a form of education for teachers. Therefore, the involvement of teachers in classroom action research will indirectly increase the professionalism of teachers in the learning process.


Academic Benefits of Classroom Action Research

In the academic classroom action research useful to help teachers produce valid and relevant knowledge for their classes to improve pembalajaran in the short term. This is possible because adult education circles that opinion changed.
Becomes firmly psikolgi cognitive constructivist on the one hand, and the more dihayatinya rights and obligations of each party to participate in conducting remediation efforts, including improvements in education, the approach in the utilization of research to support practice change. The teacher is no longer considered just accept the renewal that has been thoroughly developed "on top". The teachers are expected to take responsibility for developing their own knowledge, for example, knowledge in the teaching-learning process. At the same time teachers remain on active duty as a teacher. As such, knowledge and skills they obtain truly relevant and because it would be very beneficial for the smooth execution of their daily duties.

MENERIMA JASA PEMBUATAN PTK
phone: 0813-8906-4093 (sms only)
cdma : +622141346966 (phone only)

Manfaat Akademik Penelitian Tindakan Kelas

Manfaat Akademik Penelitian Tindakan Kelas

Secara akademik penelitian tindakan kelas bermanfaat untuk membantu guru menghasilkan pengetahuan yang sahih dan relevan bagi kelas mereka untuk memperbaiki pembelajaran dalam jangka pendek. Hal ini dimungkinkan karena dewasa itu pendapat kalangan pendidikan berubah.
Dengan semakin mantapnya psikolgi kognitif yang konstruktivistik di satu pihak, serta semakin dihayatinya hak dan kewajiban setiap pihak untuk berperan serta dalam melakukan upaya-upaya perbaikan, termasuk upaya perbaikan di bidang pendidikan, maka pendekatan dalam pemanfatan penelitian untuk menunjang praksis juga berubah. Para guru tidak lagi dianggap sekedar menerima pembaharuan yang telah tuntas dikembangkan “di atas”. Para guru diharapkan ikut bertanggung jawab untuk mengembangkan sendiri pengetahuannya, misalnya, pengetahuan dalam proses belajar-mengajar. Pada saat yang bersamaan guru tetap aktif bertugas sebagai guru. Secara demikian, pengetahuan dan juga keterampilan yang mereka peroleh benar-benar relevan dan karena itu akan sangat bermanfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas mereka sehari-hari.    

Contoh Konsultan Karya Tulis Ilmiah orang bertanggung jawab penyebab orang disegani dan dihormati, Parenting, pegawai perusahaan, pejabat, Pelacur, pembangunan ekonomi harus dimulai dari desa, pembangunan ekonomi pro kemiskinan, pembuatan karya tulis ilmiah, pembuatan KTI, Penelitian tindakan Kelas, pengembangan sdm, pengembangan sdm model-modelnya, pengentasan kemiskinan, penulisan disertasi, perceraian fantastis perceraian selingkuh statistik regresi, peredaran miras di serahkan ke daerah, perselingkuhan, pertanian produk pertanian impor produk pangan likaliku pertanian, PNS, PTK, sdm birokrasi, sdm di birokrasi publik, skripsi, strategi penanggulangan kemiskinan, strategi pengelolaan sdm, strategi sdm strategi pengembangan sdm sdm berbasis kompetensi dan visi, Tak Berkategori, tanggung jawab pegawai, tesis, tugas pegawai, Tulisan ilmiah, visi organisasi misi organisasi dan ber-tag disertasi, editor, ghost writer, Ghost Writer (Biografi dan otobiografi, Jasa olah data statistik, jasa penulisan, jurnal ilmiah, Karya Tulis Ilmiah, konsultan buku ajar dan buku penunjang pelajaran, konsultan buku pelajaran, konsultan buku populer, konsultan disertasi, konsultan guru, konsultan karya ilmiah, konsultan olah data, konsultan penelitian, konsultan Penelitian TIndakan Kelas, Konsultan skripsi, Konsultan skripsi. konsultan tesis, konsultan tesis, KTI, naskah buku, olah data eviews, olah data statistik, Parenting, pembuatan artikel, pembuatan disertasi, pembuatan makalah, Pembuatan skripsi, pembuatan skripsi murah, pembuatan tesis, pembuatan tesis original, Penulisan Disertasi, Penulisan Skripsi, Penulisan Tesis, skripsi berkualitas, skripsi orisinil, Statistic Service Consulting, tesis pada 16 Mei 2016. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN RPP

Contoh Konsultan Karya Tulis Ilmiah

jasa pembuatan rpp SD SMP SMA

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)




Judul di atas pasti pernah didengar oleh pembaca, pembaca yang sudah bekerja di perkantoran atau dunia bisnis pasti juga sering mengucapkan kata-kata “profesionalisme”. Namun penulis ingin mereview kembali akan makna profesionalisme yang mungkin masih banyak orang yang belum paham. Tulisan ini merupakan ringkasan dari berbagai referensi yang ada terkait profesionalisme.
Profesionalisme dalam suatu pekerjaan atau profesi telah lama mendapatkan perhatian dari para ilmuwan dan praktisi. Bahkan Burns dan Haga (1977) memberikan perhatian khusus dalam mengkaji berbagai hal mengenai profesionalisme. Seseorang yang mempunyai tingkat profesionalitas yang tinggi akan tercermin dari kinerjanya. Kinerja berkaitan erat dengan tujuan sebagai suatu hasil perilaku seseorang yang mempunyai profesi. Kinerja disini dapat diartikan bahwa dalam menjalankan pekerjaan sangat mengutamakan kualitas hasil kerja tanpa cacat, berusaha maksimal untuk memuaskan konsumen atau klien yang dihadapi, empati terhadap konsumen, mampu memahami konsumen dan berkomunikasi dengan gaya bahasa yang menyenangkan kedua belah pihak, serta mampu memenuhi harapan konsumen.
Profesionalisme secara umum dapat dikatakan sebagai tanggung jawab individu untuk berperilaku yang lebih baik dari sekedar mematuhi undang-undang dan peraturan masyarakat yang ada. Profesionalisme merupakan elemen dari motivasi yang memberikan sumbangan pada seseorang agar mempunyai kinerja tugas yang tinggi (Ifada dan Ja’far, 2005). Profesionalisme juga merupakan suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. Sedangkan yang dimaksud dengan profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya.
Menurut Sumardi (2001), penggunaan istilah profesionalisme menunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai profesional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai sebuah profesi. Seseorang yang mempunyai tingkat profesionalitas tinggi harus melakukan pembelajaran secara teratur dan sistematik, mencakup teori, ketrampilan dan metode untuk kemudian menjaga prestasi dan perilaku kerjanya dengan standar yang tinggi. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi dicirikan dengan: (1) Mengetahui dan menyadari akan kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki, (2) Meluangkan seluruh waktunya pada profesi yang ditekuninya, (3) Segala pemerolehan finansial bersumber dari profesinya, (4) Memiliki tingkat kebanggaan yang tinggi akan profesinya, (5) Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaku profesi harus meletakan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat, (6) Memiliki kaidah dan standar moral yang tinggi dalam menjalankan profesi, (7) Memiliki izin khusus untuk menjalankan profesi, khususnya bagi profesi-profesi tertentu yang sifatnya resmi dan memerlukan pengetahuan dan kompetensi yang tidak terdapat pada profesi lainnya, misalnya dokter umum atau dokter spesialis, (8) Mampu mengenali dengan jelas hakekat profesi yang dimiliki dengan profesi lain, (9) Memiliki organisasi profesi yang kuat, (10) Setiap profesi memiliki klien (konsumen) yang jelas. Klien disini bermakna sebagai pihak pemakai jasa profesi. Misalnya dokter mempunyai klien seorang pasien yang menderita sakit.
Brooks (1995) menyatakan bahwa profesi berbeda dengan profesionalisme, namun keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai sebuah kesatuan. Profesi adalah sebutan atau jabatan dimana orang yang menyandangnya mempunyai pengetahuan khusus yang diperoleh melalui pelatihan atau pengalaman lain, atau bahkan diperoleh dari kedua-duanya, memberikan jasa dengan mengutamakan mutu pelayanan berdasarkan ilmu yang dimilikinya dan memerlukan kebebasan dalam menjalankan profesi, dan oleh karenanya harus ada kode etik profesi. Armstrong (1991) menyatakan kriteria profesi sebagai berikut:
  1. Skills based on theoretical knowledge; the provision of training and education,
  2. A test of competence of members administered by a professional body,
  3. A formal professional organization which has the power to regulate entry to the profession,
  4. A professional code of conduct.
Konsep profesionalisme yang berkembang selama ini secara rinci dikemukakan oleh Hall (1968), Morrow dan Goetz (1988). Profesionalisme disini adalah profesional pada level individual. Menurut Morrow dan Goetz (1988), profesionalisme mengandung lima elemen: (1) pengabdian pada profesi (dedication) yang tercermin dalam dedikasi profesional melalui penggunaan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Sikap ini adalah ekspresi dari pencerahan diri secara total terhadap pekerjaaan. Pekerjaan didefinisikan sebagai tujuan bukan sekedar alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan totalitas adalah merupakan komitmen pribadi sehingga kompensasi utama yang diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasan rohani dan kepuasan material, (2) kewajiban sosial (social obligation) yaitu pandangan tentang pentingnya peran profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun profesionalisme itu sendiri, karena adanya pekerjaan tersebut, (3) kemandirian (autonomy demands) yaitu suatu pandangan bahwa seorang profesionalisme harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain, (4) keyakinan terhadapperaturan profesi (belief in self-regulation), yaitu suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi bukan pihak luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaannya, dan (5) hubungan dengan sesama profesi (profesional community affiliation), yaitu penggunaan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk organisasi formal dan kelompok–kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan ini. Melalui ikatan profesi ini, profesional membangun kesadaran profesinya.
Dari penjelasan di atas, tentunya kita yang sudah bekerja atau menjalankan bisnis akan bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya memiliki profesionalisme dalam bekerja??? Dalam konteks orang yang sudah bekerja di kantor, apapun kantornya seperti di BUMN, PNS, Karyawan Swasta, profesionalisme dicirikan dalam bentuk kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik, tanpa cacat, mampu memberikan hasil output maksimal yang diharapkan kantornya. Dengan kata lain orang tersebut mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap kantornya. Apabila pekerjaan yang bersangkutan terkait dengan bagian-bagian lain di dalam kantor, individu yang bersangkutan mampu untuk berinteraksi dengan baik dan tidak menjatuhkan satu sama lain hanya untuk kepentingan sesaat. Memang yang namanya profesionalisme juga identik atau terkait dengan karakteristik sifat individu tersebut. Namun yang ditekankan adalah bahwa orang yang memiliki profesionalisme juga memiliki cara pandang dan sikap hidup positif dengan orang-orang disekitarnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah pribadi yang menjalankan pekerjaan dengan profesional jangan menyimpang dari standar aturan kantor dan tidak melanggar aturan kantor. Di dalam dunia perkantoran, profesionalisme juga dicirikan oleh cara pandang yang tidak ingin menang sendiri, tidak merasa dirinya paling benar, dan mampu membantu rekan kerja dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Bagaimana implementasi profesionalisme dalam berbisnis?? Dalam konteks berbisnis, seseorang dinyatakan profesional apabila mampu menjalankan roda aktifitas bisnis dengan lancar, dan terus berkembang. Visi perusahaan atau visi bisnisnya selaras dengan misinya, dan terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Hubungan-hubungan dengan relasi bisnis juga dijaga dengan baik, dan saling menguntungkan. Penggunaan anggaran biaya untuk menopang aktivitas bisnis juga tidak boleh memberatkan perusahaan. Apabila perusahaan meminjam uang di bank dalam bentuk hutang, hendaknya hutang tersebut dapat dikelola dengan baik untuk membesarkan perusahaan. Aktifitas bisnis perusahaan juga harus ada target finansial yang jelas setiap bulannya agar dapat memberi angsuran kredit pada bank. Yang tidak kalah pentingnya hutang tersebut mampu untuk membawa perusahaan lebih baik lagi, memiliki cabang di tempat lain, dan memiliki perluasan bisnis (diversifikasi usaha).
Referensi
Armstrong, Michael, (1991), Personel Management Parctice, Fourth Edition, Kogan Page Limited : London England.
Brooks, Leonard, J., (1995), Professional Ethics For Accountants, West Publishing Company : New York.
Burns, D, Haga, W., (1977), Much A Do About Professionalism : A Second Look At Accounting, The Accounting Review (July) P. 705-715.
Hall, R, (1968), Profesionalization and Bureaucratation, American Sosiological Review 33 P. 92-104.
Ifada dan M. Ja’far., (2005), Pengaruh Sikap Profesionalisme Internal Auditor terhadap Peranan Internal Auditor dalam Pengungkapan Temuan Audit.Jurnal Bisnis, Manajemen dan Ekonomi. Vol.7 No. 3
Morrow, P.C, J.F., Goetz, (1988), Professionalism As Form Of Work Commitment, Journal Of Vacational Behaviour 32 : P.92-111.
Sumardi, (2001), Pengaruh Pengalaman Terhadap Profesionalisme Serta Pengaruh Profesionalisme Terhadap Kinerja dan Kepuasan Kerja, Tesis Undip Tidak Dipublikasikan.      
 catatan:
Bila Anda membutuhkan bantuan untuk konsultasi penulisan karya ilmiah, bisa hubungi 081227526557 atau pin 5895CF2A. Untuk cetak buku dengan kualitas komersial bisa kami tangani dengan biaya terjangkau.


MENGENAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS


  1. Urgensi PTK
Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan untuk  mengatasi permasalahan-permasalahan di dalam kelas. Penelitian tindakan kelas dapat dijadikan sarana bagi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara efektif. Penelitian tindakan kelas juga merupakan kebutuhan bagi guru dalam meningkatkan profesionalitasnya sebagai guru, karena (Sukanti, 2008):
  1. Penelitian tindakan kelas sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran dikelasnya. Guru menjadi reflektif dan kritis terhadap apa yang guru dan siswa lakukan.
  2. Peneltian tindakan kelas meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai praktisi yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan tanpa adanya upaya perbaikan dan inovasi namun dia bisa menempatkan dirinya sebagai peneliti dibidangnya.
  3. Guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu pengkajian yang terdalam terhadap apa yang terjadi dikelasnya.
  4. Penelitian tindakan kelas tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena tidak perlu meninggalkan kelasnya.

Mengingat pentingnya penelitian tindakan kelas tersebut diatas, guru hendaknya mulai melakukan dan meningkatkan penelitiannya baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk mendorong dan memfasilitasi guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas, pemerintah secara rutin menyediakan dana block grant untuk penulisan karya ilmiah melalui penelitian tindakan kelas.

  1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Terdapat beberapa pengertian atau definisi dari penelitian tinda kan kelas yaitu antara lain:
  1. Menurut Amat Jaedun (2008), penelitian tindakan kelas PTK adalah salah satu jenis penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dikelasnya (metode, pendekatan, penggunaan media, teknik evaluasi dsb).
  2. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilaksanakan berdasarkan permasalahan yang dijumpai guru dalam kegiatan pembelajaran (Sukanti, 2008).
  3. Penelitian tindakan kelas adalah suatu kegiatan penelitian yang berkonteks kelas yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru dalam pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran. Penelitian tindakan kelas dapat dilakukan secara individu maupun kolaboratif (Ani W, 2008)
  4. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian kasus disuatu kelas, hasilnya berlaku spesifik sehingga tidak untuk digeneralisasikan ke kelas atau ketempat yang lain dan analisis datanya cukup dengan mendeskripsikan data yang terkumpul (Paidi, 2008)

Dari pengertian-pengertian penelitian tindakan kelas tersebut diatas, dapat diambil suatu pemahaman bahwa penelitan tindakan kelas merupakan penelitian yang bersifat kasuistik dan berkonteks pada kondisi, keadaan dan situasi yang ada didalam kelas yang dilaksanakan untuk memecahka permasalahan-permasalahan yang terjadi guna meningkatkan kualitas pembelajaran didalam kelas.

  1. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas secara umum dilaksanakan untuk memecahkan pemasalahan-permasalahan yang terjadi didalam kelas sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Disamping itu penelitian tindakan kelas dapat menumbuhkan sikap mandiri dan kritis guru terhadap situasi dan keadan didalam kelas yang diajarnya.
Adapun tujuan lain dari penelitian tindakan kelas menurut Sukanti (2008) dan Ani W (2008) yaitu:
  1. Memperbaiki mutu dan praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
  2. Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
  3. Mengidentifikasi, menemukan solusi dan mengatasi masalah pembelajaran dikelas agar pembelajaran bermutu.
  4. Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
  5. Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya pendekatan, strategi, metode, media pembelajaran).
  6. Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
  7. Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum dan asumsi.

  1. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Penelitin tindakan kelas berdampak pada tumbuhnya budaya meneliti pada guru sehingga wawasan dan pengetahuan yang berasal dari pengalaman dalam penelitiannya semakin meningkat. Bahkan pengalaman yang diperoleh guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas memungkinkan guru untuk menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan. Manfaat lain dari penelitian tindakan kelas menurut Ani W (2008) dan Sukanti (2008) adalah sebagai berikut
  1. Menghasilkan laporan-laporan penelitian tindakan kelas yang dapat dijadikan panduan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil penelitian tindakan kelas yan dilaporkan dapat menjadi artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentinngan antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat dijurnal ilmiah.
  2. Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya dan tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah dikalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung profesionalisme dan karir guru.
  3. Mampu mewujudkan kerjasama, kolaborasi, dan sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
  4. Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks local, sekolah dan kelas.
  5. Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan dan kesenanngan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswapun dapat ditingkatkan.
  6. Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh

Kontak kami jika Anda ingin membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di

Contact  Telp/ WA : 0812-2752-6557 / 857-9708-4080

Pin BBm: 5895CF2A




  1. Mengkaji Silabus
Silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar untuk satu mata pelajaran tertentu yang diajarkan selama waktu satu semester atau satu tahun
Dalam Kurikulum 2013, secara umum untuk setiap materi pokok pada setiap silabus terdapat 4 KD sesuai dengan aspek KI (Sikap kepada Tuhan, sikap social, pengetahuan, dan keterampilan). Untuk mencapai 4 KD tersebut, di dalam silabus dirumuskan kegiatan peserta didik secara umum dalam pembelajaran berdasarkan standar proses.

  1. Mengidentifikasi Materi Pembelajaran
Materi Pelajaran pada hakekatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran. Utamanya materi pelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Materi Pelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Ini mengisyaratkan bahwa, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya Kompetensi Inti dan kompetensi dasar, serta tercapainya indicator kompetensi yang diharapkan.
Ada beberapa jenis materi pelajaran yang dapat diklasifikasi sebagai berikut:
  1. Fakta yaitu segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya.
  2. Konsep yaitu segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya.
  3. Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat.
  4. Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem.
  5. Sikap atau Nilai merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya  nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar dan bekerja.

Materi-materi tersebut harus dikembangan dengan berpatokan pada prinsip-prinsip pengembangan materi. Dan prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pelajaran adalah:  kesesuaian (relevansi), keajegan (konsistensi), dan kecukupan (adequacy).
  1. Relevansi yang artinya kesesuaian.
Materi Pelajaran hendaknya harus sesuai dengan pencapaian kompetensi inti dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka Materi Pelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain.
Sebagai contoh pelajaran Ekonomi kelas X semester 1: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah “Menjelaskan hukum permintaan dan hukum penawaran serta asumsi yang mendasarinya”  maka pemilihan materi pelajaran yang disampaikan seharusnya ”Referensi tentang hukum permintaan dan penawaran” (materi konsep), bukan  Menggambar kurva permintaan dan penawaran dari satu daftar transaksi (materi prosedur).
  1. Konsistensi artinya keajegan
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik dalam Matematika Kelas X semester 1 adalah Operasi Aljabar bilangan bentuk yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan merasionalkan pecahan bentuk akar.
  1. Adequacy artinya kecukupan
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik dalam menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum (pencapaian keseluruhan KI dan KD).

Hal-hal penting lainnya dalam pengembangan Materi Pemlajaran yang harus diperhatikan dan diidientifikasi adalah:
  1. Kemampuan dan Potensi peserta didik
  2. Kesinergisan dan relevansi dengan karakteristik daerah
  3. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik
  4. Kebermanfaatan bagi peserta didik
  5. Struktur keilmuan
  6. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pelajaran
  7. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan dan
  8. Alokasi waktu.

Dalam penyajiannya, materi pembelajaran haruslah berurutan sehingga bisa membantu untuk menentukan proses pembelajaran. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya. Misalnya,  materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Peserta didik akan mengalami kesulitan mempelajari pengurangan jika materi penjumlahan belum dipelajari. Peserta didik akan mengalami kesulitan melakukan pembagian jika materi perkalian belum dipelajari.
Materi Pelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan prosedural dan hierarkis.
  1. Pendekatan prosedural.
Hal ini menggambarkan langkah-langkah layaknya melaksanakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah: dalam menelpon, dalam mengoperasikan peralatan  kamera video, cara menginstalasi program computer, dan sebagainya.
Contoh urutan Prosedural  (tatacara) pada mata pelajaran Biologi, peserta didik harus mencapai kompetensi dasar ” Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses sintesisprotein”.  Agar peserta didik berhasil mencapainya, harus melakukan langkah-langkah berurutan mulai dari cara hubungan DNA-RNA-polipeptida, transkripsi dan replikasi DNA, urutan proses sintesis protein. Prosedur tersebut dapat disajikan dalam Materi Pelajaran sebagaimana dalam tabel di bawah ini :
  1. Pendekatan hierarkis
Urutan Materi Pelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.

  1. Menentukan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran perlu dibuat guru apabila indikator mengandung tuntutan kerja yang belum operasional (tidak mudah diukur). Hal lain yang  menentukan perlunya dibuat tujuan pembelajaran adalah jika materi dalam indikator terlalu luas. Selain itu ada kalanya dalam indikator terkandung tuntutan keterampilan yang lain.
Pada prinsipnya, tujuan pembelajaran (instructional objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Atau bisa juga sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh  peserta didik sesuai kompetensi.
Dalam bahasa yang sederhana, tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.
Penyusunan tujuan pembelajaran merupakan tahapan penting dalam rangkaian pengembangan desain pembelajaran. Hal ini karena beberapa hal penting, diantaranya:
  1. Guru harus mengetahui tujuan pembelajarannya agar dapat melakukan pemilihan materi, metode, dan media. Tujuan itu akan mengarahkan guru dalam memilih materi, metode, dan media dan urutan kegiatan pembelajaran.
  2. Mengetahui tujuan pembelajarannya sendiri juga menjadikan guru memiliki komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga tujuan itu dapat dicapai.
  3. Sebagai misal, jika tujuan dari satu RPP fisika adalah “Dapat mengukur arus yang mengalir di dalam sebuah rangkaian sederhana dengan amperemeter,” lingkungan belajar itu harus meliputi sebuah amperemeter dan rangkaian sederhana.
  4. Alasan penting lain untuk menyatakan rumusan tujuan adalah membantu menjamin evaluasi yang benar. Guru tidak akan tahu apakah siswanya telah mencapai sebuah tujuan kecuali guru itu mutlak yakin apa tujuan yang hedak dicapai.

Secara teknis, tujuan pembelajarannya menegaskan hal berikut: “Tugas saya sebagai guru adalah menyediakan aktivitas pembelajaran yang cocok untuk pencapaian tujuan itu. Tanggungjawab kamu sebagai siswa adalah berpartisipasi dengan sungguh-sungguh dalam aktivitas pembelajaran itu.”

Tujuan pembelajaran dengan format ABCD
  1. Tujuan pembelajaran yang dinyatakan dengan baik mulai dengan menyebut Audience peserta didik untuk siapa tujuan itu dimaksudkan.
  2. Tujuan itu kemudian mencantumkan Behavior atau kemampuan yang harus didemonstarsikan dan Conditions seperti apa perilaku atau kemampuan yang akan diamati.
  3. Akhirnya, tujuan itu mencantumkan Degree keterampilan baru itu harus dicapai dan diukur, yaitu dengan standar seperti apa kemampuan itu dapat dinilai.

Audience adalah
  1. Premis utama pengajaran sistematik adalah fokus pada apa yang dilakukan siswa, bukan apa yang dilakukan guru.
  2. Pembelajaran paling mungkin terjadi bila siswa aktif, baik secara mental memproses ide-ide atau secara fisik berlatih keterampilan.
  3. Karena tercapainya tujuan bergantung kepada apa yang dilakukan siswa, maka tujuan pembelajaran mulai dengan menyatakan kemampuan siapa yang akan berubah, sebagai misal, “siswa kelas-sembilan” atau “peserta wokrkshop pembelajaran inovatif.”

Behavior adalah:
  1. Inti tujuan pembelajaran adalah kata kerja yang mendeskribsikan kemampuan baru yang akan dimiliki audience setelah pengajaran.
  2. Kata kerja ini dapat paling jelas mengarahkan perhatian guru jika kata kerja itu dinyatakan sebagai perilaku yang dapat diamati.
  3. Kata kerja yang kabur seperti mengetahui, memahami dan mengapresiasi tidak mengkomunikasikan tujuan guru dengan jelas.
  4. Kata-kata yang lebih baik menyatakan kinerja yang dapat diamati meliputi mendefinisikan, mengkategorikan, dan
  5. Behavior atau kinerja yang dinyatakan dalam tujuan seharusnya mencerminkan kemampuan dunia-nyata yang dibutuhkan oleh siswa, bukan kemampuan artifisial atau tidak nyata atau buatan semata-mata untuk berhasil dalam tes.
  6. Tabel pada slide berikut merupakan contoh-contoh kata kerja kinerja yang dapat diamati.

Condition adalah:
  1. Pernyataan tujuan seharusnya memasukkan kondisi-kondisi saat siswa melakukan kinerja yang dievaluasi.
  2. Sebagai misal, apakah siswa diijinkan untuk menggunakan catatan atau membuka buku saat mengidentifikasi variabel dalam sebuah hipotesis.
  3. Jika tujuan dari dari pelajaran tertentu adalah agar siswa dapat mengidentifikasi burung-burung, apakah identifikasi dilakukan dari  sejumlah transparansi berwarna atau  sejumlah foto hitam putih?
  4. Jadi sebuah tujuan dapat dinyatakan, “Diberikan sejumlah transparansi berwarna, siswa dapat mengidentifikasi burung-burung itu.”
  5. Atau contoh lain, “Tanpa membuka buku, siswa dapat menyebutkan Hukum Ohm.”

Degree adalah:
  1. Persyaratan terakhir tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan baik adalah rumusan itu menunjukkan standar, atau kriteriayaitu kriteria yang digunakan untuk menilai kinerja siswa. Misalnya tingkat kecermatan atau ketuntasan seperti apa yang harus diperagakan siswa?
  2. Apakah kriteria itu dinyatakan dalam istilah kualitatif atau kuantitatif, kriteria itu seharusnya didasrkan pada persyaratan dunia nyata. Sebagai misal, “Siswa dapat meloncat  melewati mistar setinggi 175 cm.” atau “Siswa dapat merencanakan eksperimen untuk menguji sebuah hipotesis sesuai rincian tugas kinerja yang ditentukan.”

Berikut ini kriteria dan contoh tujuan pembelajaran
  1. Minimal berpola A-B-C (Audience-Behavior-Content). Jika lengkap berpola A-B-C-C-D (Audience-Behavior-Content-Condition-Degree)
  2. Menggunakan kata kerja khusus (operasional atau mudah diukur)
  3. Ada 3 domain tujuan (kognitif, afektif, psikomotor)

Contoh tujuan pembelajaran:
  1. Siswa dapat menyebutkan contoh larutan elektrolit melalui percobaan minimal 2 contoh. (termasuk tujuan kognitif). Ini berpola A-B-C-C-D
  2. Siswa dapat menyebutkan pengertian hidrolisis (termasuk tujuan kognitif)
  3. Siswa aktif bertanya jawab tentang sifat-sifat koloid (termasuk tujuan afektif)
  4. Siswa terampil mendemonstrasikan percobaan titrasi asam basa (termasuk tujuan psikomotor)
  5. Siswa terampil membuat kesimpulan berdasarkan tanya-jawab tentang ciri-ciri setimbang dinamis (termasuk tujuan psikomotor)
Contoh 2,3,4,5 di atas berpola A-B-C.

  1. Mengembangkan Kegiatan pembelajaran
Langkah pembelajaran adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui dari setiap proses pembelajaran yang telah disusun dan dirancang. Langkah pembelajaran yang baik akan sangat berpengaruh pada tingkat penerimaan materi pada siswa.
Terdapat beberapa tahapan dari langkah pembelajaran, diantaranya adalah:
  1. Pendahuluan
Kalau dari kurikulum sebelumnya kita mengenal istilah pendahuluan ini dengan pembinaan keakraban. Pendahuluan ini bertujuan untuk mendekatkan guru kepada siswa-siwa dan untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara guru dan siswa dan antara siswa dengan siswa yang lainnya.
Tujuan lain dari pendahuluan ini adalah agar mengkondisikan para siswa supaya mereka siap melakukan kegiatan belajar antara siswa dan pendidik harus saling mengenal terlebih dahulu agar menumbuhkan keakraban antara keduanya. Hal ini sangat penting sebelum memasuki kegiatan inti.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pada tahap pendahuluan ini, diantaranya adalah:
  1. Diawal pertemuan pertama, guru memperkenalkan diri kepada peserta didik dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, pendidikan terakhir, dan tugas pokoknya disekolah.
  2. Peserta didik masing-masing memperkenalkan diri dengan memberi salam, menyebut nama, alamat, dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, serta mengapa mereka belajar disekolahan ini.
  3. Siswa bisa menceritakan atau mengabarkan keadaan mereka
  4. Pada tahap pembelajaran berikutnya guru cukup melakukan pengabsenan kehadiran siswa.
  5. Langkah selanjutnya, guru bisa mengulas garis besar pelajaran sebelumnya jika dibutuhkan. Kemudian Guru memberikan apersepsi terhadap materi yang akan diberikan. Hal ini berfungsi untuk membuka cakrawala pengetahuan siswa terhadapa materi yang akan diberikan.
  6. Pada tahap ini, guru boleh memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai materi yang akan diberikan.
  7. Guru menjalaskan mengenai KD yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut
  8. Siswa diminta mendengarkan guru mengenai cakupan materi dan proses yang akan dilalui pada pembelajaran saat itu.

Model langkah pendahuluan lainnya juga bisa dengan guru mengawali pembelajaran setelah melakukan pengabsenan dan berdoa dengan pre-test (tes awal). Pre-test ini dilakukan setelah membina keakraban. Hal ini berfungsi sebagai:
  1. Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pre-test maka pikiran mereka akan terfokus pada materi pelajaran nantinya.
  2. Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pre-tes dengan post-test.
  3. Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.
  4. Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai. Tujuan-tujuan mana yang telah dikuasai peserta didik dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.

Selain langkah pendahuluan di atas, langkah lainnya bisa juga dengan model berikut ini:
  1. Kegiatan yang mula-mula harus dilakukan oleh guru pada kegiatan pendahuluan di dalam sebuah proses pembelajaran adalah mempersiapkan siswa baik psikis maupun fisik agar dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
  2. Selanjutnya guru harus mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan terkait materi pembelajaran baik materi yang telah siswa pelajari serta materi-materi yang akan mereka pelajari dalam proses pembelajaran tersebut.
  3. Setelah memberikan pertanyaan-pertanyaan, guru kemudian mengajak siswa untuk mencermati suatu permasalahan atau tugas yang akan dikerjakan sehingga dengan demikian mereka akan belajar tentang suatu materi, kemudian langsung dilanjutkan dengan menguraikan tentang tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai pada pembelajaran tersebut.
  4. Terkahir, dalam kegiatan pendahuluan guru harus memberikan outline cakupan materi serta penjelasan mengenai kegiatan belajar yang akan dilakukan oleh siswa untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas yang diberikan.

  1. Kegiatan Inti
Pada prinsipnya, kegiatan inti dalam proses pembelajaran adalah kegiatan agar tercapainya tujuan pembelajaran dengan baik. Maka dari itu, proses kegiatan inti ini bisa bermacam-macam, dan akan sangat baik dilakukan dengan cara-cara yang bersifat interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi agar semua bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis siswa tersalurkan dengan baik.
Dalam kegiatan ini guru haruslah menyampaikan informasi tentang pembahasan materi standart, untuk membentuk kopetensi peserta didik serta melakukan tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi.
Peserta didik dibantu oleh guru sebagai fasilitator. Kegiatan ini perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Guru dituntut agar bisa beraktifitas dan berkreatifitas dalam menciptakan lingkungan yang konduktif. Maka dari itu, dibutuhkan strategi pembelajaran yang menarik dan inovatif agar proses belajar menjadi menyenangkan.
Pada tahapan ini, siswa juga bertangung jawab untuk mengembangkan kegiatan belajar yang telah disepakati dan ditetapkan bersama. Tehnik pelaksanaan kegiatan inti ini bisa dengan berbagai macam metode serta strategi yang telah dipersiapkan guru dalam rancangan pembelajaran atau RPP.
Metode yang digunakan dalam kegiatan inti harus bersesuaian dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Dan hal tersebut harus inti mencakup proses-proses berikut ini:
  1. Melakukan observasi
  2. Bertanya
  3. Mengumpulkan informasi
  4. Mengasosiasikan informasi-informasi yang telah diperoleh
  5. Mengkomunikasikan hasilnya.
Pada proses pembelajaran yang terkait dengan KD yang bersifat prosedur untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi siswa agar dapat melakukan pengamatan terhadap materi pembelajaran atau demonstrasi yang diberikan guru atau ahli, kemudian siswa menirukannya, selanjutnya guru melakukan pengecekan dan pemberian umpan balik.
Di tiap kegiatan pembelajaran seharunya guru memperhatikan kompetensi yang terkait dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain sebagaimana yang telah dicantumkan pada silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
Cara-cara yang dilakukan berkaitan dengan proses pengumpulan data (informasi) diusahakan sedemikian rupa sehingga relevan dengan jenis data yang sedang dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio, lapangan, perpustakaan, museum, dan lain-lain. Sebelum menggunakan informasi atau data yang telah dikumpulkan dan diperoleh siswa mesti tahu dan kemudian berlatih, lalu dilanjutkan dengan menerapkannya pada berbagai situasi.
Berikut ini merupakan contoh penerapan dari kelima tahap kegiatan ini pada proses pembelajaran:
  1. Melakukan observasi atau pengamatan
Dalam kegiatan ini, guru membuka materi secara luas dan bervariasi dan siswa melakukan pengamatan melalui kegiatan-kegitan seperti: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
  1. Bertanya
Pada kegiatan pengamatan, guru bisa membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk bertanya mengenai apapun yang telah mereka lihat, mereka simak, atau mereka baca. Penting bagi guru untuk memberikan bimbingan kepada siswa agar bisa mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang dimaksud di sini berkaitan dengan pertanyaan dari hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak baik berupa fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan dapat pula yang bersifat faktual hingga pada pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Kegiatan bertanya ini dimaksudkan juga agar siswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu mereka. Pada prinsipnya, semakin terlatih siswa untuk bertanya maka rasa ingin tahu mereka akan semakin berkembang.
Pertanyaan-pertanyaan yang telah mereka ajukan akan dijadikan dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber-sumber belajar yang telah ditentukan oleh guru hingga mencari informasi ke sumber-sumber yang ditentukan oleh siswa sendiri, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.
  1. Mengumpulkan dan mengasosiasikan informasi
Kegiatan selanjutnya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari beragam sumber dengan berbagai macam cara. Dalam hal ini siswa boleh membaca buku yang lebih banyak, mengamati fenomena atau objek dengan lebih teliti, atau bisa juga melaksanakan eksperimen. Berdasarkan kegiatan-kegiatan inilah pada akhirnya akan dikumpulkan banyak informasi.
Informasi yang banyak ini selanjutnya akan dijadikan fondasi untuk kegiatan berikutnya yakni memproses informasi sehingga pada akhirnya siswa akan menemukan suatu keterkaitan antara satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.
  1. Mengkonfirmasi hasil
Kegiatan terakhir dalam kegiatan inti yaitu membuat tulisan atau bercerita tentang apa-apa saja yang telah mereka temukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar siswa atau kelompok siswa tersebut.

Pemahaman lain dari kegiatan inti ini juga bisa ditempuh dalam pembentukan kopetensi sebagai mana yang telah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran, misalkan:
  1. Berdasarkan kompetensi dasar dan materi standart yang telah dituangkan dalam perencanaan pembelajaran (satuan pembelajaran) guru menjelaskan kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik.
  2. Guru menjelaskan materi standart secara logis dan sistematis, pokok bahasan dikemukakan dengan jelas. Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya sampai materi standar tersebut benar-benar dapat dikuasai.
  3. Membagikan materi standar atau sumber belajar kepada siswa dalam bentuk apa saja agar bisa dipelajari.
  4. Membagikan lembaran kegiatan untuk setiap siswa ketika dipelukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa.
  5. Semua proses ini tergantung dengan metode atau strategi belajar yang dipergunakan. Dan masing-masing metode serta strategi pembelajaran yang ada, tentu memiliki karakteristik masing-masing.
  6. Dalam kegiatan ini ini haruslah ada proses mengamati, menanya, mencoba atau eksperimen atau eksplorasi serta mengumpulkan informasi, kemudian menalar atau mengasosiasi, setelah itu mengkomunikasikan seluruh informasi yang telah di dapat.

  1. Kegiatan akhir
Pada kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan siswa membuat rangkuman atau kesimpulan pelajaran, melakukan penilaian dan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan memberikan tugas, baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Langkah sederhana dan terstruktur pada kegiatan akhir atau penutup, diantaranya adalah:
  1. Bersama-sama siswa dan guru menyimpulkan materi pembelajaran yang baru diselesaikan
  2. Bersama- sama siswa dan guru mengidientifikasi manfaat materi yang dipelajari
  3. Secara bersama-sama juga siswa dan guru mengidientifikasi nilai-nilai positif yang diperoleh dari materi pembelajaran.
  4. Siswa mendengarkan umpan balik yang diberikan oleh guru atas proses dan hasil pembelajaran
  5. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tugas mandiri tidak terstruktur (TMTT) yang harus dikerjakan
  6. Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi pelajaran pada pertemuan berikutnya.
Perlu diingat, bahwa KD-KD diorganisasikan ke dalam 4 (empat) KI (Kompetensi Inti).
  1. KI-1 berkaitan dengan sikap diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. KI-2 berkaitan dengan karakter diri dan sikap sosial.
  3. KI-3 berisi KD tentang pengetahuan terhadap materi ajar
  4. KI-4 berisi KD tentang penyajian pengetahuan.
KI-1, KI-2, dan KI-4 harus dikembangkan dan ditumbuhkan melalui proses pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3, untuk semua mata pelajaran. KI-1 dan KI-2 tidak diajarkan langsung, tetapi menggunakan proses pembelajaran yang bersifat indirect teaching pada setiap kegiatan pembelajaran.

  1. Menentukan Model, Metode, Dan Strategi Pembelajaran
Model-Model Pembelajaran
Dalam Permendikbud no.65 tahun 2013 tentang Standar Poses, kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik dan/atau tematik terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri dan penyingkapan (discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan. Dalam implementasinya, guru dapat menerapkan berbagai model pembelajaran, antara lain Discovery Learning, Project Based Learning, dan Problem Based Learning.

HAKIKAT RPP MENURUT KURIKULUM 2013


Dalam dunia pendidikan, istilah RPP sudah tidak asing lagi, bahkan RPP adalah sebuah kewajiban yang harus dibuat oleh setiap guru yang mengampu mata pelajaran. RPP adalah singkatan dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dalam pedoman umum pembelajaran Kurikulum 2013 disebutkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan. RPP dikembangkan berdasarkan silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar .
Adapun manfaat menyusun RPP adalah:
  1. Sebagai panduan dan arahan proses pembelajaran
  2. Untuk memprediksi keberhasilan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran
  3. Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi
  4. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal
  5. Untuk mengorganisir kegiatan pembelajaran secara sistematis

Perencanaan proses pembelajaran ini meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara mandiri atau secara bersama-sama melalui musyawarah guru MATA pelajaran (MGMP) di dalam suatu sekolah tertentu semestinya harus difasilitasi dan disupervisi kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah.
Dalam pedoman umum pembelajaran untuk penerapan Kurikulum 2013 disebutkan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus.
RPP itu sendiri mencakup: 1. Data sekolah, mata pelajaran, dan kelas/ semester; 2. Materi pokok, 3. Alokasi waktu, 4. Tujuan pembelajaran, 5. KD dan indikator pencapaian kompetensi, 5. Materi pembelajaran; metode pembelajaran; 6. Media, alat dan sumber belajar, 7. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran; dan 8. Penilaian.
RPP adalah salah satu tugas professional guru, dan semua guru di setiap sekolah harus menyusun RPP untuk mata pelajaran kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas dan guru mata pelajaran). Guru kelas adalah sebutan untuk guru yang mengajar kelas-kelas pada tingkat tertentu di Sekolah Dasar (SD). Sedangkan guru mata pelajaran adalah guru yang mengampu mata pelajaran tertentu pada kenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK.
Pengembangan RPP dianjurkan dan disusun di setiap awal semester atau awal tahun pelajaran. Hal ini bertujuan agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan proses penyusunan atau pembuatan atau pengembangan RPP dapat dilakukan secara mandiri atau secara berkelompok di MGMP .
Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara mandiri atau secara bersama-sama melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Di dalam suatu sekolah tertentu semestinya harus difasilitasi dan disupervisi kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah. Pengembangan RPP melalui MGMP antarsekolah atau antarwilayah dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan.

SURAT PENAWARAN KERJASAMA PENELITIAN TERKAIT CSR (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)

 Salam hormat kami
 Kami Lembaga Konsultan KTI (Karya Tulis Ilmiah) merupakan Konsultan Jasa di bidang penelitian, berbagai pelatihan-pelatihan dan pengembangan kepenulisan yang memeiliki kewenangan otonom pada penetapan area atau obyek pelaksanaan serta cakupan lingkup kerjasama penelitian dan pengembangan pendekatan ilmiah (scientific method). Lembaga ini memilki kemandirian dan independensi dalam berbagai macam kegiatannya khususnya penelitian lapangan yang mengarah pada azas kemanfaatan bagi masyarakat, ilmu pengetahuan bangsa dan juga kampanye budaya menulis.
 Lembaga Konsultan KTI (Karya Tulis Ilmiah) memiliki 3 Divisi, anatara lain:
·        Divisi Konsultasi Ilmiah
·        Divisi Kepenulisan (Training / Writing School)
·        Divisi Penelitian (library research / field research).
 Berdasarkan komunikasi yang telah kita lakukan, kami dari Lembaga Konsutan KTI mencoba memberikan gambaran biaya untuk penelitian yang telah dikomunikasikan kepada kami.
Pada prinsipnya, biaya penelitian terdiri dari beberapa komponen, diantranya biaya penulisan, honorarium, dan akomodasi. Khusus untuk semua biaya akomodasi sangat tergantung pada lokasi yang akan dituju, tema apa yang akan diangkat dan seberapa sulit tingkat analisis data yang akan dilakukan.
Berikut kami lampirkan komponen biaya penelitian perhari dan perorang yang akan dilaksanakan:
No
Anggaran Rencana Penelitian
1
Persiapan / Koordinasi (TOR/Proposal )
1
Paket
 2.500.000
Penelitian Lapangan
0
Belanja perjalanan
0
2
Tim Peneliti
0
Penelitian Lapangan (Kaltim)
0
    –     Uang harian  [1 TIM x 2ORG x 7 HR]
14
OH
500,000
  7,000,000
    –     Transport  [1 TIM x 2 ORG x 1 PP]
2
OT
4,000,000
  8,000,000
    –     Hotel  [1 TIM x 2 ORG x 6 HR]
12
OT
500,000
  6,000,000
    –     Transport Lokal [1 TIM x 2 ORG x 6 HR]
12
OT
500,000
  6,000,000
3
Penulisan Laporan
± 150
HLM
200.000
 30.000.000
4
Penulisan Naskah Publikasi
± 25
HLM
150.000
 3.750.000
5
Honorarium penunjang peneliti/perekayasaan
    –     Peneliti [2 ORG x 3 BLN]
6
OB
    1000,000
6,000,000
    –    Asisten Peneliti [1 ORG x 3 BLN]
3
OB
    600,000
1,800,000
5
Diseminasi jika diperlukan (biaya tergantung lokasi diseminasi)
1
PKT
 0
 0
Total
71.0 50.000
 Demikian Proposal penawaran ini kami ajukan. Untuk hal-hal yan berkaitan dengan segala kebutuhan penelitian lainnya bisa kita diskusikan bersama-sama.
 Terima kasih banyak
 Yogyakarta, 5 Februari 2016
Direktur,
Aulia Fadhli, SHI_)
NB: ini adalah contoh surat kerja sama yang pernah kami buat
untuk harga sangat bisa dikompromikan, selama saling meringankan satu sama lainnya.

APA PENYEBAB SESEORANG DISEGANI DAN DIHORMATI??

APA PENYEBAB SESEORANG DISEGANI DAN DIHORMATI??
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Manusia hidup dan diciptakan oleh Tuhan (Alloh SWT) tidak mungkin tanpa keinginan untuk bersosialisasi. Artinya kebutuhan bersosialisasi merupakan kebutuhan penting pada setiap orang. Dengan kondisi jaman yang semakin kompleks ini, rasanya bersosialisasi juga perlu dilakukan dalam rangka mempererat persahabatan dengan orang lain, dalam rangka mendapatkan masukan atau saran dan dalam rangka perwujudan interaksi sosial di masyarakat. Dalam konteks bersosialisasi di masyarakat sering kita melihat bahwa ada orang yang sangat dihormati dan disegani oleh kebanyakan orang, namun ada juga orang yang di cuekin atau tidak digubris alias tidak dihormati oleh orang lain. Fenomena ini sangat sering terjadi dan tidak jarang menimbulkan sebuah diskriminasi pada orang-orang yang tidak dihormati tersebut. Dalam pandangan penulis pasti ada penyebab mengapa sesorang itu disegani atau dihormati dan mengapa seseorang juga tidak dihormati. Berdasarkan pengalaman hidup penulis merantau bersama kedua orang tua penulis yang dahulu masih hidup, terdapat banyak faktor mengapa seseorang itu dihormati, disegani dan dihargai. Penjelasan selengkapnya sebagai berikut:
1. Karena kejujuran
Kejujuran menjadi hal penting dalam bergaul dan berinteraksi dimasyarakat. Kejujuran disini juga bukan dalam bentuk “ceplas-ceplos” yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Untuk mendapatkan orang yang jujur saat ini rasanya sangat sulit, dikarenakan banyak faktor kepentingan yang menyebabkan orang itu tidak jujur. Banyak juga pandangan bahwa yang namanya jujur pasti “hancur”. Dengan kata lain banyak sekali mind-set yang berkembang di masyarakat khususnya kalangan muda bahwa kejujuran adalah “momok” dan cenderung dianggap tidak baik. Kebanyakan kalangan muda Indonesia selalu menggunakan kata yang bersifat “basa-basi” yang justru dapat menimbulkan multi interpretasi.
Orang yang mampu bersikap jujur tentunya akan berupaya tampil apa adanya tapi juga tetap dengan menggunakan etika bermasyarakat. Orang jujur tentunya tidak akan gampang mengumbar janji atau perkataan, melainkan cenderung banyak berpikir dan mencerna serta memikirkan matang-matang segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan. Betapa banyak pelajar kita yang melakukan pergaulan bebas suka-sama suka dengan pasangan pacarnya, tetapi ketika sudah putus justru malah menutup-nutupi dirinya sendiri dimata orang lain dengan mengatakan hal yang sama bahwa ia juga tidak menyukai pergaulan bebas, padahal ia sudah pernah melakukannya. Ini adalah sebuah fenomena nyata yang terjadi di Indonesia dan kita tidak bisa menutup mata.
Betapa banyak pejabat negara yang berteriak dengan mengatakan saya berjuang atas nama rakyat, padahal pejabat yang bersangkutan sendiri korupsi dan memakan uang rakyat. Betapa banyak juga pejabat negara yang sudah ditangkap dan dipenjarakan oleh KPK tapi masih bisa sekali mengumbar senyum dihadapan media seolah-olah tanpa ada rasa bersalah. 
Dari contoh di atas sebenarnya masih banyak contoh-contoh lainnya yang menggambarkan ketidakjujuran. Betapa langkanya orang yang memiliki sikap jujur di jaman sekarang.
Bagi penulis, kejujuran itu adalah sebuah hal penting dan bahkan harus. Jika seseorang itu mau dipercaya tentunya juga harus jujur dengan orang lain dan jangan bermuka dua atau bermuka sepuluh sebagaimana istilah jawa “doso muko”. Kalau pun banyak orang yang tidak menyukai sikap jujur, pasti terdapat juga banyak orang yang menyukai kejujuran. Dalam konteks dunia kerja betapa banyak orang jujur selalu dibenci oleh rekan kerja, dan bahkan tidak jarang juga dijadikan kambing hitam oleh oknum-oknum rekan kerja yang memiliki kepentingan dengan mengedepankan sikut-sikutan. Harus diingat juga bahwa terdapat malaikat dan Tuhan yang selalu melihat dan mengetahui segala aktivitas kita, dan nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di pengadilan Tuhan. Kalau pun orang yang tidak jujur tersebut selamat di dunia, dapat dipastikan dia akan berat menghadapi siksa kubur, apalagi di akhirat kelak. Ini ajaran islam yang selalu penulis yakini. Dan penulis selalu berusaha untuk tetap menjadi orang yang jujur meskipun banyak sekali lika-liku kehidupan yang harus dihadapi.
2. Karena kesabaran
Orang yang sabar biasanya tabah menghadapi cobaan atau ujian dari Tuhan. Harus diakui bahwa yang namanya ujian atau cobaan sangat banyak ragamnya dan tidak terhitung bentuknya. Orang yang sabar biasanya cenderung bisa mengambil hikmah atas segala sesuatu yang dia alami dan berupaya tetap berpikir bahwa Tuhan pasti punya maksud mengapa ia menghadapi atau mengalami cobaan itu. Memang susah menjadi orang sabar, karena membutuhkan banyak sekali persyaratan. Dan untuk ukuran dunia jaman sekarang dan detik ini, seseorang itu akan sabar apabila ia memiliki harta yang melimpah. Hal ini menandakan bahwa bentuk kesabaran di dalam masyarakat cenderung “Pamrih”. Betapa banyak orang yang menjalankan aktivitas di dunia ini cenderung mengedepankan sikap “Instan” atau secepat-cepatnya tapa memikirkan dampaknya kemudian hari. Betapa banyak orang yang ingin sukses dengan memiliki kekayaan yang besar dengan cara korupsi dan mencuri. Dan sikap-sikap ini justru menimbulkan musibah atau malapetaka yang tidak dia sadari. Orang yang sabar secara islam biasanya selalu senantiasa mengingat Tuhan dimanapun ia berada, baik dikala bekerja, berkendara, dikala tidur, dikala duduk, dan lain sebagainya. Artinya bahwa orang yang sabar selalu memiliki jiwa penyabar dan tidak “Grusa-Grusu”.
Orang yang sabar biasanya identik dengan bijaksana, artinya ia akan berpikir secara dalam dan cermat dalam melihat dan melakukan segala sesuatunya. Jika ada orang yang tidak memiliki kebijaksanaan dapat dipastiakan ia memiliki sikap yang tidak sabar itu. Contohnya adalah orang yang terlalu gampang memvonis bahwa ia paling benar, orang yang terlalu gampang memvonis orang lain “jelek”, orang yang terlalu gampang mengikuti arus dan gaya hidup di lapangan, orang yang terlalu gampang untuk kawin cerai, menikah lagi pun ternyata cerai juga, orang yang terlalu gampang menuduh orang itu lugu dan sebagainya. Orang-orang yang cenderung gampang mevonis orang sebagaimana contoh di atas dapat dipastikan ia tidak sabar, sebab ia tidak bisa dan tidak mampu melihat secara mendalam dan meneliti terlebih dahulu akan urgensi dan persoalan yang dihadapi orang lain. Penulis menyadari bahwa fenomena di lapangan sangat banyak sekali hal-hal seperti ini. Oleh karena itu penulis mengajak kita semua dan termasuk penulis sendiri agar memiliki sikap sabar dalam menjalani hidup dan segala sesuatunya. Bagi penulis orang yang jujur dan sabar pasti dicintai oleh Tuhan.
3. Karena mampu menyelesaikan persoalan
Hidup di dunia ini pasti dan pasti memiliki peroalan yang sudah tentu berbeda satu sama lainnya. Betapa banyak orang dijaman sekarang yang bisanya hanya mengkritik tanpa memberi contoh dan teladan. Contohnya betapa banyak komunitas-komunitas di group sosial media yang komentar sana-sini tanpa melihat dan melakukan introspeksi bahwa dia sudah benar apa belum. Orang yang mampu menyelesaikan persoalan biasanya mempunyai pengetahuan mendalam dan kearifan serta kebijaksanaan dalam menghadapi segala sesuatunya. Orang yang memiliki pengetahuan mendalam ini tidak harus berpendidikan tinggi, bisa jadi dikarenakan kedewasaan berpikir dan pengalaman hidup. Bisa jadi juga ia merupakan orang yang diberikan kelebihan tersendiri yang dapat membantu persoalan orang lain dengan baik.
4. Karena kekayaannya
Orang yang memiliki kekayaan besar juga dapat dipastikan akan dihormati dan disegani oleh orang lain, asalkan dengan kekayaan besar yang dimiliki digunakan untuk membantu banyak orang, membantu orang miskin, membantu kaum dhuafa, membantu anak yatim piatu, dan membantu anak-anak yang tidak bisa bersekolah. Apabila ada orang kaya yang seperti ini penulis bisa pastikan ia akan dihormati dan disegani oleh orang lain. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa ia melakukan itu semua dengan ikhlas dan dalam rangka mengharap ridho dan pahala dari Tuhan atau Alloh SWT, dan bukan karena ingin mendapatkan pujian atau kehormatan dunia semata.
5. Karena ilmu pengetahuan yang dimiliki
Dalam konteks ini banyak sekali orang yang memiliki pendidikan tinggi hingga jenjang pasca sarjana selalu membagi ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan menulis tulisan-tulisan seperti artikel yang dapat memberikan wawasan dan pencerahan kepada semua orang. Penulis sebagai warga Nahdiyin pernah dinasehati oleh seorang ulama dan anak-anak pondok pesantren agar selalu membagi dan menyebarluaskan ilmu yang penulis miliki agar orang lain itu menjadi tahu, paham, pintar, dan cerdas dan bisa keluar dari kebodohan. Untuk itulah penulis tetap akan selalu menulis artikel yang bermanfaat dan mudah untuk dipahami dan tidak menggunakan bahasa yang ilmiah-ilmiah. Masyarakat di lapangan butuh yang realistis-realistis saja dan bermanfaat bagi kehidupan mereka. Belajar juga dari pengalaman kedua orang tua penulis yang sudah almarhum, kedua orang tua penulis selalu mengingatkan bahwa hidup harus selalu bermanfaat untuk orang lain sebanyak-banyaknya dan syukur-syukur mampu mengeluarkan orang lain dari kesusahan. Memang tidak semua orang bisa mengeluarkan orang lain dari kesusahan, dan umumnya hanya bisa membantu seperlunya. Tapi bagi penulis hal itu masih lebih baik dari pada tidak peduli dengan kondisi masyarakat.
6. Karena mampu mengemban amanah dengan baik
Orang yang mampu mengemban amanah baik itu di kantor, di bidang bisnis maupun dalam organisasi masyarakat dapat dipastikan akan disegani dan dihormati orang lain. Sebab ia selalu berupaya memberikan yang terbaik sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki. Ia berusaha tidak memanfaatkan amanah jabatan yang dimiliki hanya untuk kepentingan sesaat yang bersifat negatif. Namun harus diketahui juga bahwa dalam proses pengembanan amanah tersebut bisa dimungkinkan banyak orang yang tidak suka atas amanah yang diberikan pada orang yang bersangkutan. Dengan kata lain pasti akan terjadi konflik yang menyebabkan posisi orang yang mengemban amanah tersebut menjadi goyang dan bisa dicap jelek oleh orang lain. Padahal orang yang mengemban amanah tersebut sudah berjuang mati-matian dan maksimal. Nah ini yang sering terjadi di lapangan.
Ada juga orang-orang yang telah berjuang dalam menyelesaikan persoalan, ternyata persoalan atau pekerjaan yang dibebankan jauh dari harapan karena banyak faktor-faktor tidak terduga dan di luar perkiraan sebelumnya. Nah ini pentingnya kearifan dan pengertian dari orang lain yang melihatnya agar jangan gampang memvonis bahwa orang tersebut tidak amanah.
Amanah adalah sesuatu hal yang berat atau bisa dikatakan sangat berat. Penulis ingin mengambil kisah dari ajaran islam yang penulis anut. Al-Quran adalah kitab suci yang disampaikan secara wahyu yang berproses dan berkelanjutan dari Tuhan (Alloh SWT) kepada Nabi Muhammad melalui perantara sang panglima malaikat yaitu Jibril. Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa apabila Al-Quran di bebankan pada sebuah gunung maka gunung itu akan hancur lebur tidak bersisa karena tidak sanggup mengemban amanah. Malaikat-malaikat pun sempat bertanya kepada Tuhan mengapa menciptakan manusia yang bisa berbuat kerusakan di muka bumi. Dan pertanyaan itu dijawab langsung oleh Tuhan bahwa “Aku Lebih Tahu Dari Kalian Wahai Malaikat”. Inilah percakapan antara Tuhan dengan malaikat-malaikatnya. Inti dari kisah ini adalah bahwa Tuhan memang mempunyai pandangan yang lebih tahu dari kita semua. Dan Tuhan mengetahui bahwa sebenarnya manusia mampu mengemban amanah dengan baik apabila disadari, dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan penuh pertimbangan. Kalau pun manusia itu tidak bisa mengemban amanah dengan baik, adalah suatu hal yang bersifat manusiawi karena berbagai faktor yang terkait di luar perkiraan tadi. Orang yang menyadari pentingnya amanah dapat dikatakan juga sebagai orang yang bertanggung jawab.
7. Karena peduli dengan kondisi umat yang tidak seagama
Saat ini kita sudah mendengar bahwa sekitar 3,5 juta pengungsi irak dan suriah melakukan pengungsian dari negara mereka ke negara-negara eropa seperti inggris, perancis, jerman, italia, dan bahkan ke arab saudi. 3,5 juta warga ini merupakan umat muslim semuanya yang takut dengan konflik perang di negara mereka. Kita sudah tahu semua bahwa telah terjadi pertempuran besar antara ISIS dengan negara-negara sekutu. ISIS sebagai kelompok pasukan yang mengatasnamakan islam melakukan banyak sekali kejahatan kemanusiaan, kawin paksa, pembunuhan secara keji dan biadab, pemerkosaan, perampasan hak-hak rakyat dan sebagainya. Dan anehnya ISIS ini selalu mengatasnamakan ajaran islam, seolah-olah itu dibenarkan oleh islam. Hal-hal inilah yang membuat negara-negara maju menjadi berang dan bersatu semuanya untuk menumpas ISIS.
Sebenarnya semua umat muslim di negara manapun juga berang dan geram dengan aksi ISIS tersebut. Mereka ini secara terang-terangan pernah menantang TNI-POLRI dan Pasukan Khusus NU yaitu BANSER dan organisasi sayap tempur NU lainnya seperti Densus-Densus Milik NU. Penulis berani mengatakan ini karena penulis memiliki VIDEO Langsung Tantangan ISIS tersebut. Pembaca mau melihatnya?? Sangat jelas bagi penulis bahwa ini memang kehendak dan keinginan ISIS tersebut yang mengatasnamakan ISLAM. Apakah NU bukan islam?? NU sebagai ormas islam terbanyak dan terbesar di Indonesia dan dunia adalah 100% islam semua. Bagaimana pembaca melihatnya?? Pembaca yang cerdas-cerdas dan berilmu pengetahuan mumpuni pasti bisa menilai sendiri dengan proporsional dan benar. Banyak juga pandangan bahwa ISIS dibentuk oleh Amerika. Apapun informasi yang beredar, bagi penulis sudah jelas terbukti bahwa 3,5 juta pengungsi tersebut memang takut dan tidak mau jadi korban konflik peperangan. Dengan kata lain karena perang yang terjadi dengan ISIS itulah mereka-mereka ini mengungsi. Mereka-mereka ini adalah umat muslim yang mengungsi dan mencari pertolongan, mereka-mereka ini adalah saudara kita sesama muslim, dan ternyata semua negara eropa yang penulis sebutkan tadi di atas menerima semua pengungsi tadi.
Bagi penulis pribadi, negara-negara eropa tersebut sudah menunjukan kepedulian yang luar biasa besar karena mau menerima pengungsi yang jumlahnya sangat besar itu. Penulis juga menghaturkan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada pemerintahan negara maju di eropa untuk mau menerima para pengungsi. Salut dan hormat penulis haturkan kepada pemerintahan negara yang bersangkutan.
8. Karena mau mengakui kesalahan
Berani mengakui kesalahan adalah sebagai hal jantan bagi penulis. Sangat jarang orang yang gentleman yang mau mengakui kesalahan apabila berbuat salah. Coba saja dilihat para koruptor yang selalu berkelit, coba saja dilihat kasus-kasus pornografi dan pornoaksi dan perselingkuhan yang dilakukan oleh para artis dan masyarakat pelajar kita yang tidak ada rasa bersalahnya melakukan hal-hal tidak terpuji. Bagi penulis orang yang mau mengakui kesalahan adalah perbuatan yang terpuji dan mulia. Dan orang yang tidak mau mengakui kesalahan adalah orang yang munafik. Penulis mengajak kita semua dan penulis sendiri khususnya untuk mau dan berani mengakui kesalahan apabila kita berbuat salah.
9. Karena dianggap mampu mendidik anak dengan baik dan benar
Banyak orang tua jaman sekarang yang bisanya hanya memberikan uang dan uang kepada anaknya. Proses pendidikan di rumah dan perawatan anak di rumah hanya diserahkan kepada rewang. Orang tua pun sedikit yang bisa memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Bagi penulis ini adalah sebuah pola didikan orang tua kepada anak yang sudah keliru di awal. Di awal saja sudah keliru bagaimana ke depannya?? Setiap orang tua hendaknya segera berubah agar bisa memberikan perhatian, didikan, tatanan dan pendidikan kepada anak secara optimal. Orang tua jangan hanya mengejar gengsi agar di puji-puji orang lain dan kemudian mengabaikan anaknya dan menyerahkan begitu saja kepada rewang atau baby sitter. Orang tua yang baik harus mengerti kebutuhan dan keadaan psikologis anak, mampu menyelami anak kandungnya, mampu memberikan motivasi dan dorongan kepada anak agar mau belajar dan belajar, dan mau mendengarkan segala keluhan anak. Haru diingat bahwa anak adalah generasi penerus bangsa dan generasi penerus keluarga. Kalo bukan anak siapa lagi?? Jadilah orang tua yang bijak dan bertanggung jawab kepada anak. Dengan menjadi orang tua yang bijak dan bertanggung jawab kepada anak dengan penuh kesadaran, orang lain pun pasti akan mencontohnya dan menghormatinya dengan baik.
10. Karena kemampuan dalam mendidik anak dengan baik di sekolah
Kemampuan mendidik anak di sekolah memang tugas dan tanggung jawab guru di sekolah. Guru harus memiliki sikap empati, tanggap, peduli, dan rasa kasih sayang yang tinggi kepada semua siswa tanpa terkecuali, dan tanpa pilih kasih. Seorang guru juga harus mampu memberikan pengajaran secara optimal dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Harus diingat bahwa setiap anak memiliki latar belakang yang berbeda di sekolah dan tidak sama. Ada yang merupakan anak pejabat, anak pengusaha, anak petani, anak petugas satpam, anak penjual makanan, anak PNS, anak TNI-POLRI dan sebagainya. Artinya variasi latar belakang yang berbeda ini mempengaruhi pola perilaku anak dan terhadap teman-temannya. Inilah tugas guru yang berat dan “Jangan Hanya Mengejar Sertifikasi Atau Kesejahteraan Semata” dan tidak memikirkan tanggung jawab besar mereka terhadap siswa. Jadilah guru yang bersahaja, mumpuni, beretika, bertanggung jawab, santun, mengerti akan kondisi anak, penuh kasih sayang, dan peduli akan kondisi dan permasalahan anak. Apabila guru-guru mampu melakukan hal-hal ini maka dapat dipastikan akan disegani dan dihormati oleh orang lain, khususnya orang tua siswa.

BENTUK PROFESI DAN BISNIS DI LAPANGAN YANG TIDAK MEMBUTUHKAN GELAR SARJANA DAN PASCA SARJANA

BENTUK PROFESI DAN BISNIS DI LAPANGAN YANG TIDAK MEMBUTUHKAN GELAR SARJANA DAN PASCA SARJANA
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Setiap orang di dunia ini termasuk kebanyakan masyarakat Indonesia menginginkan kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari. Kesuksesan ini dicirikan dengan hal atau kegiatan yang dapat meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan. Dan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan ini selalu diidentikan dengan yang namanya bekerja atau berbisnis. Namun permasalahannya adalah bahwa banyak sekali mind-set yang berkembang di Indonesia sejak dahulu kala bahwa yang namanya pencapaian kesuksesan baik melalui pekerjaan atau berbisnis selalu dikaitkan dengan “keharusan” bergelar sarjana hingga pasca sarjana. Mind-set ini penulis rasakan sendiri dan banyak sekali berkembang mulai dari pusat kota besar hingga pelosok desa. Penulis sewaktu ikut kedua orang tua penulis sebelum mereka berdua “Almarhum” selama 18 tahun di sumatera selatan, lampung, jambi, jakarta, manado, ujung pandang atau makassar, kupang, semarang dan sleman yogyakarta pernah mendengar sendiri kalimat-kalimat masyarakat yang mengatakan bahwa “sekolah yang rajin dan tinggi agar bisa mencapai sukses dan jadi orang”, ada juga yang mengatakan “belajar yang rajin sampai kuliah agar bisa mencari uang yang banyak”. Kalimat-kalimat yang pernah penulis dengar ini rasanya sebuah penegasan bahwa mind-set dimasyarakat Indonesia umumnya selalu menganggap “gelar sarjana”, “pasca sarjana” sebagai kunci utama menuju sukses. Tidak jarang juga banyak sekali atau bahkan puluhan ribu orang berupaya dalam memperoleh gelar sarjana dan pasca sarjana dengan cara membeli ijazah palsu tanpa kuliah yang ditunjukan cukup dengan membayar uang 10 juta sampai dengan 30 juta rupiah. Bagi penulis pribadi, mind-set seperti ini sudah salah kaprah dan salah besar apabila dianut oleh masyarakat Indonesia yang notabennya negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dalam tulisan artikel ini penulis ingin mengatakan bahwa kesuksesan bukan dan bahkan mutlak tidak ditentukan oleh gelar sarjana dan bahkan pasca sarjana. Penulis melalui tulisan ini ingin membuktikan kepada para pembaca semua tentang jenis profesi atau bisnis yang sama sekali tidak membutuhkan gelar sarjana dan pasca sarjana. Berikut ini ulasannya:
1. Profesi bisnis kecil-kecilan atau usaha mikro
Jumlah usaha kecil atau mikro di Indonesia sangat besar dan lebih dari 90% dari sektor usaha yang ada di Indonesia. Usaha mikro atau kecil ini bisa dikatakan tahan banting dan tidak akan pernah terkait langsung dengan gejolak pasar global atau globalisasi. Para pengelola usaha mikro atau kecil ini pun bisa dikatakan mampu mengelola usahanya dan tidak perlu memiliki gelar sarjana dan bahkan pasca sarjana. Misalnya usaha lotek, usaha laundry, usaha operator warnet, usaha jualan batu akik, usaha jasa ojek motor, usaha toko kelontong, usaha tukang sayur keliling, usaha servis motor dan ganti oli, usaha penjualan bensin eceran, usaha tukang pompa ban dan tambal ban, usaha jualan soto, usaha jualan kue pukis, usaha jualan gudeg, usaha jualan makanan ringan atau snack, usaha tukang jahit, usaha jasa antar jemput anak pelajar, dan masih banyak lainnya. Coba pembaca melihat dan meresapi dalam-dalam, apakah profesi bisnis seperti ini membutuhkan gelar sarjana dan pasca sarjana, sama sekali tidak. Yang dibutuhkan untuk menjalankan profesi bisnis cukup dengan niat, kecukupan modal seperlunya, kemauan untuk menjalankan profesi bisnis dengan sungguh-sungguh, dan cukup dengan banyak membaca buku-buku motivasi, pengembangan diri atau pengembangan bisnis. Buku-buku ini pun tidak harus dibeli, melainkan bisa diperoleh dengan meminjam di perpustakaan kota atau perpusatakaan daerah.
2. Pekerjaan cleaning service
Pekerjaan cleaning service dapat dikatakan juga tidak membutuhkan gelar sarjana dan pasca sarjana. Tenaga cleaning service biasanya merupakan pekerja yang bersifat “out sourcing”. Untuk menjadi tenaga cleaning service pun cukup hanya dengan lulusan SMP atau SMA, yang penting ada niat untuk bekerja, rajin, dan memiliki kemampuan atau kecakapan dalam kegiatan bersih-bersih, baik bersih-bersih lantai dan ruangan. Kita bisa perhatikan kalo kita berkunjung ke rumah sakit atau perkantoran-perkantoran. Sewaktu orang tua penulis sebelum almarhum dan di rawat di rumah sakit besar dan ternama di Yogyakarta, semua tenaga cleaning servicenya adalah lulusan SMA dan ada yang hanya lulusan SMP. Bagi penulis tidak apa-apa, justru profesi ini adalah profesi mulia di mata Tuhan (Alloh SWT) karena berkontribusi positif bagi kesehatan pasien dan keluarga pasien, dan ini juga bisa berbuah menjadi amal jariyah yang mengalir sampai kiamat yang tentunya lebih bernilai dan bermanfaat besar dibandingkan gaji 3 juta atau 5 juta sebulan, apalagi gaji tersebut diperoleh dengan gelar sarjana dan pasca sarjana yang terkait dengan ijazah palsu.
3. Pekerjaan administrasi atau tukang ketik
Pekerjaan jenis ini sebenarnya tidak membutuhkan gelar sarjana atau pasca sarjana. Untuk bisa menjadi tukang ketik yang handal cukup banyak belajar program “Microsoft Office”, “Open Office”, “Star Office” dan segala kelengkapannya. Untuk mengaplikasikannya pun cukup dengan memiliki komputer bekas atau laptop bekas yang harganya sangat murah. Untuk meningkatkan kompetensi pengetikan juga bisa dengan banyak membaca buku program komputer tersebut. Sekali lagi tidak usah dibeli bukunya, melainkan bisa dipinjam di perpustakaan daerah atau belajar dari internet. Betapa banyak artikel-artikel tentang aplikasi pengetikan di internet.
4. Pekerjaan tukang bangunan dan tukang kebun
Pekerjaan tukang bangunan atau tukang kebun sudah jelas tidak membutuhkan gelar sarjana apalagi pasca sarjana. Cukup dengan pendidikan SMA atau STM Bangunan saja profesi ini bisa dilakukan dengan baik, yang penting ada kemauan dan niat untuk bekerja. Para pekerja tukang bangunan atau tukang kebun dimasyarakat banyak sekali yang dijadikan bahan rebutan oleh penghuni perumahan elite dalam rangka merenovasi rumah dan merawat tanaman perkebunannya.
5. Pekerjaan tenaga keamanan atau security
Pekerjaan security atau keamanan banyak yang hanya merupakan lulusan SMA, namun memang harus mengikuti pendidikan dan pelatihan security yang diadakan oleh POLRES atau POLDA atau perusahaan Security Swasta lainnya. Tenaga security cukup berbekal kedisiplinan, berbadan tegap, menguasai jenis bela diri tertentu dan penggunaan alat-alat kemanan tertentu. Semua hal dan materi ini bisa diperoleh dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diadakan instansi tersebut di atas.
Kelima bentuk profesi bisnis dan pekerjaan di atas merupakan bukti dan contoh nyata di lapangan bahwa yang namanya kesuksesan dalam bekerja dan berbisnis sangat mutlak tidak ditentukan oleh gelar sarjana dan pasca sarjana. Sebenarnya masih banyak sekali profesi-profesi lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan disini, dan pasti pembaca sudah banyak mengetahui bahwa profesi tersebut memang tidak membutuhkan gelar sarjana atau pasca sarjana. Janganlah kita yang bergelar sarjana atau pasca sarjana “Seabrek” memiliki sikap sombong dan angkuh dan takabur bahwa kita lebih baik. Yang menilai seseorang itu baik atau tidak secara luar dalam adalah hanya Tuhan (Alloh SWT) yang lebih tahu, dan bukan kita-kita ini. Para masyarakat yang bergelar hanya SMP atau SMA pun jangan berputus asa seolah-olah tidak mendapatkan rejeki. Harus diingat bahwa rejeki Tuhan adalah maha luas, tinggal kita mau mencarinya dan mau mensyukurinya atau tidak. Sekali lagi kunci utamanya adalah : MOTIVASI BELAJAR + NIAT BERPRESTASI + ETOS KERJA TINGGI = KESUKSESAN.

MEMAHAMI VARIASI SUDUT PANDANG DAN KOMUNITAS DALAM MASYARAKAT HETEROGEN DAN MODERN

MEMAHAMI VARIASI SUDUT PANDANG DAN KOMUNITAS DALAM MASYARAKAT HETEROGEN DAN MODERN
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Segala bentuk kehidupan manusia di jaman sekarang baik di kota besar dan kota kecil hingga pelosok desa pasti akan dihadapkan dengan yang namanya lika-liku atau permasalahan. Permasalahan ini pun ada yang bersifat “besar” dan juga “kecil”. Permasalahan tersebut pun ada yang memandangnya sebagai hal yang “tidak penting”, ada yang menganggap “penting”, ada yang menganggap “mendesak”, dan bahkan ada yang menganggap “bukan masalah” apa-apa. Artinya sudut pandang dan cara berpikir seseorang memang memiliki perbedaan dalam memandang suatu permasalahan. Cara orang memandang permasalahan atau persoalan juga banyak sekali dipengaruhi oleh adat istiadat, budaya masyarakat, pola pikir, tingkat pendidikan, background pendidikan, pengalaman hidup, didikan orang tua sejak lahir, sudut pandang seseorang, pengaruh pergaulan dan pengaruh media serta figur publik. Hal ini menunjukan bahwa variasi persepsi atau perbedaan pandangan masyarakat di lapangan mengenai sesuatu hal atau permasalahan memang sangat besar. Tidak jarang dengan adanya perbedaan pola pikir atau pandangan menyebabkan masyarakat terkelompokan dalam “kotak-kotak” kecocokan atau tidak cocok. Dengan kata lain memang harus diakui bahwa sudut pandang seseorang yang tidak sama dengan lainnya atas suatu permasalahan cenderung menyebabkan seseorang itu untuk memilih pihak-pihak yang dianggap cocok atau yang mempunyai pandangan yang sama untuk diajak berteman, bergaul, dan menjalin persahabatan.
Kita bisa melihat banyak contoh di lapangan akan sangat banyaknya komunitas-komunitas yang mengelompokan diri berdasarkan kesamaan persepsi atau sudut pandang yang dimiliki, misalnya komunitas clubbing, komunitas hijabers, komunitas bikers, komunitas para artis, komunitas moge atau motor besar, komunitas kesenian daerah, komunitas orang-orang kaya atau kelas premium, komunitas trah-trah tertentu, dan lain sebagainya. Dari contoh-contoh komunitas ini bisa dikatakan bahwa sudut pandang masing-masing orang dan kelompok sangat mempengaruhi pola perilaku seseorang dengan teman se-persepsian.
Dalam komunitas-komunitas yang berbeda ini biasanya dipimpin oleh seseorang yang dianggap mampu membawa komunitas untuk semakin maju dan tetap eksis. Tidak jarang juga para anggota komunitas ini melakukan “kegiatan pemasaran” agar komunitasnya mendapatkan banyak pengikut-pengikut baru yang dapat memperkuat komunitas itu. Dalam setiap komunitas pun dapat dipastikan memiliki nilai-nilai atau paham yang harus diikuti dan dipatuhi oleh semua anggota komunitas. Dan contoh dari nilai-nilai dan paham itu selalu diajarkan atau ditunjukan oleh para pemimpin komunitas. Dalam banyak kasus di lapangan, banyak juga anggota komunitas yang tidak sependapat akan paham komunitasnya. Dengan kata lain anggota komunitas itu memiliki sudut pandang yang berbeda dan akhirnya terjadi “konflik” yang menyebabkan anggota komunitas yang bersangkutan keluar dari komunitasnya. Biasanya orang yang keluar dari komunitas tersebut cenderung akan dikucilkan oleh teman-teman sesama komunitas sebelumnya, namun tidak sedikit juga yang berpandangan bahwa apabila dikucilkan juga tidak apa-apa, “toh saya masih bisa mencari teman-teman baru”, “toh dunia ini tidak seperti daun kelor yang kecil”. Ini bentuk-bentuk kalimat dari salah satu anggota komunitas “tertentu” yang pernah penulis dengar. Dari kisah inilah penulis menulis judul artikel di atas dan sebagai wawasan atau gambaran bahwa yang namanya hidup bermasyarakat atau hidup di lapangan pasti akan berhadapan dengan banyak hal, dan menuntut kita untuk “pandai” bersikap dalam menghadapinya. Bagi penulis yang namanya hidup “berkelompok” atau “berkomunitas” adalah hal yang sangat wajar. Yang penting bagaimana caranya agar komunitas tersebut bisa memberikan manfaat besar bagi pihak-pihak di luar komunitasnya, dan jangan menyebabkan konflik atau permasalahan baru yang dapat merusak tatanan masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat modern saat ini, pembentukan komunitas-komunitas tertentu juga memiliki dampak positif bagi kelangsungan kegiatan ekonomi atau bisnis. Misalnya “komunitas honda jazz”, pada komunitas ini dicirikan dengan kepemilikan mobil honda jazz dan kepemilikan “gadget tertentu” sebagai alat untuk berkomunikasi dan membentuk “group” dalam dunia sosial media. Setiap informasi yang diberikan oleh pemimpin komunitas pasti langsung di “Flow Up” melalui gadget tersebut agar terlihat dan terbaca oleh para anggota komunitas. Dengan adanya sarana prasarana yang ditekankan “harus dimiliki” oleh para anggota, membuat para anggota tersebut ikut membeli produk yang merupakan ciri khas dari komunitasnya. Dengan kata lain dari sisi penjualan produk perusahaan akan mengalami peningkatan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa sudut pandang komunitas, karakteristik komunitas, dan gaya hidup komunitas juga akan berdampak positif pada kegiatan ekonomi tertentu. Inilah juga sisi positifnya dari komunitas.
Dari perspektif sosial kemasyarakatan, variasi sudut pandang yang berbeda dan kemudian membentuk komunitas-komunitas ini adalah sebuah keragaman tersendiri yang merupakan karakteristik dari masyarakat modern. Dengan kata lain perkembangan masyarakat saat ini sudah mengarah pada “social interest”. Interest disini diartikan bahwa kepentingan-kepentingan atau kebutuhan yang diinginkan oleh komunitas menggambarkan sebuah kondisi sosial yang mencerminkan jiwa dan karakteristik mereka dan bertujuan agar mereka diakui dan dihormati akan eksistensinya. Penulis bisa mengambil contoh 2 komunitas dunia yang sudah terkenal di dunia, yaitu komunitas “Triad” dan komunitas “Yakuza”. Komunitas “Triad” merupakan komunitas masyarakat tertentu di negara Hongkong yang memiliki ciri khas dan karekteristik sendiri. Komunitas ini cenderung memiliki anggota yang banyak dan tidak jarang disebut sebagai “Mafia Hongkong”. Dari sisi ekonomi, komunitas ini juga berperan dalam geliat ekonomi Hongkong, karena banyak dari mereka yang juga ikut menjalankan bisnis dan ternyata produk bisnisnya laris manis dibeli oleh masyarakat Hongkong. Dari sisi sosial, komunitas Triad ini ingin menunjukan bahwa mereka “bisa sukses”, mereke bisa “eksis” dan berperan dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Memang banyak juga dari masyarakat Hongkong yang tidak suka dengan komunitas ini karena dianggap mengajarkan “budaya kekerasan” dimasyarakat. Namun demikian tidak semua juga dari komunitas Triad ini dianggap “Jelek”. Banyak tokoh-tokoh komunitas ini memiliki karakter dan sikap “positif” dalam bermasyarakat dan dekat dengan penguasa atau pemimpin setempat serta berkontribusi positif bagi kemajuan daerahnya. Tidak jarang juga komunitas ini ikut melestarikan budaya kesenian bela diri “Kungfu” dan tarian “Barongsai” yang luar bisa indah dan mumpuni.
Kedua adalah komunitas “Yakuza”. Selama ini “Yakuza” diidentikan juga sebagai mafianya negara Jepang, kejam, dan beringas. Namun demikian ini adalah gambaran Yakuza dimasa lalu. Pada jaman sekarang (detik ini) budaya kekerasan dan kekejaman Yakuza dapat dikatakan sudah hilang, namun nilai-nilai yang dianut oleh Yakuza seperti loyalitas, setia kawan, dan kerja sama tim tetap melekat pada masyarakat Jepang umumnya. Dari hal-hal ini penulis bisa mengatakan bahwa setiap komunitas pasti memiliki nilai-nilai keyakinan, budaya dan sudut pandang pemikiran yang berbeda namun ikut memperkaya khasanah keilmuan sosial kemasyarakatan. Jika mau dilihat lebih dalam banyak sekali hikmah positif yang dapat kita petik dari berkembangnya komunitas.
Sebagai bangsa yang sangat heterogen, Indonesia pun sebenarnya banyak memiliki komunitas-komunitas di masyarakat yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Artinya perkembangan komunitas di masyarakat adalah sebuah keniscayaan karena sudut pandang dan pemikiran yang dianggap sama atau sepemahaman. Memang banyak sekali pakar ilmu sosial dan pengamat bahwa hal ini akan menciptakan struktur-struktur sosial baru dan bisa berpotensi menimbulkan sikap “Keakuan” dan perpecahan di masyarakat karena selalu menonjolkan budaya dan nilai-nilai yang dianut dan berbeda dengan nilai-nilai yang dianut oleh komunitas lain. Hal ini sebenarnya jika diresapi juga ada benarnya. Kita bisa mengambil contoh di lapangan, betapa banyak orang jawa yang kurang cocok dengan karakter orang sumatera, betapa banyak orang jawa yang tidak cocok dengan karakter orang papua, betapa banyak orang padang yang tidak cocok dengan karakter orang madura dan masih banyak lagi yang lain. Dengan kata lain ini adalah sisi negatif dari adanya variasi sudut pandang tadi sebagaimana dijelaskan pada paragraf sebelumnya di atas.
Dalam menghadapi variasi sudut pandang, pemahaman, dan pola pikir yang berbeda memang sangat dibutuhkan kesadaran, kearifan, dan kebijaksanaan dalam mengenal dan memahami satu sama lain. Dengan kata lain perlu ada mind-set di semua masyarakat Indonesia yang super heterogen agar bisa memahami satu sama lain agar bisa tercipta titik temu. Dalam bahasa ilmu manajemen, inilah yang dinamakan sebagai resolusi konflik atas permasalahan yang terjadi karena berbedanya sudut pandang. Memang hal ini bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan pemikiran mendalam untuk memahaminya, dan kemampuan untuk menghilangkan “ego sektoral”. Jika kita berbicara ilmu ekonomi, kita mengenal yang namanya “teori diversitas kultural”. Teori diversitas kultural diyakini oleh para pakar akan cukup menghambat pelaksanaan program pembangunan dan tidak terciptanya pertumbuhan ekonomi yang besar dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Dalam pandangan penulis, teori diversitas kultural ini sangat ada benarnya dengan kondisi Indonesia yang sangat heterogen, dan memang terkait dengan adanya sudut pandang komunitas-komunitas masyarakat yang ada di Indonesia. Penulis bisa mengilustrasikan sebagai berikut, orang jawa yang lebih enak berbisnis dengan orang jawa tentunya akan berjuang agar bisnis etnis jawa lebih berkembang pesat. Etnis cina yang terkenal dengan kemampuan berdagangnya cenderung berbisnis dengan sesama etnis cina, meskipun dari sisi karyawan cenderung menggunakan karyawan pribumi atau orang-orang yang beragam dari latar belakang daerah yang berbeda. Dari contoh ini dapat tergambarkan bahwa bentuk-bentuk variasi bisnis tersebut akan menciptakan pertumbuhan bisnis dan kesuksesan bisnis yang berbeda pula. Jika ini dilihat dalam skala nasional tentunya konteks pertumbuhannya pun dapat dipastikan akan tidak merata antar daerah atau antar wilayah. Nah ini masalahnya, jika tidak dikatakan sebagai masalah besar bangsa Indonesia. Memang slogan “Nasionalisme”, “Kesatuan”, “NKRI”, dan “Pancasila” selalu kita dengar dalam kehidupan sehari hari dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa yang terdiri dari komunitas masyarakat yang sangat berbeda yang sudah tentu memiliki sudut pandang yang berbeda. Namun bagi penulis juga diperlukan terjemahan secara kongkrit atau spesifik bagaimana menerapkan slogan di atas agar bisa optimal dan terlaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Dari penjelasan di atas penulis ingin mengatakan sebagai kesimpulan bahwa variasi sudut pandang yang berbeda tentunya akan menciptakan kotak-kotak masyarakat atau komunitas-komunitas tertentu. Dan komunitas atau kotak-kotak masyarakat ini memang memiliki dampak positif dan dampak negatif. Namun demikian pentingnya kesadaran, rasa kebersamaan, dan pemahaman mendalam atas kondisi Indonesia yang sangat heterogen sangat mutlak diperlukan dalam rangka mencapai titik temu atau kesamaan persepsi yang berujung pada keharmonisan bermasyarakat. Sekali lagi ini bukanlah hal yang mudah namun bisa dilakukan asalkan ada niat untuk menjunjung tinggi keragaman dan kebersamaan antar komunitas atau masyarakat yang heterogenitasnya tinggi.

MENGELOLA PELAYANAN KONSUMEN PERBANKAN

MENGELOLA PELAYANAN KONSUMEN PERBANKAN
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Manajemen jasa (pelayanan) perbankan diperlukan agar setiap kegiatan perbankan dapat memuaskan konsumennya. Mengingat kegiatan yang dilakukan perbankan beraneka ragam, maka diperlukan bentuk (teknik) pelayanan kepada konsumen (nasabah) yang berbeda-beda (Kuncoro dan Suhardjono, 2002). Bentuk pelayanan yang berbeda-beda ini meliputi pelayanan kepada nasabah penabung, nasabah peminjam kredit (pembiayaan), nasabah yang memerlukan jasa ATM, pelayanan oleh para customer service, pelayanan oleh tenaga security, dan pelayanan khusus pada nasabah prioritas atau priority banking. Penjelasan selengkapnya adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan kepada nasabah penabung
Fungsi bank adalah menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit pembiayaan kepada masyarakat. Untuk menyalurkan dana kepada masyarakat, maka bank harus mempunyai dana terlebih dahulu. Sebagian besar dana yang disalurkan bank dalam bentuk kredit berasal dari para nasabah penabung. Untuk itu diperlukan bentuk pelayanan tersendiri kepada para nasabah penabung tersebut untuk mau menaruh (menanamkan) dananya dalam jumlah besar. Tidak terkecuali adalah pelayanan purna jual, dalam hal ini pelayanan kepada para nasabah lama.
Bentuk pelayanan yang dapat dilakukan perbankan kepada para nasabah penabung adalah pertama, bank yang bersangkutan harus melayani nasabah penabung dengan tidak lupa menyapa (memberi salam) kepada mereka. Kedua, apabila terdapat calon nasabah penabung yang hanya sekedar mencari informasi tabungan (simpanan) hendaknya dilayani dengan baik dengan memberi informasi selengkapnya mengenai produk tabungan (simpanan) yang ada termasuk persentase bunga (bagi bank konvensional) dan bagi hasilnya (bagi bank syariah). Ketiga, pelayanan kepada nasabah maupun calon nasabah hendaknya dilakukan dengan murah senyum dan ramah, serta tidak menyinggung. Keempat, kepada para nasabah penabung yang telah berhubungan dalam waktu lama hendaknya tidak dilupakan begitu saja, misalnya tetap menjalin komunikasi yang menarik dan harmonis agar mereka betah dalam menyimpan dananya pada bank tersebut. Kelima, pemberian bingkisan cuma-cuma kepada nasabah lama patut untuk dilakukan, hal ini dalam rangka wujud penghormatan dan rasa terima kasih atas kepercayaan nasabah untuk menabung di bank. Lebih baik lagi, jika nasabah tersebut mau menambah dananya (uang yang dimiliki) untuk di tabung kembali pada bank yang bersangkutan. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi bank karena dana yang di himpun bank semakin besar, dan semakin besar pula jumlah kredit yang dapat disalurkan.
2. Pelayanan kepada nasabah peminjam dana (kredit)
Selain pelayanan kepada nasabah penabung, pelayanan kepada nasabah peminjam dana (kredit) juga patut untuk dilakukan dengan maksimal, dan memuaskan. Kredit merupakan senjata utama bank dalam memperoleh keuntungan, sebab pada kredit yang disalurkan itulah terdapat pengenaan suku bunga (suku bunga kredit). Semakin besar kredit yang disalurkan dan semakin banyak nasabah yang meminjam, maka margin keuntungan bank akan semakin besar.
Nasabah (konsumen) bank yang meminjam kredit hendaknya juga dilayani dengan memuaskan, misalnya pada saat jatuh tempo pembayaran angsuran, para nasabah diminta secara baik-baik untuk membayar angsuran kreditnya dan bukan dengan cara kasar. Komunikasi dalam tawar menawar kredit antara bank dan nasabah hendaknya jelas dan penuh suasana kekeluargaan. Informasi kredit juga harus dijelaskan selengkap mungkin, dan tidak ada yang disembunyikan. Bagi para nasabah peminjam kredit yang dapat melunasi angsuran tepat waktu hendaknya juga diberikan bingkisan yang menarik karena telah menunjukan sikap kooperatif (kerjasama) dan kesadaran dalam melunasi pinjaman. Bagi nasabah yang mampu melunasi kredit lebih awal dibandingkan perjanjian, hendaknya diberikan potongan bunga, meskipun itu hanya sebesar nol koma sekian persen. Meskipun demikian, angka potongan persentase bunga kredit sebesar nol koma sekian persen ini sangat berarti bagi nasabah. Bagi nasabah, hal ini merupakan bukti bahwa bank tetap memperhatikan kepuasan konsumen.
Mengenai suku bunga kredit yang ditetapkan bank, hendaknya tidak memberatkan dan mampu terjangkau. Jumlah nominal pinjaman kredit juga harus menjangkau masyarakat yang mempunyai kebutuhan kredit yang kecil. Misalnya jumlah nominal kredit terkecil adalah sebesar Rp. 250.000. Hal ini perlu diperhatikan bank, sebab realita di lapangan ternyata banyak masyarakat yang hanya membutuhkan kredit dengan jumlah kecil, dan jumlah masyarakat tersebut cukup besar. Sehingga apabila bank mampu menjangkau mereka, ini merupakan kekuatan posisi pasar yang tinggi yang dimiliki oleh bank yang bersangkutan. Bank tersebut tidak menutup kemungkinan akan mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai banknya wong cilik (karena memperhatikan masyarakat kecil).
3. Pelayanan kepada nasabah ATM
Pelayanan kepada nasabah ATM perlu juga mendapat perhatian dari setiap bank yang berdiri. ATM merupakan sebuah fasilitas bagi nasabah yang ingin menarik uangnya secara tunai dengan cepat dan mudah tanpa harus datang langsung ke bank. ATM berkaitan dengan seperangkat teknologi yang memang sengaja diciptakan untuk mempermudah pelayanan kepada nasabah. Nasabah bank yang memerlukan jasa ATM sangat besar, bahkan dapat dikatakan hampir semua nasabah bank memerlukan ATM. Untuk itu bank perlu memberikan fasilitas ATM yang mampu menjangkau semua lapisan konsumen, di manapun konsumen itu berada, baik di wilayah kotamadya maupun kabupaten kecamatan.
Bentuk pelayanan yang dapat diberikan bank melalui fasilitas ATM ini misalnya dengan jumlah nominal uang yang dapat ditarik sekecil mungkin, misalnya sejumlah Rp. 50.000. Bentuk pecahan uangnya pun jika dimungkinkan sebesar Rp. 10.000 atau Rp. 20.000. Hal ini akan bermafaat bagi konsumen yang hanya ingin menarik tunai uangnya dalam jumlah kecil.
4. Pelayanan oleh customer service
Untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan nasabahnya maka bank perlu menjaga citra positif di mata masyarakatnya. Citra ini dapat dibangun melalui kualitas produk, kualitas pelayanan, dan kualitas keamanan. Tanpa citra yang positif, maka kepercayaan yang sedang dan akan dibangun tidak akan efektif.
Untuk meningkatkan citra perbankan maka bank perlu menyiapkan karyawan yang mampu menangani keinginan dan kebutuhan nasabahnya. Karyawan yang diharapkan dapat melayani keinginan dan kebutuhan nasabah ini disebut sebagai customer service (CS).
Pengertian CS secara umum adalah kegiatan yang diperuntukan atau ditujukan untuk memberikan kepuasan konsumen (nasabah) melalui pelayanan yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan nasabah (Kasmir, 2004). CS memegang peran yang sangat penting. Dalam dunia perbankan tugas seorang CS adalah memberikan pelayanan dan membina hubungan dengan masyarakat. Setiap CS bank dalam melayani nasabah harus berusaha tampil menarik dan menawan dan merayu para calon nasabah untuk menjadi nasabah bank yang bersangkutan. Setiap CS juga harus mampu dalam menjaga hubungan bagi nasabah lama agar tetap menjadi nasabah yang loyal. Oleh karena itu, tugas CS merupakan tulang punggung kegiatan operasional dalam dunia perbankan (Kasmir, 2004).
Dalam menjalankan tugasnya, seorang CS bank perlu memperhatikan hal-hal berikut ini, pertama, CS harus berpakaian dan berpenampilan rapi dan bersih. Artinya, petugas CS harus mengenakan baju dan celana yang sepadan dengan kombinasi yang menarik. Kedua, CS harus harus percaya diri, bersikap akrab dan penuh dengan senyum. Dalam melayani nasabah, petugas CS tidak boleh ragu-ragu, yakin dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Dalam melayani nasabah, setiap petugas CS harus murah senyum dan dengan raut muka yang menarik hati. Ketiga, setiap petugas CS harus menyapa dengan lembut dan berusaha menyebutkan nama jika dikenal. Pada saat nasabah datang, petugas CS harus segera menyapa dan kalau sudah pernah bertemu sebelumnya usahakan menyapa dengan menyebutkan namanya. Keempat, petugas CS harus tampil tenang, sopan, hormat serta tekun mendengarkan setiap pembicaraan dengan nasabah. Petugas CS jangan sekali-kali membantah atau mengeluarkan kalimat yang tidak enak didengar. Kelima, petugas CS harus tampil energik, dan bergairah dalam melayani nasabah, serta mampu memberikan kepuasan kepada setiap nasabah.
Kelima hal di atas merupakan suatu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain oleh setiap CS dalam menjalankan perannya. Hendaknya setiap CS harus memahami dengan baik arti dan peran penting yang dimilikinya, yaitu tidak lain adalah melayani nasabah atau calon nasabah dengan baik dan memuaskan.
5. Pelayanan oleh tenaga security (petugas keamanan) bank
Security atau yang dikenal sebagai petugas satpam perbankan tentunya harus bisa memberikan pelayanan prima bagi konsumen perbankan. Seorang security atau satpam harus bisa meyakinkan konsumen atau nasabah bahwa keadaan nasabah sewaktu mengunjungi bank adalah “aman” dari hal-hal yang bisa mengganggu ketenangan nasabah, seperti keributan, kenakalan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan sebagainya. Seorang satpam harus memiliki badan yang tegap dan berpostur tinggi sebagai keyakinan bagi nasabah bahwa satpam tersebut memang memiliki sikap profesional pada nasabah. Satpam juga ditekankan memiliki sikap santun dalam menyambut setiap nasabah yang datang, dan menanyakan apa keperluan nasabah. Seandainya nasabah tidak tahu harus ke petugas perbankan yang mana dalam menginginkan pelayanan, maka satpam harus memberikan informasi yang jelas dan tidak dengan kata-kata kasar atau menyinggung perasaan nasabah. Semua petugas keamanan bank juga harus berseragam sebagaimana layaknya pakaian security, memiliki penampilan yang rapi, dan tidak bosan-bosannya dalam melayani setiap nasabah yang datang ke bank.
6. Pelayanan khusus pada nasabah prioritas (priority banking)
Pelayanan khusus pada nasabah prioritas atau priority banking saat ini sudah sangat banyak dilakukan oleh bank-bank yang ada di Indonesia, baik bank BUMN maupun bank swasta nasional. Harus diakui bahwa pelayanan yang diberikan oleh manajemen bank sangat spesial pada nasabah prioritas ini, sebab nasabah prioritas biasanya menyimpan dananya di atas 500 juta rupiah, dan bahkan hingga milyaran rupiah. Produk-produk untuk nasabah prioritas juga lebih banyak dibandingkan produk tabungan, dan deposito semata. Pada pelayanan priority banking terdapat juga produk reksadana yang biasanya selalu ditawarkan pada nasabah. Ruangan pelayanan pada nasabah prioritas juga tersendiri, dan tidak seperti pelayanan pada customer service atau teller pada umumnya. Petugas bank yang melayani nasabah prioritas biasanya sangat cantik atau menawan, sedangkan untuk petugas laki-laki biasanya putih dan ganteng-ganteng. Namun jangan salah, mereka-mereka ini tetap mengedepankan profesionalisme dalam pelayanan yang diberikan pada nasabah kelas ini. Hubungan relationship marketing pun selalu dijaga oleh manajemen bank yang bersangkutan agar nasabah tersebut merasa puas dan terpenuhi kebutuhannya. Tidak jarang juga bank selalu memberikan hadiah bingkisan istimewa kepada para nasabah pada saat hari ulang tahunnya, dan pada saat hari-hari besar tertentu.
Manajemen jasa (pelayanan) perbankan mutlak untuk diperhatikan oleh bank manapun agar tidak ditinggalkan oleh konsumennya (nasabah). Bank perlu menerapkan strategi pelayanan yang maksimal agar mempunyai citra yang baik di mata nasabah. Meskipun bentuk strategi pelayanan itu berbeda-beda, satu hal yang patut dikedepankan adalah harus mengutamakan kepuasan konsumen. Semakin puas konsumen (nasabah), maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi nasabah setia.
REFERENSI:
Kasmir, 2004, Pemasaran Bank, Jakarta : Kencana Prenada Media.
Kuncoro, dan Suhardjono, 2002, Manajemen Perbankan Teori dan Aplikasi, Yogyakarta : BPFE UGM.

MEMAHAMI ETIKA BISNIS DALAM KONTEKS PEMASARAN, PERIKLANAN, DAN KEAMANAN PRODUK (TINJAUAN KRITIS TERHADAP FENOMENA DI LAPANGAN)

MEMAHAMI ETIKA BISNIS DALAM KONTEKS PEMASARAN, PERIKLANAN, DAN KEAMANAN PRODUK (TINJAUAN KRITIS TERHADAP FENOMENA DI LAPANGAN)
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Konsep Dan Definisi Etika Bisnis
Bisnis merupakan bentuk usaha untuk melayani kebutuhan masyarakat baik dengan motif keuntungan maupun yang tidak bermotif mencari keuntungan. Para pelaku bisnis akan selalu melihat adanya kebutuhan manusia, organisasi ataupun masyarakat luas. Dengan adanya kebutuhan manusia merupakan kesempatan dan peluang bagi pelaku bisnis untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan (Gitosudarmo, 1999). Barang dan jasa tersebut tentunya akan dibeli oleh manusia (konsumen) yang membutuhkan. Semakin banyak barang dan jasa yang laku terjual, hal ini mengindikasikan bahwa pelaku bisnis tersebut mampu menangkap keinginan dan permintaan konsumen.
Salah satu aspek yang sangat populer dan perlu mendapat perhatian dalam dunia bisnis saat ini adalah etika atau moral bisnis. Etika bisnis selain dapat menjamin kepuasan, dan kepercayaan juga dapat menimbulkan loyalitas dari semua unsur yang berpengaruh pada perusahaan. Etika bisnis merupakan penerapan tanggung jawab sosial suatu bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Selain itu etika bisnis juga memegang peranan penting bagi implementasi good corporate governance perusahaan, karena etika merupakan acuan bagi karyawan maupun manajer dalam menjalankan aktivitas perusahaan sehari-hari.
Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat. Etika bisnis juga dapat didefinisikan sebagai batasan-batasan sosial ekonomi dan hukum yang bersumber dari nilai-nilai moral masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan oleh perusahaan dalam setiap aktivitasnya (Gitosudarmo, 1999). Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan (Velasquez, 2005).
Zimmerer dan Norman (1996) mengemukakan bahwa etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Menurut Buchholtz dan Carroll (2003), etika bisnis merupakan seperangkat moral atau prinsip-prinsip nilai yang mendasari para pelaku bisnis dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Sedangkan menurut Ronald dan Griffin (2000), etika bisnis adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk menunjukan perilaku etika dari seorang manajer atau karyawan suatu organisasi.
Selain etika, yang tidak kalah pentingnya dalam bisnis adalah norma etika. Menurut Zimmerer (1996) ada 3 tingkatan norma etika, yaitu :
1). Hukum. Hukum berlaku bagi masyarakat secara umum yang mengatur mana perbuatan yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Hukum juga mengatur standar perilaku minimum suatu bisnis.
2). Kebijakan dan prosedur organisasi. Kebijakan dan prosedur organisasi memberi arahan khusus bagi setiap orang dalam mengambil keputusan sehari-hari. Para karyawan akan bekerja sesuai dengan kebijakan dan prosedur perusahaan (organisasi).
3). Moral atau sikap mental individu. Sikap mental individu sangat penting untuk menghadapi suatu keputusan yang tidak diatur oleh aturan formal. Nilai moral dan sikap mental individu biasanya berasal dari keluarga, agama, dan sekolah. Individu yang pernah memperoleh pendidikan moral ini akan mempunyai sikap mental yang baik.
Berdasarkan penjelasan di atas, etika dan norma bisnis merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pelaku bisnis. Kombinasi norma, dan etika di atas apabila diterapkan dalam perilaku bisnis keseharian, maka akan menghasilkan sikap dan perbuatan yang tidak merugikan konsumen, baik konsumen internal maupun konsumen eksternal.
Etika perlu diterapkan dalam berbagai bidang bisnis, dan segala kegiatan yang terkait dengan bisnis. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan etika di dalam pemasaran, periklanan, dan produk yang dihasilkan perusahaan.
Etika Dalam Pemasaran 
Pemasaran merupakan bagian yang tidak terlepas dalam aktivitas bisnis. Pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial yang di dalamnya terdapat individu dan kelompok yang mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain (Kotler, 1997). Pemasaran juga didefinisikan sebagai suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Dharmesta dan Handoko, 2000). Menurut Jefkins (1994), pemasaran lebih dari sekedar mendistribusikan barang dari para produsen pembuatnya ke para konsumen pemakai. Pemasaran meliputi semua tahapan, yakni mulai dari penciptaan produk hingga ke pelayanan purna jual setelah transaksi penjualan terjadi.
Berdasarkan definisi pemasaran di atas, dapat diterangkan bahwa arti pemasaran adalah jauh lebih luas dibandingkan arti penjualan. Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang perlu dipuaskan, menentukan produk yang hendak diproduksi, menentukan harga produk yang sesuai, serta menentukan cara-cara promosi, penyaluran produk dan pelayanan purna jual kepada konsumen.
Setiap kegiatan pemasaran perusahaan harus memperhatikan etika. Etika di dalam pemasaran pasti juga terkait dengan etika bisnis. Weiss (2003) dalam bukunya yang berjudul “Business Ethics : A Stake Holder And Issues Management Approach” mengatakan bahwa etika bisnis menyatakan sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk, keputusan dan aksi yang berbahaya atau yang menguntungkan. Dengan kata lain suatu aksi dalam pemasaran yang dipandang benar atau salah, baik atau buruk, sangat terkait dengan bisnis dan etika yang pada akhirnya mempengaruhi kesuksesan pemasaran perusahaan. Perusahaan perlu memperhatikan rambu-rambu dalam menjalankan aktivitas pemasarannya, dapat membedakan mana praktek pemasaran yang baik dan buruk yang dapat berdampak bagi kelangsungan perusahaan. Namun yang disayangkan banyak praktek pemasaran perusahaan, baik berskala besar maupun kecil yang mengabaikan etika.
Dapat kita saksikan di lapangan maupun dari berbagai informasi di media massa ternyata banyak praktek pemasaran perusahaan yang belum mengedepankan etika. Misalnya sebuah produk dijual dengan harga tertentu apabila dibeli dengan jumlah tertentu maka konsumen akan memperoleh bonus produk yang bersangkutan. Namun ternyata jumlah bonus produk sejenis yang akan diperoleh konsumen tidak disebutkan, sehingga seringkali jika konsumen membeli dan pada saat membayar baru mengetahui ternyata bonus jumlah produk sejenis yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya hanya memperoleh bonus 1 produk saja. Hal ini dapat dikategorikan sebagai praktek pemasaran yang cenderung tidak jujur kepada konsumen, dan mengecoh konsumen di mana konsumen tidak diberitahu sebelumnya berapa jumlah bonus yang akan diperoleh.
Contoh lain misalnya, sebuah bank yang menawarkan produk simpanan maupun deposito dengan bunga tinggi yang kemudian dipromosikan pada berbagai media agar dapat diketahui masyarakat luas ternyata dalam prakteknya tidak dapat menjangkau semua masyarakat luas. Produk tabungan tersebut setelah dikonfirmasi kepada pihak bank yang bersangkutan ternyata hanya untuk kalangan tertentu yang berkantong “tebal” atau orang kaya saja. Hal ini tentunya dapat mengecewakan masyarakat umum (biasa) yang bukan orang kaya, sehingga tidak dapat menikmati dan menggunakan produk simpanan tersebut. Padahal jika dilihat ternyata penawaran produk tersebut dipromosikan secara luas sehingga dapat dilihat oleh siapa saja. Secara etika program pemasaran, hal ini juga tidak pantas dilakukan karena calon nasabah tidak diberitahu sebelumnya, dan mereka baru mengetahui pada saat berkunjung ke bank yang bersangkutan.
Kedua contoh di atas hendaknya tidak dilakukan oleh perusahaan manapun. Setiap perusahaan dalam menjalankan program-program pemasaran harus mengedepankan etika, khususnya etika terhadap konsumen. Semakin banyak konsumen dikecewakan, maka konsumen tidak akan melirik produk perusahaan yang bersangkutan dan tidak menutup kemungkinan akan berpindah ke produk yang dihasilkan perusahaan lain yang lebih mengedepankan etika terhadap konsumen.
Selain itu penerapan etika juga perlu dilakukan oleh para agen-agen pemasaran, tidak terkecuali para salesman perusahaan. Seorang salesman/salesgirl hendaknya mempunyai sikap dan perilaku yang baik serta simpatik kepada konsumen, melayani nasabah dengan rendah hati dan bijak, selalu menepati janji apabila ingin berjumpa dengan konsumen, jujur, tidak melakukan perbuatan yang menyinggung konsumen, tidak membohongi konsumen dan sebagainya. Salesman dan salesgirl merupakan ujung tombak perusahaan di lapangan, sehingga terkesan tugas mereka lebih berat dibandingkan karyawan perusahaan yang hanya berada di dalam kantor. Dengan beratnya tugas menawarkan produk di lapangan hendaknya tidak menjadikan mereka mengabaikan etika, melainkan mereka harus mengedepankan etika kepada konsumen. Hal ini penting untuk diperhatikan, sebab kesuksesan perusahaan, tidak terkecuali kesuksesan mereka sebagai sales (penjual) sangat ditentukan oleh sikap dan kepribadian mereka sendiri. Semakin beretika seorang sales dalam menjual dan menawarkan produk ke masyarakat, maka konsumen semakin mempercayai para sales tersebut dan mempercayai mutu atau kualitas produk yang di tawarkannya. Pada akhirnya citra (reputasi) perusahaan di mana mereka bekerja akan semakin meningkat di mata masyarakat.
Etika Dalam Periklanan 
Setiap perusahaan dapat dipastikan menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh konsumen. Produk barang atau jasa itu sendiri, baik penamaannya, pengemasannya, penetapan harga dan distribusinya, semuanya tercermin dalam kegiatan periklanan yang sering kali disebut sebagai darah bagi suatu organisasi (Jefkins, 1994). Tanpa adanya periklanan, berbagai produk barang atau jasa tidak akan mengalir secara lancar ke para distributor atau penjual, apalagi sampai ke tangan para konsumen atau pemakai.
Institut Periklanan Inggris (dalam Jefkins, 1994) mendefinisikan periklanan sebagai pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang diarahkan kepada para calon pembeli yang paling potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan biaya yang semurah-murahnya.
Periklanan barang dan jasa yang dilakukan perusahaan hendaknya juga tetap berpegang pada etika. Etika disini diartikan bahwa bentuk iklan yang ditayangkan (digunakan) menggunakan kalimat yang mudah dipahami oleh konsumen, disertai informasi produk yang bersangkutan baik harga, kemasan, kandungan nutrisi, kualitas dan khususnya tidak menjelek-jelekan produk perusahaan lain.
Persaingan di dunia peiklanan baik melalui media massa, maupun media televisi sudah mencapai kondisi yang ketat. Setiap perusahaan berlomba-lomba mengiklankan produknya dengan berbagai cara dalam menarik hati konsumen. Setiap iklan produk atau jasa yang ditayangkan juga seringkali menggunakan sarana-sarana yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan produk yang diiklankan. Banyak bentuk-bentuk iklan di media televisi yang menggunakan wanita dengan postur tubuh dan tingkat kecantikan tertentu yang bertujuan menarik simpati konsumen. Misalkan iklan tentang produk otomotif yang identik dengan wanita “seksi” berpakaian minim sebagai iconnya. Padahal antara wanita “seksi” dengan produk yang diiklankan tidak terdapat hubungan yang berarti. Hal ini mengindikasikan perusahaan yang bersangkutan dalam mengiklankan produknya kurang memperhatikan norma yang dianut masyarakat, terlebih etika bisnis yang dijalankan.
Dapat diambil contoh bentuk periklanan di bidang telepon seluler yang juga kurang mengedepankan etika komunikasi periklanan, terlebih dengan menggunakan bentuk komunikasi yang keras (dengan berteriak-teriak) meskipun dengan menggunakan animasi karikatur semata. Kita bisa melihatnya pada iklan produk telekomunikasi “X” yang terkenal dengan slogan “hanya X yang bisa begini”, dan “produk telekomunikasi X bukan telepon biasa”. Pada iklan tersebut terlihat sang anak kecil (dalam bentuk karikatur animasi) berteriak-teriak dalam memperomosikan produk tersebut. Padahal dalam konteks komunikasi periklanan, bentuk “teriakan” adalah tidak pantas untuk digunakan, dan tidak sopan.
Contoh lain mengenai bentuk periklanan yang kurang mengedepankan etika adalah iklan perang tarif telepon seluler antar operator dengan mengenakan tarif yang tidak logis, telebih dengan menggunakan slogan “tentukan sendiri tarif semaumu”. Selain itu tarif telepon yang teramat murah secara logika ekonomi tidak mungkin terjadi. Dan ternyata setelah ditelusuri, tarif tersebut hanya berlaku dari jam 12 malam hingga jam 6 pagi, padahal waktu-waktu tersebut jarang digunakan untuk komunikasi masyarakat di mana waktu jam 12 malam hingga jam 6 pagi merupakan waktu istirahat. Dengan hal ini iklan tersebut sudah cukup jelas mengecoh konsumen.
Contoh-contoh di atas merupakan sebagian dari banyaknya praktek periklanan perusahaan yang tidak mengedepankan etika. Yang lebih parah bahwa bentuk-bentuk pelanggaran etika tersebut telah dianggap lazim dan biasa dalam dunia periklanan. Badan pengawas periklanan (KPI/Komisi Periklanan Indonesia) pun cenderung kurang punya taring dalam menyikapinya. Terlebih baru-baru ini kita mendengar berita bahwa salah satu anggota KPPU Indonesia (Komite Pengawas Persaingan Usaha) terjerat dalam kasus suap, padahal KPPU merupakan lembaga pengawas yang bertugas mengawasi semua jalannya pratek perusahaan. Bagaimana mungkin sebuah lembaga resmi bentukan pemerintah yang mempunyai tugas mulia dalam mengawasi jalannya praktek perusahaan, ternyata terjerat kasus suap, dan tidak mempunyai taring. Untuk itu diperlukan kesadaran dari semua pihak, khususnya pemerintah dan pihak terkait dalam menciptakan regulasi yang jelas mengatur bentuk-bentuk etika bisnis, tidak terkecuali periklanan agar tidak menipu masyarakat, serta tidak menimbulkan konflik dengan perusahaan lain yang berujung pada jalur hukum.
Keamanan Produk (Product Safety). 
Keamanan produk merupakan salah satu aspek yang terkait dengan etika bisnis perusahaan. Produk yang dihasilkan perusahaan baik berupa barang dan jasa hendaknya benar-benar sesuai dengan permintaan konsumen, dan tidak merugikan konsumen. Merugikan dalam konteks ini diartikan bahwa produk yang bersangkutan tidak akan membawa manfaat dan kegunaan berarti bagi konsumen, bahkan dapat menimbulkan bahaya baik bagi kesehatan maupun nyawa. Sudah sepatutnya produk yang dihasilkan memenuhi kriteria keselamatan penggunaan, sehingga konsumen dapat mengkonsumsi dan memanfaatkannya dengan baik.
Kasus baru-baru ini mengingatkan kita bahwa bentuk keamanan produk ternyata belum dipahami dan diaplikasikan oleh perusahaan. Produk permen buatan perusahaan Cina yang masuk ke Indonesia dan telah beredar di pasaran ternyata oleh badan POM terindikasi mengandung melamin yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Dan buruknya, produk tersebut telah tersebar di pasaran pedagang permen di Indonesia yang mungkin belum mengetahui informasi tersebut. Meskipun produk tersebut sudah ditarik oleh pemerintah, implikasi kesehatan bagi orang yang telah mengkonsumsinya tentunya tidak akan terelakan. Hendaknya pemerintah perlu memperketat masuknya barang impor yang tidak sesuai dengan ketentuan kesehatan. Para penjual pun perlu melakukan introspeksi agar tidak menjual produk yang berbahaya bagi kesehatan konsumen.
Keamanan produk yang dihasilkan perusahaan merupakan hal mutlak untuk diperhatikan. Reputasi perusahaan penghasil produk benar-benar dipertaruhkan dengan produk yang dihasilkan. Produk tersebut hendaknya sesuai dengan standar baku yang berlaku, jika menyangkut produk kesehatan hendaknya memenuhi kriteria kandungan nutrisi, dan nilai gizi serta tidak membahayakan kesehatan. Jika menyangkut produk otomotif hendaknya produk tersebut sesuai dengan standar spesifikasi yang dianut oleh pemerintah, dan sebagainya.
Keberlangsungan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya memang tidak boleh terlepas dari etika, apapun bentuk aktivitas bisnis perusahaan dan tidak hanya dalam pemasaran, periklanan dan keamanan produk saja melainkan untuk semua aktivitas baik itu tanggung jawab sosial, dan tanggung jawab lingkungan. Etika bisnis perusahaan merupakan cerminan atau pribadi perusahaan yang bersangkutan. Jika perusahaan mampu menerapkan etika bisnis dengan baik, maka citra di mata masyarakat pun akan baik dan juga sebaliknya.
REFERENSI:
Buchholtz, dan Caroll. (2003). Business And Society, Ethics And Stakeholder Management. Thomson, South Western.
Dharmesta, Basu S. dan T. Hani Handoko. (2000). Manajemen Pemasaran : Analisis Perilaku Konsumen. Yogyakarta, BPFE UGM.
Ebert, J. Ronald and Ricky Griffin. (2000). Business Esentials. New Jersey, Prentice Hall.
Gitosudarmo, Indriyo. (1999). Pengantar Bisnis Edisi 2. Yogyakarta, BPFE UGM.
Jefkins, Franks. (1994). Periklanan Edisi Terjemahan, Jakarta : Erlangga.
Kotler, Philip. (1997). Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan,Implementasi dan Kontrol Edisi Terjemahan. New Jersey, Prentice Hall.
Velazques, Manuel G. (2005). Etika Bisnis : Konsep dan Kasus Edisi Terjemahan. Yogyakarta, ANDI OFFSET.
Weiss, Joseph W. (2003). Business Ethics : A Stake Holder And Issues Management Approach. Thomson, South Western.
Zimmerer, W. Thomas, Norman M. Scarborough. (1996). Entrepreneurship And The New Venture Formation. New Jersey, Prentice Hall International Inc.

APAKAH PEMBANGUNAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI BISA DIKATAKAN PRO POOR??

APAKAH PEMBANGUNAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI BISA DIKATAKAN PRO POOR??
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Pembangunan adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita suatu masyarakat meningkat dalam jangka panjang. Menurut Todaro, pembangunan merupakan konsep yang tersusun secara terencana dan sistematis yang bertujuan untuk menciptakan suasana dan sistem baru. Sistem baru itulah yang akan memberikan kondisi bagi berkembangnya tata nilai dalam kehidupan masyarakat. Pembangunan dapat dilaksanakan pada berbagai bidang, seperti pembangunan sarana-prasarana, pembangunan politik yang demokratis, pembangunan ekonomi dan lain-lain. Pembangunan ekonomi yang dilaksanakan secara sistematis, disegala bidang dan secara menyeluruh akan selalu diiringi dengan pertumbuhan ekonomi. Namun pertumbuhan ekonomi belum tentu mengindikasikan telah terjadi pembangunan ekonomi yang baik. Pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa pro-poor (pro kemiskinan), artinya kue pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati oleh semua pihak (semua masyarakat) tidak terkecuali masyarakat miskin. Dengan memperhatikan, dan mengutamakan masyarakat miskin akan membawa banyak manfaat, yaitu dapat mengurangi beban pembangunan dimasa yang akan datang, berkurangnya jumlah kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat miskin, mereka dapat mencapai taraf hidup yang lebih baik. Dengan semakin banyak masyarakat miskin yang dientaskan, kelangsungan pembangunan akan tercapai dengan baik hingga dimasa yang akan datang. Dan suatu negara yang mencapai kelangsungan pembangunan yang baik secara terus menerus akan menjadi negara maju.
Untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang pro-poor (pro kemiskinan) memang tidak mudah, ini dibutuhkan sebuah konsistensi dari pemimpin negara yang bersangkutan dalam rangka menyusun dan menyelenggarakan pembangunan ekonominya. Pemimpin yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang pro-poor, sudah dipastikan adalah pemimpin yang mempunyai rasa kepedulian yang tinggi terhadap kemiskinan. Pemimpin tersebut sadar bahwa kemiskinan bukan suatu momok, melainkan suatu hal yang harus dientaskan semaksimal mungkin dalam rangka mencapai taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Program-program pembangunan ekonomi yang dapat menciptakan pertumbuhan pro-poor tersebut juga harus jelas dan terencana dengan baik. Hal ini bukan berarti mengabaikan masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi, tapi merupakan sebuah bentuk rasa keadilan bagi masyarakat miskin dan demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, siapapun masyarakatnya.
Berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi yang pro-poor, khususnya di Indonesia sepertinya belum terjadi (belum maksimal), ini dapat dilihat dari pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebagian besar hanya dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, sedangkan masyarakat miskin masih belum menikmati kue pertumbuhan ekonomi tersebut. Masyarakat miskin masih terpinggirkan, kurang diperhatikan, dan sulit dalam mengakses fasilitas-fasilitas ekonomi. Meskipun saat ini sering terdengar ada program BLT (Bantuan Langsung Tunai), Beras Raskin (Beras Untuk Rakyat Miskin), program bantuan KUR (Kredit Usaha rakyat), program ASKESKIN (Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin), ternyata program-program tersebut belum memberikan hasil yang maksimal dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Justru yang terjadi program-program tersebut sering salah sasaran dan tidak tepat sasaran. Hal ini tentunya sangat menyedihkan. Saat ini pun pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih didominasi sektor keuangan, khususnya sektor keuangan yang berbasis global seperti saham, obligasi, reksadana, sukuk, pasar uang dan valas (valuta asing). Tidak jarang kondisi valuta asing yang meningkat kursnya menjadi permainan para spekulan-spekulan kelas “kakap” yang justru ikut memperburuk kondisi perekonomian nasional. Perlu upaya lebih keras lagi, bahkan sangat keras dari pemimpin kita agar mampu membangun perekonomian dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yang juga pro-poor (pro kemiskinan).
Untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang pro poor, pemerintah menurut penulis perlu memulai segala kegiatan pembangunan dari desa. Artinya desa perlu dijadikan ujung tombak pembangunan ekonomi. Desa merupakan daerah penghasil pangan dan produk pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan yang dibutuhkan semua masyarakat Indonesia. Desa di seluruh Indonesia pun diyakini memiliki banyak sekali bibit-bibit sumber daya manusia berkualitas namun belum tersentuh oleh akses pendidikan yang memadai. Dengan menjadikan pembangunan bertumpu pada desa, juga akan mengurangi arus urbanisasi ke kota yang justru akan menambah hiruk pikuk dan kompleksitas masyarakat perkotaan. Sudah saatnya pemerintah perlu menjadikan desa sebagai pusat pembangunan. Namun demikian dengan menjadikan desa sebagai pusat pembangunan hendaknya jangan sampai merusak nilai-nilai budaya lokal dan tradisi yang telah berkembang selama ini. Inilah hal penting tersendiri yang membedakan pelaksanaan pembangunan hanya berpusat di perkotaan.
Pembangunan di perkotaan selama ini harus diakui menimbulkan kerusakan pada tatanan masyarakatnya, mulai dari gaya hidup konsumeristis berlebihan, gaya hidup hedonis, gaya hidup prestise, gaya hidup instan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai kesuksesan, ketimpangan yang semakin melebar antar masyarakat perkotaan, kekerasan diantara sesama warga masyarakat dan sebagainya. Untuk itu paradigma pembangunan selama ini memang harus diubah mind-setnya dengan memfokuskan pembangunan pada pedesaan. Dengan pembangunan yang berbasis pada desa justru akan menciptakan pertumbuhan pada daerah itu sendiri. Dengan kata lain dengan adanya pembangunan optimal di desa maka akan menciptakan pertumbuhan pro-poor di wilayah pedesaan. Hal ini menandakan bahwa kemiskinan di desa dapat dientaskan dengan maksimal melalui pembangunan dan pertumbuhan tersebut.
Beberapa program pembangunan menurut penulis yang harus dimulai dari desa dalam rangka menciptakan pertumbuhan pro-poor adalah sebagai berikut:
1. Penguatan kelembagaan masyarakat desa
Masyarakat desa yang memiliki nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal perlu diperkuat dengan adanya kelembagaan formal yang mewadahi aspirasi, kehendak, dan keinginan masyarakat desa dalam meningkatkan taraf hidupnya. Masyarakat desa harus penulis akui banyak yang memiliki ide-ide kreatif dalam berusaha dan bercocok tanam yang mungkin tidak dimiliki oleh masyarakat kota. Hal ini merupakan indikasi bahwa sebenarnya masyarakat desa bisa maju dan memiliki kemampuan untuk mensejahterakan diri sendiri dan keluarga masing-masing.
Penguatan kelembagaan masyarakat desa ini perlu ditunjang oleh unsur birokrasi pemerintahan kabupaten setempat dengan menerjunkan tenaga-tenaga handal untuk menyerap segala aspirasi dan potensi besar masyarakat desa untuk dikembangkan menjadi sebuah keunggulan bersaing yang merupakan ciri khas daerahnya. Misalnya didesa tersebut terkenal akan kualitas hasil panen padi, hasil panen cabai, hasil panen buah-buahan dan sebagainya.
2. Pelayanan akses informasi sebesar-besarnya untuk masyarakat desa
Akses informasi disini sangat berkaitan dengan informasi mengenai bercocok tanam, informasi peningkatan taraf hidup, informasi mengenai kemajuan masyarakat desa negara lain yang dapat memotivasi masyarakat desa untuk lebih maju dan semangat bekerja dan berkarya. Akses informasi ini bisa dalam wujud tempat atau lembaga pelayanan informasi dalam bentuk komputer internet, maupun kantor pemerintahan tertentu di wilayah desa yang mempunyai tugas memberikan informasi sebesar-besarnya untuk bisa diakses oleh masyarakat. Tujuan utama dari pelayanan informasi ini adalah agar masyarakat desa menjadi “melek” ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang dapat digunakan untuk peningkatan taraf hidup dan kesejahteraannya.
3. Adanya bantuan dana desa dari pemerintah setiap tahun
Era pemerintahan Jokowi-JK saat ini sudah menggelontorkan dana untuk desa sebesar kurang lebih 1 milyar untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Dana ini sudah merupakan komitmen pemerintah untuk diberikan setiap tahun dan bahkan bisa meningkat jumlahnya. Pihak-pihak pengelola desa harus bekerja sama dengan masyarakat agar dapat memanfaatkan dana desa tersebut melalui program-program yang jelas, terarah, dan terukur demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Misalnya pembangunan pasar, sarana dan prasarana transportasi untuk pemasaran produk pertanian, pembangunan irigasi yang bermanfaat untuk semua warga desa yang mayoritas petani, dan pembangunan koperasi khusus untuk masyarakat desa dalam rangka bantuan dana untuk peningkatan produktifitas pertanian. Sebenarnya jika dilihat program bantuan dana desa ini sudah merupakan kebijakan pembangunan yang pro-poor. Artinya pemerintahan era Jokowi-JK ini sudah mulai menyadari betul pentingnya pembangunan desa dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang pro-poor tadi. Dan hal ini tentunya dapat mengurangi jumlah kemiskinan di Indonesia secara drastis apabila program ini dilaksanakan secara konsisten.
4. Penyaluran kredit produktif tertentu oleh bank yang ditunjuk khusus pemerintah
Indonesia memiliki Bank yang sudah tersebar luas dipelosok desa dan diyakini dapat berperan besar untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, yaitu BRI Unit Desa. Melalui BRI Unit Desa ini pemerintah juga dapat membantu akses kredit bagi masyarakat di sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Dengan adanya bantuan dana ini para petani kita tentunya dapat meningkatkan produktifitas pertaniannya agar bisa menembus pasar kota besar, dan bahkan pasar nasional. Syukur-syukur kualitas produk pertanian tersebut bisa menembus pasar ekspor. Untuk itu bantuan tenaga-tenaga penyuluh yang ditugaskan oleh pemerintah sangat diperlukan dalam meningkatkan kinerja produksi pertanian. Tenaga-tenaga penyuluh itu bisa dari PNS yang lulusan S1 pertanian atau D3 pertanian yang ditugaskan khusus di pedesaan.
REFERENSI:
Suryana, 2000, Ekonomi Pembangunan : Problematika dan Pendekatan, Jakarta : Salemba Empat.
Hasibuan, Malayu S.P., 1987, Ekonomi Pembangunan Dan Perekonomian Indonesia, Bandung : CV. ARMICO.
Todaro, Michael dan Stephen C. Smith, 2004, Ekonomi Pembangunan : Didunia Ketiga, Jakarta : Erlangga.

SUCCESS IS NEVER ENDED

SUCCESS IS NEVER ENDED
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Kebanyakan orang apabila sudah mencapai kesuksesan cenderung berdiam diri, duduk menikmati hidup dengan senang-senang, maupun dengan menghambur-hamburkan uang dalam rangka menjalani hoby “mahal” tertentu. Orang yang merasa sudah sukses ini cenderung statis dalam menjalani hidup, tidak mau tantangan baru, lebih memilih berada pada posisi “aman” dan tidak memiliki kreatifitas dalam menjalani aktifitas. Orang-orang seperti ini berpandangan bahwa kerja kerasnya sudah selesai melalui proses panjang dimasa lalu sehingga akhirnya berada pada posisi puncak kekayaan atau kesuksesan tadi. Menurut penulis pandangan atau pola pikir seperti ini adalah keliru. Sebab dengan pencapaian kesuksesan yang dperoleh yang ditandai dengan jumlah kekayaan “tinggi” yang dimiliki, justru inilah titik balik untuk menuju ke arah kesuksesan berikutnya yang belum pernah dicapai sebelumnya. Artinya dengan kekayaan yang sudah dimiliki tersebut dapat digunakan untuk melakukan pengembangan-pengembangan tertentu. Pengembangan ini dalam rangka mengarahkan hidup sukses menuju ke arah yang lebih sukses tadi.
Sebagai contoh bisa penulis gambarkan, seorang pengusaha muda kuliner yang mencapai kesuksesan dalam menjalani bisnis kulinernya selama 6 tahun yang ditandai dengan banyaknya konsumen setiap hari yang membeli dan menikmati jenis-jenis makanan di rumah makannya dan memiliki omzet laba bersih setiap bulan yang besar, maka pengusaha kuliner ini dapat melakukan pengembangan-pengembangan dalam bentuk bisnis baru agar bisa menggapai kesuksesan dalam bidang bisnis lainnya. Pengusaha kuliner tersebut bisa membuka bisnis bengkel motor atau servis handphone merek “branded” dan lainnya. Dalam konteks ini pengembangan ini disebut sebagai pengembangan bisnis atau variasi bidang bisnis.
Variasi bidang bisnis ini tentunya tidak bisa dilakukan pada saat pengusaha tersebut mulai membuka usaha kuliner tadi. Artinya untuk melakukan pengembangan bisnis, seorang pengusaha harus bisa mencapai kesuksesan terlebih dahulu pada bidang bisnis yang digeluti pertama kali. Untuk mencapai kesuksesan pada bidang bisnis pertama ini memang membutuhkan perjuangan yang luar biasa besar, baik tenaga, pikiran, pengorbanan biaya, dan perekrutan karyawan yang kompeten sesuai dengan bidang bisnis tersebut. Dan setiap pengusaha bisnis memiliki rentang waktu yang berbeda satu sama lainnya dalam membuat bisnisnya sukses. Ada yang mencapai 5 tahun, ada yang 6 tahun, dan bahkan ada yang 10 tahun baru mencapai kesuksesan. Hal inilah yang membuat persepsi dimasyarakat dan para pakar bahwa ada “pelaku bisnis sejati” dan ada “pelaku bisnis dadakan”. Pelaku bisnis sejati dicirikan dengan adanya motivasi berprestasi yang tinggi dalam menjalani bisnisnya dan penuh semangat dengan pantang menyerah. Sedangkan pelaku bisnis dadakan cenderung bingung dalam melangkah, gampang putus asa, dan tidak memiliki konsep pengelolaan bisnis yang jelas.
Pelaku bisnis sejati yang mencapai kesuksesan dan berniat untuk melakukan pengembangan bisnis baru, tentunya akan memiliki sikap mental pemberani dan mau dalam mengambil resiko. Pelaku bisnis ini tentunya akan pandai dan cermat dalam berhitung dan bisa melakukan kalkulasi biaya-biaya dalam rangka membuka bisnis baru. Pengalaman pengelolaan bisnis pertama kali sebelum bisnis baru tentunya akan dijadikan pegangan dan pelajaran dalam melangkah ke bisnis berikutnya. Kita bisa mengambil contoh betapa banyak pengusaha “etnis cina” yang tinggal di Indonesia memiliki banyak variasi bisnis yang tersebar di seluruh kota besar di Indonesia. Pengusaha ini benar-benar berada pada posisi kesuksesan yang tiada hentinya, dan melompat dari kesuksesan bidang “A” menuju pada kesuksesan bidang “B” dan seterusnya.
Inilah yang namanya esensi dari bisnis, terus berkembang dan berkembang tiada hentinya. Namun bagaimana dalam konteks kesuksesan yang tiada berakhir dalam konteks pekerjaan?? Apabila wujudnya dalam konteks pekerjaan, maka kesuksesan ini ditandai dengan keberhasilan menjalankan pekerjaan secara maksimal dan tanpa kesalahan yang berarti. Hal ini menandakan bahwa pekerja tersebut mampu menjalani profesinya dengan sungguh-sungguh, penuh penghayatan dan berusaha maksimal dalam memberikan kontribusi terbaik pada kantor dimana ia bekerja. Misalnya selama bekerja dalam kurun waktu 10 tahun membidangi pekerjaan “Accounting”. Apabila selama 10 tahun ini ia merasa dapat menjalankan pekerjaan dengan baik, maka dimungkinkan untuk berpindah bidang pekerjaan lainnya meskipun dalam kantor yang sama misalnya sebagai “Administrator Database”. Orang tersebut dapat mengajukan mutasi atau berpindah profesi pekerjaan pada pimpinan perusahaan. Hal ini dilakukan dalam rangka keinginan menggeluti bidang pekerjaan tertentu lainnya yang belum pernah dilakukan. Dengan harapan bahwa bidang pekerjaan lainnya tersebut dapat dilaksanakan secara maksimal juga dalam rangka memberikan kontribusi positif bagi kantor.
Bagaimana konteksnya jika dalam profesi dosen?? Profesi dosen tentunya merupakan profesi yang bertujuan memberikan pengajaran bagi para mahasiswa yang mengikuti jurusan tertentu, misalnya jurusan manajemen. Dosen-dosen yang mengajari mata kuliah di bidang manajemen ini tentunya berupaya maksimal agar materi pembelajaran yang diberikan dapat diserap secara optimal oleh mahasiswa. Misalnya ada seorang dosen yang selama 3 tahun mengajari mata kuliah “manajemen bisnis” dan “manajemen operasi”. Selama 3 tahun ini tentunya dosen tersebut sangat memiliki pengalaman berarti dalam memberikan ilmu pengetahuannya pada mahasiswa. Dan apabila ia sudah merasa sangat mampu dalam memberikan pengajaran optimal, dosen tersebut perlu beralih pada bidang mata kuliah lain yang belum pernah diajarkan. Seorang dosen umumnya memiliki pendidikan tinggi dan bahkan hingga jenjang “profesor”. Untuk itu tidak akan sulit apabila ia berkeinginan untuk mengajarkan mata kuliah lain di luar kompetensi dia. Misalnya yang sebelumnya mengajari mata kuliah “manajemen bisnis” dan “manajemen operasi tadi”, dosen tersebut dapat menjalani pengajaran mata kuliah “studi kelayakan bisnis” dan “metode penelitian untuk manajemen”. Apabila dosen tersebut bisa mengajari mahasiswa dengan mata kuliah lampau dan bisa mencapai kesuksesan ditinjau dari “bagusnya” nilai ujian mahasiswa, maka dosen tersebut tentunya harus memiliki motivasi tinggi untuk sukses dalam mengajarkan mata kuliah baru itu. Artinya jika dosen bisa sukses pada bidang tertentu, maka ia bisa sukses pula dalam bidang lainnya. Inilah yang juga dinamakan kesuksesan tiada henti.
Berdasarkan penjelasan di atas, kita semua harus menyadari bahwa yang namanya posisi statis adalah sesuatu hal yang bisa membuat kita tidak kreatif dan tidak memiliki inovasi. Oleh karena itu apabila seseorang sudah mengalami kesuksesan selama bertahun-tahun dan statusnya adalah statis di bidang tertentu, maka ia sebaiknya melakukan pengembangan diri pada bidang-bidang lainnya dalam rangka mencapai kesuksesan berikutnya. Hal ini bisa dilakukan dalam bentuk pengembangan bisnis, pengembangan pekerjaan dan pengembangan profesi dosen tersebut.

BELAJAR DARI KEPEMIMPINAN “BETTI ALISJAHBANA YANG AMAZING”

BELAJAR DARI KEPEMIMPINAN “BETTI ALISJAHBANA YANG AMAZING”
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Betti Alisjahbana, seorang wanita kelahiran Bandung, 2 Agustus 1960 ini merupakan orang yang pernah menjabat sebagai Presiden Direktur IBM di kawasan Asia Pasifik. Betti dibesarkan dalam keluarga yang memahami benar pentingnya pendidikan. Semenjak kecil, Betti sudah rajin mengikuti kursus tambahan untuk mengasah ketrampilannya. Sejak SD Betti juga merupakan sosok yang gemar berbahasa Inggris, sehingga tidak mengherankan ketika menjadi mahasiswa di jurusan Arsitektur ITB, ia aktif dalam Student English Forum.
Kiprah Betti di perusahaan IBM dimulai setelah ia lulus dari Institut Tekhnologi Bandung (ITB) jurusan Arsitektur. Setelah selesai mengikuti program ini, ia menjalani berbagai posisi di bidang sales dan marketing. Kiprah dan prestasi Betti kemudian meningkat, di mana ia mendapat penugasan internasional tahun 1996 hingga 1998 sebagai General Manager, General Business, Marketing untuk IBM kawasan ASEAN dan Asia Selatan dan berkantor di Singapura selama 2 tahun. Tidak lama kemudian, Betti dipercaya memimpin IBM Indonesia tahun 1999 hingga sekarang (2008). Dalam posisi ini, Betti memimpin 300 orang, serta bertanggung jawab kepada lebih banyak orang lagi karena IBM Indonesia menjalin kerjasama dengan Network Partner, Distributor, Dealer, dan perusahaan-perusahaan lainnya.
Kesuksesan Betti dalam memimpin IBM Indonesia tidak terlepas dari 3 prinsip yang selama ini dipegangnya, yaitu kejujuran, integritas, dan motivasi yang tinggi. Betti melihat kenyataan bahwa kemampuan seseorang tidak ada batasnya. Bila seseorang mengatakan bahwa dia mampu, maka ia mampu. Bila ia berkata tidak mampu, maka ia tidak mampu. Bila seseorang memiliki motivasi yang tinggi dan percaya bahwa ia bisa melakukan segala sesuatu serta berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya, maka kemampuan seseorang tidak ada batasnya. Bagi pemimpin IBM Indonesia ini, kejujuran dan integritas sangat diperlukan karena kedua hal ini menumbuhkan kepercayaan terhadap orang disekitarnya termasuk pelanggan, atasan, rekan kerja, dan tim yang dipimpinnya. Kepercayaan membuat kerjasama melakukan suatu pekerjaan menjadi lebih mudah. Kepercayaan akan melahirkan dukungan, meskipun situasi sedang sulit dan penuh tantangan.
Sebagai pemimpin IBM Indonesia, Betti berusaha maksimal dalam membawa IBM tumbuh lebih cepat daripada marketnya serta mengubah persepsi orang yang selama ini menganggap IBM sebagai perusahaan hardware saja. IBM saat ini merupakan salution provider yang memberikan layanan konsultasi bisnis, sistem integrasi, perangkat keras dan perangkat lunak kepada pelanggan sehingga mereka bisa memperoleh manfaat secara maksimal dari teknologi IBM.
Berbagai penghargaan Betti karena kerja kerasnya sebagai pemimpin IBM antara lain Outstanding Achievement Award di tahun 1999, Country General Manager Excellence Award 2000, yaitu penghargaan yang diberikan pada lima negara terbaik dari 170 negara di mana IBM beroperasi. Dalam hubungannya dengan karyawan, Betti membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan karyawan masuk dan bertukar pikiran dengannya. Dalam waktu-waktu tertentu pun ia mengadakan diskusi terbatas dengan lapisan-lapisan karyawan. Ia tidak ingin menjadi pemimpin yang hanya berada di atas menara gading dan tidak mengenal siapa-siapa orang yang dipimpinnya. Betti juga merupakan sosok pemimpin yang pandai menempatkan diri, kapan ia bersikap tegas dan keras, dan kapan ia harus bersikap luwes, fleksibel dan penuh tenggang rasa. Betti juga tidak segan-segan di panas terik berbaur dengan setiap karyawannya. Dalam setiap langkah hidupnya, Betti juga berusaha rendah hati dan menggunakan energynya untuk menuntut suatu perbaikan kualitas kehidupan dengan berbagai pengalaman yang didapatnya, pengetahuan ataupun harta yang dimilikinya secara pribadi. Betti merupakan sosok pemimpin IBM yang selalu menjaga standar etika bisnis dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Dalam berbagai kesibukannya, Betti juga menyempatkan dalam menyumbangkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki dengan memenuhi undangan untuk berbicara di berbagai seminar yang mengangkat tema teknologi, kepemimpinan, dan good corporate governance. Ia juga pernah dipercaya sebagai ketua tim dewan juri Bung Hatta Anti Coruption Award yang setahun sekali memberikan penghargaan kepada mereka yang dikenal sebagai pribadi yang bersih dari praktek korupsi, termasuk mereka yang berperan aktif memberi inspirasi dan mempengaruhi masyarakat untuk memberantas korupsi.
Dalam konteks organisasi kewanitaan, Betti juga merupakan sosok pemimpin. Betti menjadi pemimpin dalam wadah organisasi yang dinamakan Women Council untuk kawasan ASEAN dan Asia Selatan. Tujuan Women Council adalah membantu para perempuan agar bisa berhasil dalam karirnya dan mampu membagi waktunya dengan bijaksana sebagai ibu, istri, menantu, dan wanita karir.
Dalam konteks kepemimpinan Betti di IBM Indonesia, Betti berusaha menerapkan berbagai strategi bisnis agar IBM semakin mengkukuhkan posisinya di kancah persaingan. Betti menerapkan strategi on-demand ke berbagai perusahaan. Dengan konsep ini, perusahaan berbasis on-demand dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi, baik positif maupun negatif serta terus meningkatkan kinerja perusahaan baik dari segi perolehan laba, produktivitas dan sebagainya. Dalam membantu setiap pelanggannya menjadi perusahaan berbasis on-demand, Betti sebagai pemimpin IBM menerapkan tiga langkah. Pertama, menyediakan jasa konsultasi transformasi bisnis. IBM membantu pelanggannya mendefinisikan on-demand strategy dan busniness model yang diperlukan supaya perusahaan mempunyai dasar yang benar dan kuat untuk menjadi sebuah perusahaan berbasis on-demand. Pendekatan kedua adalah menyediakan teknologi yang menunjang di mana perusahaan berbasis on-demand memiliki karakteristik khusus seperti terbuka, artinya perusahaan berbasis on-demand perlu mengintegrasikan proses bisnisnya mulai dari internal perusahaan hingga ke supplier dan konsumen. Pendekatan ketiga adalah fleksibilitas pengadaan teknologi itu sendiri. Dengan adanya fleksibilitas dalam pengadaan teknologi, perusahaan bisa menikmati teknologi dan support tanpa harus memiliki secara langsung teknologi itu. Inilah yang dinamakan outsourcing.
Betti selaku pemimpin IBM juga berusaha memasyarakatkan teknologi informasi. Hal ini dikarenakan Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia dalam hal pemanfaatan teknologi informasi yang menunjang berbagai sektor kehidupan. Di bawah kepemimpinan Betti, IBM Indonesia juga mencoba membentuk Linux Community dan bermitra dengan orang-orang yang bergerak di bidang Linux, baik itu penyedia perangkat lunak, penyedia tenaga ahli dalam hal implementasi, penyedia training dalam bidang Linux, majalah Linux dan sebagainya. Bersama-sama dengan mereka IBM mempromosikan Linux guna mendukung percepatan adopsi teknologi informasi.
IBM Indonesia di bawah kepemimpinan Betti juga sangat terlibat aktif dalam program corporate social responsibility (CSR), di antaranya terlibat dalam pengembangan pendidikan anak usia dini yang disebut dengan program Kid’s Smart. Tahun 2003, IBM Indonesia membantu 45 sekolah, jauh meningkat dibandingkan tahun 2002 yang hanya 30 sekolah. Program ini juga mencoba memperkenalkan teknologi sejak usia dini dengan pendekatan proses belajar yang menarik dan interaktif. Di lingkungan pendidikan SMA, IBM mengadakan workshop untuk mengenalkan teknologi kepada para siswa dengan cara yang menarik. Workshop ini mengajarkan bagaimana menggunakan komputer, mendesain website, bereksperimen, menganalisis DNA dan sebagainya. Tujuannya adalah membangkitkan minat mereka terhadap teknologi sehingga mereka bisa terjun ke dunia teknologi nantinya. Untuk kalangan mahasiswa, IBM Indonesia juga mempunyai program Student at Work, sebuah program yang memakan waktu beberapa bulan, di mana mahasiswa diberi pekerjaan sesungguhnya yang berkaitan dengan teknologi komputerisasi.
IBM Indonesia di bawah kepemimpinan Betti juga tetap bertahan di tengah krisis nasional. Ada 2 faktor yang menyebabkan IBM sanggup bertahan di tengah-tengah krisis, pertama adalah fokus. IBM Indonesia fokus pada kepuasan pelanggan dengan memberikan pelayanan yang terbaik, jauh lebih baik dari para pesaingnya. Faktor kedua adalah IBM Indonesia terus menjadikan pegawainya terampil dan memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu IBM Indonesia membuka kesempatan untuk belajar bagi semua pegawainya melalui program IBM Global Campus yang merupakan kombinasi dari e-learning. Dalam situs IBM Global Campus Site, ada ribuan kelas dengan berbagai bidang ilmu. Melalui program ini, selain dapat mempelajari teknologi dan industri, para pegawainya juga dapat mengembangkan kemampuan pribadinya seperti memimpin orang, mengatur waktu dan sebagainya.
Kepemimpinan Betti dalam perusahaan IBM Indonesia ini mengisyaratkan kepada kita semua bahwa menjadi seorang pemimpin perusahaan besar adalah sesuatu hal yang berat, namun sebuah keniscayaan juga untuk dapat terealisasi dengan baik. Artinya menjadi seorang pemimpin memang sangat membutuhkan pengetahuan konseptual, pengetahuan managerial, kompetensi pengelolaan sumber daya manusia, kearifan dan kebijaksanaan dalam memimpin, pemahaman yang baik dan holistik akan visi dan misi perusahaan, pemahaman yang baik akan kondisi perusahaan dan bagaimana mengarahkan perusahaan ke arah kesuksesan. Betti merupakan salah satu dari tokoh pemimpin perusahaan besar yang sukses dalam memimpin perusahaan dan membawa IBM Indonesia ke puncak kejayaannya. Hal ini juga mengindikasikan bahwa peran kepemimpinan, fungsi kepemimpinan, dan gaya kepemimpinan merupakan aspek-aspek penting dalam menjalankan roda kepemimpinan organisasi. Terlebih lagi jika seorang pemimpin mampu mengkombinasikan dengan baik akan fungsi, gaya, dan peran kepemimpinan secara optimal dan menerapkannya berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Harus diakui bahwa tokoh-tokoh pengusaha sekaligus pemimpin besar perusahaan Indonesia yang sukses dalam menghantarkan perusahaannya mencapai sukses terbilang sedikit. Kepemimpinan Betti pada IBM Indonesia ini perlu dijadikan rujukan besar bagi pemimpin-pemimpin muda perusahaan yang ada di Indonesia. Bagi penulis pribadi, kepemimpinan Betti ini adalah sesuatu hal yang “Amazing”, “Superior”, “Wonderfull” dan “Mengesankan……..”
REFERENSI:
Biografi Betti Alisjahbana Dalam Memimpin Perusahaan IBM Indonesia

MOTIVASI BELAJAR + NIAT BERPRESTASI + ETOS KERJA TINGGI = KESUKSESAN

MOTIVASI BELAJAR + NIAT BERPRESTASI + ETOS KERJA TINGGI = KESUKSESAN
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Judul di atas merupakan rumus menggapai kesuksesan seseorang dalam menjalani aktivitas kehidupan. Rumus di atas merupakan pandangan penulis bagi setiap orang yang ingin mencapai kesuksesan, baik di sekolah, di lingkungan masyarakat, di organisasi, di dunia kerja, maupun di dunia bisnis perusahaan. Dalam pandangan penulis, kesuksesan seseorang itu memang tidak bisa dicapai secara instan, dan membutuhkan banyak sekali faktor yaitu kemauan untuk selalu belajar, kemauan dan niat yang tinggi untuk berprestasi, dan memiliki etos kerja yang tinggi.
Jika kita berbicara mengenai motivasi belajar, domain motivasi ini tidak hanya dikhususkan untuk para siswa pelajar SD, SMP dan SMA. Motivasi belajar harus dimiliki oleh siapapun juga tanpa terkecuali. Motivasi belajar diartikan sebagai suatu sikap atau semangat atau kegigihan untuk selalu belajar dalam memperkaya wawasan, keilmuan, pengetahuan, dan kompetensi yang dimiliki. Dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran, orang yang belajar tersebut harus menggunakan daya pikiran dan kapasitas otak yang dimiliki agar mampu berpikir “bagaimana saya harus belajar”. Belajar tidak hanya berpatokan pada buku-buku, melainkan bisa dilakukan dengan banyak berdiskusi dengan sahabat atau teman yang memiliki kelebihan tertentu, dengan banyak mengikuti diskusi publik atau seminar-seminar, dengan banyak berkunjung ke internet dalam membaca artikel atau tulisan ilmiah, dan dengan mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
Semakin besar kemauan atau motivasi belajar seseorang tentunya akan membuat orang tersebut menyerap segala ilmu, info, wawasan dan pengetahuan yang dimiliki untuk bisa dimanfaatkan dalam segala aktifitas sehari-hari. Orang yang menyerap ilmu pengetahuan tersebut tentunya akan memiliki sikap “Oh ternyata saya ini masih kurang dalam banyak hal”. Mengapa penulis mengatakan demikian?? Sebab orang yang selalu belajar dan belajar dan penuh kesadaran akan memahami bahwa “ia” sebenarnya tidak memiliki apa-apa dibandingkan “ilmu Tuhan”. Hal ini menandakan bahwa memang manusia sebenarnya tidak memiliki apapun di dunia ini. Semua ilmu pengetahuan yang ada di seluruh dunia ini hanyalah milik Tuhan, dan kita hanya diwajibkan untuk mempelajari dan mendalaminya dengan baik. Tidak layak dan tidak pantas seseorang yang berilmu tinggi misalnya sampai dengan jenjang “Profesor” itu sombong, arogan, mengacungkan dada, dan bersikap arogan atau otoriter kepada pihak yang dianggap “masih di bawahnya”. Dengan memiliki banyak sekali ilmu pengetahuan tentunya “ia” memiliki banyak sekali kewajiban yang ditekankan oleh agama (khususnya islam) yaitu membagi dan menyebarkan ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan umat dan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam penerapan kehidupan sehari-hari, seseorang yang memiliki motivasi belajar tinggi hendaknya harus ditunjang dengan kemauan atau niat untuk berprestasi. Artinya ia memiliki pemikiran bahwa dengan memiliki ilmu atau wawasan yang mendalam maka akan dilaksanakan atau diamalkan dalam praktek kehidupan. Pengamalan semua ilmu atau wawasan tersebut tentunya akan diwujudkan dalam langkah-langkah riil dalam rangka berkarya pada berbagai bidang, misalnya dalam hal tulis menulis, mendirikan kelompok studi, mendirikan sekolah gratis untuk masyarakat miskin, mendirikan perpustakaan umum untuk anak-anak yang tidak bisa bersekolah, menyumbangkan buku-buku yang dimiliki secara gratis untuk anak-anak yatim piatu di panti asuhan dan sebagainya. Inti dari hal ini adalah apapun bentuk keilmuan atau pengetahuan yang dimiliki memang harus teraplikasikan dalam kehidupan sebagai perwujudan prestasi orang yang bersangkutan. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa perwujudan prestasi tersebut harus semata-mata diniatkan “Ikhlas” karena Tuhan (Alloh) dan bukan dalam rangka ingin mendapatkan pujian atau kehormatan semata. Kalau pun dengan prestasi yang dimiliki tersebut akan menimbulkan atau mendorong “rezeki” itu hadir, maka hal itu merupakan kewajaran dan hak orang yang bersangkutan atas “ijin” Tuhan.
Dalam konteks dunia kerja, kita mengenal yang namanya jenjang karir. Jenjang karir ini tentunya mulai dari tingkat yang terendah sampai dengan tingkat yang tertinggi atau pemimpin puncak. Rasanya sangat tidak mungkin seorang karyawan bisa menggapai jabatan atau karir di atasnya tanpa kemauan untuk belajar dan tanpa kemauan untuk berprestasi. Berprestasi disini pun harus ditunjang dengan sikap kedewasaan dan memiliki rasa kepedulian dengan sesama rekan kerja yang kesulitan menjalankan pekerjaan. Artinya seorang karyawan yang paham betul akan makna “belajar” dan niat berprestasi yang benar maka tidak akan melakukan perbuatan “sikut-sikutan” di dalam kantor dalam rangka menggapai tujuan yang diinginkan. Justru setiap karyawan yang memiliki motivasi belajar tinggi, ditunjang niat berprestasi akan menyebabkan etos kerja tinggi pula. Etos kerja disini harus diketahui sangat terkait dengan yang namanya “etika kerja”, dan etika kerja ini sudah jelas menyangkut hal-hal yang baik atau patut untuk dilakukan dan hal-hal yang seharusnya dijauhi atau tidak dilakukan.
Setiap karyawan atau orang yang mampu menerapkan konsep atau rumus dalam judul penulis di atas “insya Alloh” bisa mencapai kesuksesan dengan baik atau optimal. Harus diingat bahwa yang namanya kesuksesan tidak identik dengan kekayaan. Bagaimana mungkin orang dianggap sukses karena kekayaan, padahal kekayaannya haram misalnya, kekayaannya diperoleh dengan perbuatan yang tidak halal, tidak barokah, melanggar hukum seperti korupsi berjamaah. Bagi penulis yang namanya kesuksesan sangat sesuai dan tergantung dari kapasitas orang yang bersangkutan. Tukang kebun yang pandai merawat dan menata kebun bisa dipastikan memiliki pekerjaan yang sukses karena dipercaya oleh banyak orang. Tukang bangunan yang dipercaya banyak orang untuk merenovasi rumah juga bisa dikatakan sukses karena prestasi dan etos kerjanya yang tinggi. Seseorang yang memiliki hoby dalam dunia tulis menulis juga bisa dikatakan sukses karena dengan semua tulisan yang disajikan dapat memberikan pencerahan dan wawasan pada setiap orang untuk bisa keluar dari kebodohan, dan ini juga merupakan “amal jariyah” yang mengalir sampai kiamat atau hari kebangkitan meskipun orang yang bersangkutan sudah meninggal. Seorang konsultan bisnis yang dipercaya oleh banyak manajemen perusahaan dalam menyelesaikan permasalahan bisnis juga bisa dikatakan sukses, karena ia mampu menyelesaikan segala permasalahan suatu perusahaan dan dapat membawa perusahaan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
Intinya adalah bahwa kesuksesan itu bisa diraih dalam hal apapun dan dalam bidang apapun. Yang penting rumusan yang tidak boleh dilupakan dalam mencapai kesuksesan adalah Motivasi Belajar Tinggi + Niat Untuk Berprestasi + Etos Kerja Tinggi. Apabila 3 rumus ini dapat dilaksanakan dengan baik, penulis yakin kesuksesan itu akan mendatangi siapapun orangnya. Mau membuktikan?? Silahkan dicoba……

KEMISKINAN DAN STRATEGI PENANGGULANGANNYA (SEBUAH PANDANGAN DAN PEMIKIRAN PENULIS)

KEMISKINAN DAN STRATEGI PENANGGULANGANNYA (SEBUAH PANDANGAN DAN PEMIKIRAN PENULIS)
OLEH: ANTON BUDHI NUGROHO, SE, MM, MES, CSA, CEA, CCAE, CEMB
(0822 849 42665)
Pin BBm: 5895CF2A dan 54AD4157
Kesenjangan yang terjadi antar lapisan penduduk dalam suatu masyarakat pada hakekatnya bersumber dari problema kemiskinan yang dialami oleh masyarakat yang bersangkutan. Upaya mengurangi tingkat kesenjangan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari upaya menanggulangi atau memerangi masalah kemiskinan itu sendiri. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa konsep kemiskinan tidak dapat dipandang dari pengertian yang sempit, tetapi kemiskinan harus dipandang dari aspek yang luas (Nugroho, 2001). Oleh karena itu diperlukan langkah yang tepat dalam menyelesaikan problema kemisikinan agar tidak menjadi beban bagi pembangunan (Usman, 2004).
Sebelum beranjak pada strategi (langkah) penanggulangan kemiskinan, ada baiknya perlu didefinisikan arti dan makna dari kemiskinan. Hal ini penting mengingat kemiskinan merupakan kondisi yang multidimensi, sehingga membutuhkan penangan secara integral dan holistik. Secara sederhana, kemiskinan dapat didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang atau sekumpulan orang berada dalam keadaan yang serba kekurangan, khususnya dalam hal ekonomi, misalnya pendapatan yang sangat tidak mencukupi kebutuhan dasar minimal sehari-hari (Hamid dan Anto, 2000). Namun demikian, kemiskinan tidak saja berkaitan dengan rendahnya pendapatan dan tingkat konsumsi masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan dan akses kesehatan, ketidakberdayaan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan publik (powerlessness), ketidakmampuan menyampaikan aspirasi (voicelessness), serta berbagai masalah yang berkaitan dengan pembangunan manusia (Hamid, 2006). Kemiskinan juga merupakan keadaan dimana terjadi kekurangan akan hal-hal penting untuk dimiliki seperti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum. Hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup (Slamet, 2004). Menurut Sangadji (dalam Yustika, 2006), kemiskinan terkait dengan kepemilikan modal, kepemilikan lahan, sumber daya manusia, kekurangan gizi, pendidikan, pelayanan kesehatan, pendapatan perkapita yang rendah dan minimnya investasi.
Menurut Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia/Lakpesdam (2003), kemiskinan dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut merupakan ketidakmampuan untuk memenuhi standar minimal kebutuhan hidup. Sedangkan kemiskinan relatif didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemiskinan absolut ini pada umumnya disejajarkan dengan kemiskinan relatif, yang artinya adalah keadaan perbandingan antara kelompok pendapatan dalam masyarakat. Intinya, kesenjangan antara kelompok yang mungkin tidak miskin dan kelompok masyarakat yang relatif kaya.
Selanjutnya, Ginandjar Kartasasmita (dalam Sastraatmadja, 2003) mengatakan bahwa seseorang dikategorikan miskin secara absolut, apabila tingkat pendapatannya lebih rendah dari pada garis kemiskinan absolut, atau ketika jumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum yang dicerminkan oleh garis kemiskinan absolut tersebut. Sementara Arsyad (1999) menyatakan bahwa kemiskinan mutlak terkait dengan tingkat pendapatan dan kebutuhan yang dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan seseorang hidup secara layak. Dengan demikian kemiskinan diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan seseorang dengan tingkat pendapatan yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan dasarnya (dalam Yustika, 2006).
Di Indonesia, ukuran kemiskinan yang terkenal adalah ukuran yang dibuat oleh Sayogyo (1997). Parameter kemiskinan tersebut dengan mengukur kemiskinan dari konsumsi beras per kapita per tahun, yaitu di bawah 420 kilogram bagi daerah perkotaan dan 320 kilogram di daerah pedesaan. Perbedaan ini dapat dipahami karena dinamika kehidupan yang berbeda antara keduanya. Penduduk daerah perkotaan mempunyai kebutuhan yang relatif lebih beragam daripada daerah pedesaan sehingga mempengaruhi pola pengeluaran. Biro Pusat Statistik (1987) memakai patokan angka per kapita pengeluaran Rp. 20.614 untuk penduduk kota dan Rp. 13.295 untuk penduduk desa, yang dihitung selama sebulan untuk mengukur penduduk miskin (dalam Yustika, 2006).
Kemiskinan bukan saja berurusan dengan persoalan ekonomi tetapi bersifat multidimensional karena dalam kenyataannya juga berurusan dengan persoalan-persoalan non ekonomi, seperti sosial, budaya, politik, pendidikan dan khususnya kesehatan (Nugroho, 2001., Slamet, 2004). Karena sifatnya yang multidimensional maka kemiskinan tidak hanya berurusan dengan kesejahteraan materi, tetapi juga berurusan dengan kesejahteraan sosial, dan derajat kesehatan yang dimiliki. Untuk itu perlu dipahami dimensi-dimensi yang terkait dengan gejala kemiskinan tersebut.
Pertama, dimensi kemiskinan berdasarkan ekonomi atau materi. Dimensi ini menjelma dalam berbagai kebutuhan dasar manusia yang sifatnya material, yaitu seperti pangan, sandang, perumahan, dan lain-lain. Dimensi ini dapat diukur dalam rupiah meskipun harganya akan selalu berubah-ubah setiap tahunnya tergantung dari tingkat dan laju inflasi.
Kedua, kemiskinan berdasarkan dimensi sosial dan budaya. Ukuran kuantitatif kurang dapat digunakan untuk memahami dimensi ini sehingga ukurannya sangat bersifat kualitatif. Lapisan yang secara ekonomis miskin akan membentuk kantong-kantong kebudayaan yang disebut budaya kemiskinan demi kelangsungan hidup mereka. Budaya kemiskinan ini dapat ditunjukan dengan terlembaganya nilai-nilai seperti apatis, apolitis, fatalistik, ketidakberdayaan dan lain-lain. Untuk itu serangan terhadap kemiskinan sama artinya pula dengan pengikisan budaya. Artinya apabila budaya tersebut tidak dihilangkan maka kemiskinan ekonomi juga sulit dihilangkan.
Ketiga, kemiskinan berdimensi struktural atau politik, artinya orang yang mengalami kemiskinan ekonomi pada hakekatnya karena mengalami kemiskinan struktural atau politis. Kemiskinan ini terjadi karena orang miskin tersebut tidak memiliki sarana untuk terlibat dalam proses politik, tidak memiliki kekuatan politik, sehingga menduduki struktur sosial paling bawah. Untuk itu langkah pengentasan kemiskinan yang efektif harus mengatasi hambatan-hambatan yang sifatnya struktural dan politis.
Keempat, kemiskinan berdimensi pendidikan. Keterkaitan kemiskinan dengan pendidikan sangat besar karena pendidikan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu dan ketrampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia. Mendidik dan memberikan pengetahuan berarti menggapai masa depan. Hal tersebut seharusnya menjadi semangat untuk terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa. Tidak terkecuali keadilan dalam memperoleh pendidikan harus diperjuangkan dan seharusnya pemerintah berada pada garda terdepan untuk mewujudkannya.
Kelima, kemiskinan berdimensi kesehatan. Kesehatan didefenisikan sebagai kondisi yang memungkinkan optimalisasi potensi insani manusia, baik secara fisik, psikis maupun sosial (Slamet, 2004). Optimalisasi potensi bagi seseorang, salah satunya adalah dengan bekerja mencari nafkah dan mengantarkan diri menjadi orang yang tidak miskin. Pada sisi lain, secara resiproksial, kemiskinan berpotensi besar menyebabkan seseorang menjadi tidak sehat dan jatuh sakit. Realitas di masyarakat sangat jelas menunjukkan bahwa karena tidak mampu membayar biaya pelayanan medis, sebagian besar masyarakat yang sakit terpaksa harus lari ke dukun atau pengobatan tradisional yang relatif lebih murah dan terjangkau dengan tingkat sosial ekonominya. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, betapa tidak untuk membiayai keperluan medis ke dokter mereka tidak mempunyai uang, terlebih jika harus menjaga dan mengendalikan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat kita benar-benar miskin dan tengah jatuh sakit, dan ini bukan trend. Kenyataan yang terjadi adalah meningkatnya prevalensi penyakit infeksi yang melanda masyarakat kalangan menengah ke bawah, seperti demam berdarah (DHF), malaria, ISPA, dan diare. Penyebaran penyakit lingkungan ini lebih dominan pada kawasan kumuh dan padat penduduk yang merupakan ciri khas masyarakat miskin kota dan kaum-kaum ekonomi marginal. Banyak bayi yang kemudian meninggal setelah dilahirkan. Selain itu tidak sedikit ibu melahirkan menemui ajal karena asuhan persalinan yang tidak memadai atau bahkan tidak ada sama sekali. Keprihatinan ini tentunya belum mencakup tingginya kasus Tuberculosis (TB) pada penduduk miskin di daerah kumuh yang tidak ramah lingkungan, hipertensi (tekanan darah tinggi) dengan sejumlah manifestasinya bagi kaum miskin pantai pesisir, kekurangan gizi kronik (marasmus dan kwashiorkor) baik pada anak maupun remaja, serta masalah kesehatan fundamental lainnya. Yang ironis, pada beberapa daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan, ternyata masyarakatnya justru banyak mengalami kelaparan gizi. Di samping itu, kekerasan rumah tangga menjadi kerap terjadi di kalangan sosial ini sebagai konsekuensi kerasnya hidup yang mesti mereka jalani. Meskipun sebagian besar dari mereka menyadari keterpurukan ini, tetapi semua menjadi lazim, lumrah dan biasa-biasa saja. Ketidakmampuan ekonomi dan atas desakan sosial untuk bisa sekedar bertahan dengan prestis seadanya, sering kali menjadikan narkotika dan seks bebas (komersialisasi seksual) sebagai pelarian kaum miskin tersebut. Akibatnya, prevalensi penyakit infeksi kelamin semisal HIV/AIDS dan Hepatitis C menunjukkan grafik meningkat pada kalangan suboordinat ini dari tahun ke tahun. Secara tidak langsung, ini juga bisa menggambarkan betapa semakin tingginya progresifitas kemiskinan di Indonesia (Stone, 1992 dalam http://www.astaqauliyah.blogspot.com).
Berdasarkan penjelasan di atas, para pengambil kebijaka