Selasa, 11 April 2017

Konsultan Karya Ilmiah Murah Berkualitas

Konsultan Karya Ilmiah Murah Berkualitas

jasa pembuatan rpp SD SMP SMA

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)




Para pakar dan pengamat pendidikan sudah memiliki kesepakatan pandangan dan pendapat bahwa pendidikan dasar memegang peran penting dalam pembentukan karakter anak, pembentukan budi pekerti yang luhur, pembentukan mentalitas anak sejak usia dini, melatih anak untuk bisa bersosialiasi dengan lingkungan sekitarnya, dan untuk membuat anak memiliki kemampuan basic yang mumpuni seperti baca dan tulis serta berhitung. Untuk konteks peran pendidikan seperti ini bisa diperoleh sewaktu anak memasuki pendidikan dini atau yang dikenal sebagai PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Kelompok Bermain, dan Taman Kanak-Kanak. Pendidikan dalam sekupan ini merupakan hal yang bersifat fundamental dan tidak boleh untuk terlewatkan oleh orang tua peserta didik. Dengan kata lain, pendidikan pada jenjang PAUD, PG, dan TK memang harus dijalani sebagai syarat mutlak bagi terciptanya pembentukan karakter dan kemampuan dasar anak dalam mengenal, mengerti, dan memahami lingkungan sekitar serta memiliki kemampuan basic yang memadai dalam hal membaca, menulis, dan berhitung tadi. Hal-hal seperti ini juga sudah disadari oleh kalangan pendidik pada level PAUD, PG, dan TK tersebut untuk memberikan pelayanan pendidikan terbaik pada peserta didik yang notabennya anak-anak.
Memang untuk level jenjang pendidikan ini sangat sedikit yang memiliki status negeri, melainkan sangat banyak yang status kelembagaan pendidikannya adalah swasta. Artinya sekolah pada level PAUD, PG, dan TK memang didominasi oleh sekolah yang memiliki status swasta. Apakah ini boleh?? Jelas boleh bagi penulis. Pendidikan dalam konteks anak-anak ini janganlah dikotomikan antara yang negeri dan swasta. Sebab penulis harus mengakui bahwa level pendidikan pada jenjang ini dan bersifat swasta justru yang paling berperan besar dalam mendidik peserta didik dengan kualitas pembelajaran yang sangat baik dan mumpuni dan mungkin tidak ada pada jenjang negeri. Di samping sekolah yang memiliki status negeri adalah sedikit (sekali lagi pada level atau jenjang ini), guru-guru pada sekolah swasta ini sudah jelas memiliki kreatifitas, kompetensi, dan ketrampilan yang baik dalam mendidik anak. Banyak sekali prestasi peserta didik atau anak-anak yang berhasil ditonjolkan karena bersekolah di swasta. Misalnya kemampuan menggambar, melukis, seni tari, ketrampilan seni musik, ketrampilan drumband, ketrampilan membaca puisi, ketrampilan dalam membaca surat kabar dan sebagainya.
Guru-guru pada level pendidikan ini juga sudah banyak sekali yang memiliki pendidikan Sarjana Pendidikan TK, Sarjana Pendidikan Anak Usia Dini, dan Sarjana Bimbingan Konseling. Dengan kata lain, para guru benar-benar memiliki prasyarat memadai dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Banyak juga menjelang akhir tutup tahun, sekolah-sekolah ini kemudian mengadakan pentas tutup tahun dengan menampilkan pentas anak-anak dengan segala kreatifitas dan kemampuan seni yang dimiliki. Untuk hal-hal seperti ini bagi penulis jelas bermanfaat dalam menciptakan pola pikir anak bahwa “saya mampu, saya bisa, saya kreatif, dan saya bisa tampil didepan orang banyak”. Pentas-pentas seperti ini juga sangat besar perannya dalam mengasah bentuk kepercayaan diri anak agar tidak minder dan dapat bergaul dengan baik dengan lingkungan sekitarnya. Dan ini merupakan bekal yang besar untuk menghantarkan peserta didik untuk mencapai jenjang pendidikan SD atau Sekolah Dasar. Bagaimana dengan biaya pendidikan pada level PAUD, PG, dan TK ini?? Bagi penulis jelas wajar dan berkisar antara 1 juta sampai dengan 4 juta untuk biaya pendidikan selama 1 tahun, dan di luar SPP per bulan tentunya. Sekali lagi bagi penulis ini sangat wajar, mengingat peran penting pendidikan pada level basic ini. Dan juga harus diakui bahwa sekolah swasta ini banyak sekali yang memiliki kualitas dan fasilitas serta sarana pembelajaran yang lengkap dan mendukung penyelenggaraan pendidikan yang maksimal.
Namun setelah memasuki level atau jenjang SD, ini akan lain ceritanya. Para orang tua dihadapkan dengan banyaknya pilihan agar menyekolahkan anaknya di SD dengan variasi fasilitas, kualitas guru, dan tentunya biaya yang besar juga. Bahkan bisa dikatakan biaya untuk masuk SD pada sekolah swasta adalah luar biasa mahal, baik di Yogyakarta maupun kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar (Ujung Pandang), dan Denpasar (Bali). Banyak orang tua kemudian menggeser pilihannya untuk menyekolahkan anaknya di sekolah SD Negeri saja dan bukan ke swasta. Untuk rasio SD Negeri dan SD Swasta, penulis sebagai pihak yang mendapatkan penghargaan di bidang kompetensi statistik dan ekonometrika berani mengatakan bahwa jumlah rasio SD Negeri dan SD Swasta adalah 10: 4. Artinya jika ditafsirkan secara matematis deskripsi, jumlah sekolah SD Negeri adalah 2 kali lebih, dan lebih banyak dibandingkan sekolah SD Swasta. Maksudnya adalah potensi atau peluang bagi anak-anak untuk bisa diterima di sekolah SD Negeri adalah lebih besar, meskipun SD-SD negeri tersebut tersebar luas dari perkotaan hingga pelosok desa atau kelurahan.
Bagaimana dengan biayanya?? Biaya di sekolah negeri memang jauh lebih murah, dan sangat-sangat terjangkau dan tidak membebani para orang tua siswa. SD Negeri memang sudah mendapatkan subsidi pendidikan yang sangat besar, baik untuk sarana prasarana pendidikan sekolah, sertifikasi guru, pendidikan dan pelatihan guru, dan bantuan pemerintah lainnya. Sedangkan SD swasta harus diakui bahwa kelembagaan mereka tidak mendapatkan bantuan subsidi dari pemerintah, kecuali untuk para guru SD swasta tertentu yang memiliki status PNS atau sertifikasi guru dan mendapatkan bantuan pelatihan dan pendidikan. Namun harus diakui juga bahwa dalam proses penyelenggaraan pendidikannya, anggarannya memang harus dibebankan pada orang tua siswa, dan sebagian dibebankan pada yayasan sekolah.
Penulis pernah mendengar di wilayah Yogyakarta saja, biaya untuk masuk ke sekolah SD swasta ada yang 10 juta, ada yang 15 juta, dan bahkan ada yang mencapai 18 juta. Bagi penulis, harga-harga sebesar ini sudah setara dengan jenjang pendidikan Sarjana, meskipun levelnya adalah Sekolah Tinggi. Bagaimana kita harus mensikapinya?? Penulis serahkan ke pembaca saja yang menilai dan yang memiliki preferensi tertentu untuk menyekolahkan anaknya, apakah di SD Negeri atau di SD Swasta. Namun demikian sekali lagi penulis mengajak pembaca semua untuk berpikir rasional. Meskipun penulis cenderung Nahdiyin, penulis tetap berusaha bijak, arif, berusaha adil dan proporsional dalam memahami segala sesuatu. Banyak kalangan Nahdiyin yang sangat memahami esensi dari pendidikan, maupun pendidikan yang bernafaskan Islam. Ini sudah jelas bagi penulis.
Kalangan Nahdiyin dan masyarakat umum juga memahami bahwa yang namanya pendidikan SD sifatnya adalah basic level lanjut. Artinya masih banyak jenjang pendidikan yang harus dilalui oleh peserta didik, mulai dari jenjang SMP, SMA/SMK/STM dan tentunya Perguruan Tinggi. Untuk melewati jenjang pendidikan ini sudah jelas akan banyak sekali memakan biaya, dan jangan dihabiskan pada level SD saja. Apalagi jika orang tua memiliki anak yang banyak, 3 bersaudara anak misalnya. Dan tentunya sudah jelas ini akan sangat memakan biaya dalam hal pendidikan 3 anak tersebut, selain biaya-biaya hidup sehari hari, dan biaya-biaya lainnya. Pernahkah orang tua memikirkannya?? Kecuali jika orang tua tersebut memiliki kelas sosial Golongan Premium yang bisa mengeluarkan uang dalam jumlah berapapun dan tidak peduli anaknya sekolah dimana, dan yang penting anaknya bersekolah dan menyerahkan segala sesuatu proses pembelajaran hanya kepada guru sekolah, dan orang tua terima jadi saja. Ini yang sering terjadi di lapangan.
Untuk peran orang tua yang hanya sebatas ini ya tidak salah memang. Namun kita tidak boleh lupa akan “TRIPUSAT PENDIDIKAN”, yaitu sekolah atau guru, lingkungan pergaulan dan peran orang tua. 3 aspek ini sangat penting dalam memberikan hasil maksimal atau tidak maksimal bagi proses pendidikan dan pembelajaran anak. Bagi penulis ini harga mati. Betapa banyak orang tua yang kaya namun anaknya nakal, dan ingin bersaing gengsi dengan anak-anak lainnya. Betapa banyak orang tua kaya yang bisanya hanya mencari uang, dan kemudian hanya bisa memberi perintah pada anak-anaknya untuk selalu belajar tanpa ada proses pembimbingan, pendampingan dan tidak memberi contoh yang baik pada anak. Betapa banyak juga para orang tua yang bersaing gengsi dengan orang tua siswa lainnya yang bagi penulis jelas merupakan sebuah kemubaziran dan tidak ada nilainya apa-apa, selain kesombongan dan keangkuhan status sosial. Dan yang jadi kenyataan dan kita tidak boleh menutup mata bahwa hal-hal tersebut sangat sering terjadi disekolah swasta, dan sekolah swasta Islam. Namun anehnya, banyak juga sekolah swasta yang berlabel non muslim atau sekolah kristen, ternyata peserta didiknya memiliki karakter yang baik, menghormati orang lain dan tidak suka urak-urakan. Sekolah swasta jenis ini pun juga banyak melahirkan prestasi pada siswanya. Para pembaca mau mengakui gak??
Penulis pikir bahwa semua kalangan ulama termasuk Ulama Nahdiyin sudah bersepakat bahwa Islam tidak pernah mengajarkan untuk sombong, islam tidak pernah mengajarkan untuk unjuk gengsi satu sama lain, islam juga tidak pernah mengajarkan pemborosan atau kemubaziran hanya untuk bersaing gengsi, islam juga tidak mengajarkan gaya hidup kelas tinggi dan kemudian menunjukan pada semua orang. Justru Islam sangat menekankan pentingnya rasa syukur kepada Tuhan, qonaah, sederhana dan zuhud. Mengapa yang terjadi malah sebaliknya?? Penulis sangat setuju dengan pendapat mertua penulis, meskipun sudah sepuh sekali. Mertua penulis merupakan pensiunan PNS Guru SMA dan bahkan pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah SMA pada tahun 80 s/d 2000-an. Bahwa sistem pendidikan jaman sekarang sudah menyimpang dari esensi pendidikan yang sesungguhnya, dan ini tidak hanya terjadi di sekolah negeri melainkan juga disekolah swasta, termasuk sekolah swasta yang berlabel islam. Penulis pikir ini adalah sebuah kenyataan, dan mari kita sama-sama berpikir arif dan bijak untuk memahami kebenaran tersebut.
Pendidikan pada level SD memang sudah mulai mengalami kompleksitas yang tinggi, seperti adanya mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, IPS, IPA, mata pelajaran komputer, mata pelajaran agama islam, dan ekstrakurikuler lainnya. Memang untuk bisa menghadapi konteks pendidikan dan pembelajaran seperti ini harus diselenggarakan oleh sekolah-sekolah yang memiliki kualitas guru memadai dan sarana prasarananya pun sangat mendukung. Penulis juga tidak menutup mata bahwa banyak sekolah SD swasta yang dapat memenuhi persyaratan pembelajaran di atas, dan hanya sedikit juga sekolah SD negeri yang bisa memenuhinya. Artinya SD negeri tertentu saja yang bisa menyediakan segala fasilitas yang memadai, khususnya SD negeri yang berprestasi atau Favorit saja. Pilihan tentunya ada ditangan pembaca semua, mau pilih yang negeri atau swasta.
Bagaimana dengan penulis?? Penulis memiliki keluarga besar yang dahulu kala semuanya bersekolah disekolah negeri, baik itu SD, SMP, dan SMU/SMA. Artinya penulis memang memiliki orientasi negeri untuk pendidikan anak-anak penulis. Namun untuk pendidikan PAUD, PG, dan TK ini pengecualian, sebab penulis lebih memilih swasta saja karena banyak alasan yang sudah penulis kemukakan sebelumnya. Mengapa penulis memilih SD, SMP dan SMA negeri?? Salah satunya adalah prestasi. Sekolah-sekolah negeri terbukti sangat banyak melahirkan prestasi nilai kelulusan ujian nasional, baik level SD, SMP, dan SMU/SMA. Nilai kelulusan ujian nasional ini juga menjadi prasyarat penting untuk bisa diterima diperguruan tinggi negeri yang sudah jelas favorit, seperti UGM, UNDIP, UNY, UNS, UNNES, UI, IPB, ITB, UNHAS, dan UNPAD Bandung.
Tidak hanya itu, jika kita melihat pada wilayah-wilayah tertentu di Indonesia ternyata jumlah SMP-SMA nya banyak sekali didominasi oleh negeri dan sedikit yang swasta. Artinya para orang tua sudah tentu akan memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri. Alasan lainnya adalah meskipun anak-anak bersekolah di negeri dan meskipun lokasinya di pelosok, anak-anak tetap masih bisa berprestasi dengan menjalani les-les yang diadakan pihak sekolah, atau bimbel-bimbel yang sangat terkenal dan berkualitas. Untuk kegiatan ekstrakurikuler pun, anak-anak siswa bisa mengikuti kegiatan di luar sekolah, seperti bela diri, komunitas drum band dan lainnya. Artinya jika dihitung-hitung secara ekonomi, jelas jauh dan jauh lebih murah jatuhnya dibandingkan bersekolah di swasta yang luar biasa mahal. Penulis pernah banyak mendengar bahwa banyak sekali orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah swasta islam meskipun mahal, alasannya adalah agama, agama dan agama. Apa ini benar?? Secara harfiah, niat dan motivasi utama agar nilai-nilai agama tertanam pada peserta didik adalah benar. Namun ini juga tidak ada jaminan pasti bahwa anak tersebut memahami agama dengan baik. Mau lihat buktinya?? Coba saja para pembaca lihat fenomena-fenomena di lapangan bahwa banyak sekali siswa sekolah yang bernafaskan islam ternyata anak-anaknya urak-urakan di dunia lapangan baik laki-laki dan perempuan, banyak bersaing gengsi, menunjukan barang-barang kepunyaannya yang mewah-mewah, pergi ke dugem, pergi ke diskotik, nakal-nakal, merokok yang bisa merusak kesehatan, broken, pergaulan bebas, dan bahkan ada juga yang tidak naik kelas. Bisakah kita mau mengakui fenomena-fenomena seperti ini??

Pada saat anak selesai bersekolah pada jenjang SMU/SMA, para orang tua anak tentunya akan dihadapkan dengan tantangan bahwa mau memilih bekerja atau lanjut terlebih dahulu untuk kuliah, atau kuliah sambil kerja. Bagi penulis ini sama-sama pentingnya dan tergantung preferensi orang tua masing-masing. Untuk jenjang pendidikan perguruan tinggi harus diakui akan memakan biaya yang luar biasa besar, apalagi jenjang pasca sarjana. Program bidik misi dan bantuan siswa miskin hanya sedikit menjaring calon mahasiswa karena harus bersaing ketat dengan lainnya. Artinya bahwa biaya pendidikan perguruan tinggi memang harus dipenuhi oleh semua calon mahasiswa tanpa terkecuali. Para orang tua yang sudah menghabiskan biayanya hanya untuk sekolah anaknya di SD/SMP/dan SMA swasta mahal atau super mahal tentunya harus berpikir ulang akan hal ini. Orang tua harus menyadari bahwa sekolah mahal-mahal juga tidak ada jaminan bahwa anaknya sukses baik di dunia dan akhirat.
Kalo menurut pendapat penulis pribadi, hendaknya para siswa yang lulus SMA tetap melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Jenjang perguruan tinggi itu tidak harus kuliah di perguruan tinggi negeri, tidak harus kuliah diperguruan tinggi yang mahal, melainkan bisa kuliah di perguruan tinggi swasta yang cukup murah atau terjangkau, yang penting terdaftar dalam daftar perguruan tinggi swasta di KOPERTIS. Mengapa penulis mengatakan ini?? Sebab agar para mahasiswa mengenal dunia pembelajaran baru yang berbeda dengan SD/SMP dan SMA. Kuliah juga sangat bermanfaat untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan cakrawala dunia akan berbagai aspek bidang keilmuan yang bisa memberikan manfaat positif bagi kehidupannya kelak. Sewaktu menjalani kuliah pun, bisa disertai dengan nyambi-nyambi kerja atau bisnis kecil-kecilan untuk menambah pengalaman hidup, bahwa orang itu mau memilih bekerja atau berbisnis. Hanya 2 pilihan ini yang ada. Sebagai masyarakat muslim dan masyarakat umum, penulis pun mengakui bahwa sistem yang ada di Indonesia adalah sangat formalistik, artinya apabila kita ingin bekerja di BUMN, PNS, Perbankan, Perusahaan Besar, dan sebagai Dosen ya memang harus Sarjana, dan bahkan ada yang mensyaratkan jenjang Pasca Sarjana (khusus untuk dosen).
Penjelasan-penjelasan penulis di atas merupakan kenyataan dari fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan dan harus menjadi hikmah bagi kita semua. Penulis sekali lagi sangat sependapat dengan banyak ahli pendidikan, yaitu akan makna dari TRIPUSAT PENDIDIKAN. Artinya hasil output peserta didik harus didukung oleh 3 pihak sekaligus, yaitu guru di sekolah, orang tua, dan lingkungan pergaulan atau lingkungan sekitar. 3 aspek ini sangat penting perannya dan tidak bisa tidak. Bagi penulis, TRIPUSAT PENDIDIKAN adalah harga mati dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Di samping itu, penulis ingin berbagi wawasan atau tips dalam mencari sekolah negeri untuk anak-anak oleh orang tua:
  1. Usahakan sekolah yang dituju adalah sekolah yang berprestasi tinggi dan diakui reputasinya oleh banyak kalangan dan DIKNAS
  2. Apabila anak tidak ketrima di sekolah tersebut pada poin nomer satu, hendaknya harus segera tanggap untuk mendaftarkan anak pada sekolah yang tingkatannya sedikit lebih rendah dari poin satu di atas, namun masih dalam taraf berprestasi
  3. Orang tua harus memikirkan lingkungan sekitar sekolah tersebut. Artinya lingkungan sekitar sekolah dan khususnya lingkungan internal sekolah adalah kondusif bagi terselenggaranya pendidikan, dan nyaman, dan mendukung bagi proses pembelajaran siswa
  4. Guru-guru di sekolah tersebut haruslah yang memiliki reputasi baik, artinya memiliki banyak kompetensi dan kemampuan dalam mengajar peserta didik dengan baik
  5. Memiliki banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler
  6. Lulusannya cenderung memiliki nilai NEM yang relatif tinggi atau tinggi, baik dalam skala propinsi, kabupaten, maupun nasional
  7. Lulusannya juga banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri Favorit atau Perguruan Tinggi Swasta Favorit
  8. Terjangkau dari sisi transportasi
  9. Banyak sekolah negeri yang mensyaratkan banyak piagam atau penghargaan pada saat pendaftaran. Oleh karena itu anak harus sering mengikuti kegiatan ekstra di luar rumah yang dapat menunjukan bahwa ia berprestasi dan memiliki sertifikat atau piagam penghargaan. Misalnya sertifikat bahasa jawa, sertifikat drumband, sertifikat bela diri, sertifikat seni musik, sertifikat bahasa inggris, sertifikat renang, dan lainnya.
  10. Jika ingin mendaftarkan anaknya di sekolah yang agamis, hendaknya yang memiliki status negeri seperti MIN, MTSN, dan MAN. Sepengetahuan penulis sekolah madrasah dengan status negeri adalah masih tergolong baik, meskipun banyak juga yang berprestasi.
  11. Apabila anak sudah diterima disekolah, hendaknya orang tua jangan lepas tangan begitu saja. Melainkan orang tua harus memantau, membimbing, mengevaluasi, dan bisa membantu anak dalam proses pembelajaran.
  12. Jika memang diperlukan les, ya harus dilakukan. Orang tua harus siap untuk membiayainya.
  13. Yang tidak boleh dilupakan adalah pada saat anak lulus SMP dan mau melanjutkan ke SMA. Apabila anak lulus SMP di sekolah kabupaten dan mau melanjutkan sekolah di SMA kota, banyak sekali syarat yang harus dipenuhi seperti harus mendapatkan surat keterangan dari DIKNAS kabupaten tersebut, dan harus bersaing NEM dengan NEM SMP Kota. Penulis memiliki kisah nyata pada istri penulis dulu sewaktu lulus dari SMPN 4 Pakem Sleman dan mau melanjutkan ke SMAN 11 Jetis (Kota Yogyakarta). Pada saat itu NEM istri penulis masuk dalam kategori 50 besar, dan menduduki urutan 1, dan ini baru hari pertama pendaftaran SMA. Istri penulis dan teman-temannya merasa aman karena berada diposisi 50 besar dan dengan harapan bisa ketrima. Namun setelah hari terakhir pendaftaran SMA, teman-teman istri penulis terpental semua karena banyak sekali NEM-NEM siswa lain yang jauh lebih tinggi. Istri penulis waktu itu berhasil ketrima di SMA 11 Jetis, sedangkan lainnya “OUT” Dengan kata lain, perjuangan untuk masuk SMA memang sudah luar biasa besar. Banyak juga siswa SMP kota kemudian terpental ke SMA pelosok yang tentunya jauh dari tempat tinggalnya. Para orang tua siswa harus benar-benar memikirkan hal ini sejak awal, dan jangan hanya ikut-ikutan arus di lapangan tanpa pengetahuan yang mendalam, tanpa wawasan yang mendalam, tanpa pertimbangan matang, tanpa skala prioritas, dan tanpa prinsip positif untuk anak-anaknya. Sekali lagi ini adalah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.
  14. Setiap orang tua tentunya harus senantiasa menjaga kondisi kesehatan, pola makan, pola hidup dan pola kebiasaan agar tetap sehat baik fisik jasmani, rohani, lahir dan batin agar tetap bisa menghantarkan anak-anaknya hingga SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi, dan menghantarkan anak-anaknya sampai menikah dan bisa menikmati cucu. Ini pun komitmen pribadi penulis, Insya Alloh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar