Minggu, 30 April 2017

Citra Guru dan Sekolah Efektif Berfrestasi

Citra Guru dan Sekolah Efektif Berfrestasi

jasa pembuatan rpp SD SMP SMA

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)




Saat Perang Dunia II, setelah Nagasaki dan Hiroshima di bom oleh sekutu, langkah pertama yang ditempuh pemerintah Jepang , mendata kembali berapa jumlah Guru dan Dokter yang tersisa. Mereka mulai membangun negara yang porak-poranda dari bidang pendidikan dan kesehatan. Hasilnya sangat menakjubkan. Setelah kurang lebih 20 tahun, dengan kerja keras yang tak kenal lelah, Jepang mampu mensejajarkan  dengan negara-negara maju lainnya. Lahirlah kekuatan baru di kawasan Asia. Bidang pendidikan pun Jepang termasuk negara terbaik, di samping India, Korea selatan dan Singapura. Kisah nyata itu menyadarkan kita, betapa besar peran Guru dalam membangun suatu bangsa. Ironisnya, di negara kita tercinta, profesi guru, kurang diperhitungkan.  Pada masa “regim Orde Baru” profesi guru malah identik dengan “kemiskinan” dan contoh kongkrit kelompok masyarakat lemah.  Profesi guru bukanlah membanggakan. Menjadi guru sekedar imput pelarian dari anak miskin tidak berkecukupan, sebuah potret OEMAR BAKRI. Dan masih deretan panjang daftar ketidakberdayaan guru. Pada era Orde Baru, kelompok Guru tidak lebih dari sekedar alat politik dari regim yang berkuasa. Guru tidak lebih sekedar alat politik dari regim yang berkuasa. Untuk membius kelompok ini, regim berkuasa saat itu, menganugerahkan gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”  dalam sebuah lagu. Citra guru di dalam dirinya  bukanlah sosok berdasi, intelektual ulung dalam menyiapkan masa depan manusia muda.Tetapi sebagai “pekerja suara”  berangkat subuh pulang malam, kering finansial. Praktis, citra guru teredusir sedemikian rupa di balik keluhuran peran yang diemban. Permasalahannya. bagaimana dapat dibangun citra guru, sehingga peran dan profesi guru dapat dibangun? Beberapa waktu lalu, apresiasi masyarakat terhadap guru semakin tinggi. Pemerintah pun semakin bersungguh-sungguh meningkatkan kwalitas guru nasional. Media massa semakin gencar memberitakan kinerja guru. Dari segi kemampuan ekonomis, guru tidak lagi dipandang sekedar  “pengamen”. “Diktator” – menjual diktat baru  beli motor. Atau “Pelacur Profesi” - setelah jam dinas, bergilir memenuhi panggilan dari pintu ke pintu, mencari tambahan dapur dapur tetap “berasap”. Dalam Undang Undang Dosen dan Guru, guru disebut tenaga profesional. Sama seperti dokter, pengacara atau tenaga profesional lainnya. Banyak pernyataan kritis dan menggelitik terhadap eksistensi, kompetensi, dan kwalitas profesional guru– memang masih memprihatinkan. Kenyataan rendahnya kompetensidan guru pernah dikemukakan oleh Fasli Djalal  mantan Dirjen DIKNAS Peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan beberapa waktu lalu menyebutkan hampir separo dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar di sekolah. 75.648 di antaranya guru SMA. Pernyataan itu disampaikan berkenaan wacana guru profesional dan guru kompeten sebagai syarat untuk memperoleh tunjangan profesi guru dan peningkatan kwalitas pendidikan di Indonesia. Pernyataan yang merujuk pada rendahnya kompetensi dan ethos kerja guru itu juga pernah diungkapkan oleh mantan menteri pendidikan masa itu Wardiman Djoyonegoro dalam wawancara di sebuah stasiun televisi. Wardiman  mengemukakan “hanya 43 % guru yang memenuhi syarat menjadi guru profesional“. Artinya sebagian besar guru (57%) tidak atau belum memenuhi menjadi guru, tidak kompeten, dan tidak profesional untuk melaksanakan tugasnya. Terhadap kenyataan tersebut, rasanya tidak usah  malu untuk menyikapinya. Perlu dijadikan permenungan. Dari mana harus mulai merubah citra guru?  Kunci utama terletak pada tekad para guru. Self remedial menjadi jalan terbaik meningkatkan kwalitas profesionalnya. Citra Positif Dalam dasawarsa terakhir, Pemerintah berupaya mendongkrak citra guru melalui berbagai upaya. Tujuan akhirnya memperbaiki kwalitas pendidikan. Menjadi guru profesional bukan perkara gampang. Apalagi untuk menjadi guru baik. Guru baik dapat mengangkat martabat dan kwalitas pendidikan. Kwalitas pendidikan yang baik, dapat mengangkat martabat bangsa. Permasalahannya, dari mana harus dimulai? Dari diri sendiri Untuk memperbaiki citra mereka, para guru harus berani “membedah diri”. Guru profesional itu, guru yang mengenal dirinya. Dirinya sebagai pribadi yang terpanggil untuk mendidik manusia. Untuk itu, guru dituntut untuk belajar sepanjang hayat (long life education). Medan belajar adalah medan yang menyenangkan. Menjadi guru bukan hanya sebuah proses yang harus dilalui melalui test kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati. Maka mengajar harusnya menjadi profesi hati. Hati harus mendapat perhatian cukup, yaitu pemurnian hati, atau motivasi untuk menjadi guru profesional. Pemurnian hati itu, akan mendorong kita senantiasa meningkatkan kemampuan untuk membelajarkan siswa. Paling tidak ada 3 kata kunci yang menjadikan guru itu menjadi penting. Tiga kata kunci itu sekaligus menjadi sifat dan karakteristik guru: 1. Kreatif. 2. Profesional. 3. Menyenangkan. Mengapa guru harus kreatiaf ? Karena harus memilah dan memilih materi pembelajaran. Dan kemudian secara kreatif menyajikan menjadi bahan pembelajaran yang yang penuh makna, dan berkwalitas. Sedang sifat profesional, karena guru harus secara profesional membentuk kompetensinya sesuai dengan karakter peserta didik. Juga bagi dirinya. Berarti belajar dan pembelajaran harus menjadi makanan pokok guru. Tetapi guru juga harus menyenangkan. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi peserta didik. Menjadi guru kreatif, profesional, dan menyenangkan itu akan terwujud, jika si guru mau secara terus-menerus meningkatkan kemampuan dan ketrampilan. Mau belajar. Meningkatkan Pengetahuan dan Ketrampilan. Guru sebagai profesional (sama dengan profesi dokter, pengacara, sekretaris, dan lain-lain), tanggungjawab utamanya mengawal perkembangan pribadi siswa. Peran pendampingan itu tidak mungkin akan berhasil jika guru tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang profesioanal. Guru profesional biasanya memiliki hal-hal seperti ini: Penguasaan terhadap pengetahuan dan ketrampilan; kemampuan profesional di atas rata-rata;  idealisme dan pengengabdian yang tinggi serta pantas secara moral dan perilaku menjadi panutan. Guru  kreatif, profesional, serta menyenangkan, terus berupaya  membangun citra dirinya secara positif. Berkomitmen pada pengabdian pada pendampingan untuk peserta didik. Ia selalu berupaya meningkatkan kemampuan dan ketrampilan sebagai profesional. Maka dalam proses pembelajaran di kelas selalu mencari bentuk-bentuk kreatif dan efektif  demi keberhasilan peserta didiknya. Guru kreatif akan mewujudkan pembelajaran yang inovatif. Guru kreatif dan pembelajaran inovatif dapat mewujudkan sekolah efektif. 

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/anton_sunarto/citra-guru-dan-sekolah-efektif_54f7aa46a33311181d8b4663

Tidak ada komentar:

Posting Komentar