Sabtu, 08 April 2017

CONTOH PTS UPAYA MENINGKATKAN BERHITUNG PERMULAAN MENGGUNAKAN PERMAINAN STICK ANGKA

CONTOH PTS UPAYA MENINGKATKAN BERHITUNG PERMULAAN MENGGUNAKAN PERMAINAN STICK ANGKA

jasa pembuatan rpp SD SMP SMA

Pusing Menyusun Administrasi Pembelajaran?
disini Solusinya 081222940294 (SMS / WA)




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Program pendidikan untuk anak merupakan salah satu unsur atau komponen dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, keberadaam program ini sangat penting sebab melalui program inilah semua rencana, pelaksanaan, pengembangan, penilaian dikendalikan. Dalam hal ini penyelenggaraan pendidikan yang dinaungi oleh Departemen Pendidikan Nasional yaitu TK (Taman Kanak-kanak) juga ikut serta menyukseskan program pendidikan anak usia dini.
Pembelajaran di TK haruslah menarik, salah satu contohnya adalah dengan bermain, karena bermain identik dengan anak-anak. Pembelajaran dengan bermain tidak hanya membuat anak senang tetapi secara tidak disadari ada pembelajaran yang dilakukan. Penggunaan media juga sangat penting dalam pembelajaran anak di TK. Media yang digunakan dalam pembelajaran haruslah menarik sehingga dapat menarik minat anak untuk belajar.
Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa pembelajaran di tingkat TK seringkali kurang menarik bagi anak. Ada beberapa hal yang menyebabkan demikian, diantaranya adalah bahasa tubuh guru yang masih kaku, penyajian yang kurang menarik, dan alat peraga yang sangat minim. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) guru dan anak didik kurang begitu semangat anak cenderung bosan dengan tugas yang diberikan dan akhirnya menyepelekkan pelajaran akibatnya proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) terhambat dan kurang maksimal.
 Minimnya penggunaan alat peraga di TK juga mempengaruhi kegiatan belajar terutama untuk pembelajaran berhitung. Mengajarkan anak usia TK materi berhitung dimulai dari yang konkret terlebih dahulu sehingga media sangat penting untuk digunakan.  Sehingga penggunaan media sangat mempengaruhi tingkat belajar, semangat dan kemampuan anak dalam pembelajaran berhitung.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka penulis mengambil judul “Upaya Meningkatkan Berhitung Permulaan Menggunakan Permainan Stick Angka di Kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan Meduran Manyar Gresik”.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah menggunakan permainan stick angka dapat meningkatkan kemampuan berhitung permulaan pada anak kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan Meduran Manyar Gresik?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya meningkatkan berhitung permulaanmenggunakan permainan stick angka di kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan Meduran Manyar Gresik.
D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1.      Manfaat Teoritis
a.       Sebagai pendorong untuk pelaksanaan pendidikan sehingga menjadi pengetahuan bagi orang tua dan guru.
b.      Sebagai informasi pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan berhitung pada anak.
2.      Manfaat Praktis
a.  Bagi anak didik
1)        Membantu anak menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit.
2)        Mendorong semangat belajar anak didik terhadap pelajaran  berhitung.
3)        Menanamkan pengertian bilangan dan kecakapan dasar berhitung.
4)        Memupuk dan mengembangkan kemampuan berpikir logis dan kritis dalam memecahkan masalah yang dihadapi dikehidupan sehari-hari baik sekarang dan masa mendatang.
b.      Bagi guru
1)      Memudahkan guru untuk melatih ketrampilan dan kesabaran dalam mengajarkan pelajaran berhitung.
2)      Guru dapat menerapkan pelajaran berhitung dengan menggunakan strategi bermain stick angka.
3)      Membangkitkan kreativitas guru dalam menerapkan dan menciptakan inovasi dalam kegiatan pembelajaran.
c.       Bagi sekolah
1)      Kegiatan pembelajaran di kelas akan lebih efektif dan efisien.
2)      Sekolah akan mampu mengembangkan model-model pembelajaran.
3)      Sekolah akan mampu menghasilkan sumber daya yang berkualitas

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Hakikat Berhitung Permulaan
Berhitung adalah usaha melakukan, mengerjakan hitungan seperti menjumlah, mengurangi serta memanipulasi bilangan-bilangan dan lambang-lambang matematika, sedangkan untuk mengetahui tingkat kemampuan berhitung siswa digunakan metode tes.
Metode tes adalah serentetan pertanyan atau latihan atau alat lain yang digunakan pada lingkup perkembangan. Metode tes adalah termasuk metode non eksperimental. Berikut ini adalah metode-metode eksperimental antara lain :
a.       Metode pengamatan, suatu cara untuk mencatat tingkah laku tertentu dari orang yang diamati dengan menggunakan pedoman observasi.
b.      Metode survei, suatu metode yang digunakan untuk mempelajari beberapa masalah yang sulit dipelajari melalui metode pengamatan dan menggunakan kuesioner atau wawancara.
c.       Metode klinis, suatu metode yang digunakan untuk mengamati seseorang di tempat khusus yang telah disediakan, sehingga dapat diketahui perilaku-perilaku dan pernyataan-pernyataannya yang spontan dengan tujuan paedagogis atau medis.
d.      Metode angket, suatu cara dengan menggunakan daftar pertanyaan atau pertanyaan yang diberikan kepada sejumlah orang yang harus dijawab, untuk kemudian dicari simpulan umum.
e.       Metode wawancara, suatu cara untuk menggali pendapat, perasaan, sikap, pandangan, proses berpikir, proses penginderaan dan berbagai hal yang merupakan tingkah laku covert yang tidak dapat ditangkap langsung oleh atau melalui metode observasi.
f.       Metode sejarah kehidupan, suatu metode yang digunakan untuk mengetahui tingkah laku seseorang dengan segala latar belakangnya. Melalui penelitian buku harian atau wawancara tentang masa lalu subjek.
g.       Metode tes (pemeriksaan psikologis), suatu metode yang digunakan untuk memeriksa hal-hal yang tidak dapat diketahui dengan metode-metode lain, seperti IQ, kepribadian, arah minat, kecemasan dengan menggunakan tes psikodiagnostik.
Minat penelitian ilmiah tentang anak mendapat dorongan yang besar setelah G. Stanley Hall mengawali penelitiannya tentang konsep anak (1891) dengan tekanan bahwa anak bukan orang dewasa kecil. Pandangan ini diterima oleh murid-muridnya yang tidak lama kemudian diikuti oleh banyak psikolog dan ahli pendidikan.
Berikut beberapa teori yang mendasari perlunya permainan berhitung di taman kanak-kanak sebagai berikut :
a.       Tingkat perkembangan mental anak
Jean Piaget, menyatakan bahwa kegiatan belajar memerlukan kesiapan dalam pendidikan anak. Artinya belajar sebgai proses membutuhkan aktivitas baik fisik maupun psikis. Selain itu kegiatan belajar pada anak harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan.
Anak usia TK berada pada tahapan pra operasional kongkret dan berpikir intuitif dimana anak mampu mempertimbangkan tentang besar, bentuk dan benda-benda didasarkan pada interprestasi dan pengalamannya (persepsi sendiri).
b.      Masa peka berhitung pada anak
Perkembangan dipengaruhi oleh faktor kematangan dan belajar. Apabila anak sudah menunjukkan masa peka (kematangan) untuk berhitung, maka orang tua dan guru harus tanggap, untuk segera memberikan layanan dan bimbingan sehingga kebutuhan anak dapat terpenuhi dan tersalurkan dengan sebaik-baiknya menuju perkembangan kemampuan berhitung yang optimal.
Anak usia TK adalah masa yang sangat strategis untuk mengenalkan berhitung di jalur matematika. Karena usia TK sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dan lingkungan. Rasa ingin tahunya yang tinggi akan tersalurkan apabila mendapat stimulasi / rangsangan / motivasi yang sesuai dengan tugas perkembangannya.
c.       Perkembangan awal menentukan perkembangan anak selanjutnya
Hurlock (1993) mengatakan bahwa lima tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya. Anak yang mengalami masa bahagia berarti terpenuhinya segala kebutuhan baik fisik maupun psikis di awal perkembangannya diamalkan akan sangat melaksanakan tugas-tugas perkembangan selanjutnya.
Dalam studi klinis sejak bayi hingga dewasa yang dilakukan oleh Erikson (dalam Elizabet B. Hurlock, 1978 : 26) menyimpulkan bahwa “masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia, tempat dimana kebaikan dan sifat buruk akan berkembang mewujudkan diri, meskipun lambat tetapi pasti”.
Selanjutnya Erikson menerangkan, apa yang akan dipelajari seorang anak tergantung bagaimana orang tua memenuhi kebutuhan anak akan makanan, perhatian, cinta kasih. Sekali ia belajar, sikap demikian akan mewarnai persepsi individu akan masyarakat dan suasana sepanjang hidup.
Crumley.F.E. dkk, Gagne R.M. dan Smith, dkk (dalam Elizabeth B Hurlock, 1978 : 26) menunjukkan bukti bahwa sejarah anak yang mempunyai kesulitan penyesuaian sejak tahun-tahun prasekolah hingga sekolah menengah atau universitas telah memperlihatkan bahwa banyak diantara mereka sangat buruk penyesuaian dirinya pada masa kecil hingga tidak pernah dalam suatu kelompok atau mempunyai banyak teman. Sebagai tambahan, banyak diantaranya menderita kesulitan berbicara, sekolah, serta enuretik dan keluarga mereka menganggapnya sebagai “anak yang penuh masalah”. Dari studi riwayat anak nakal, Glueck (dalam Elizabeth B Hurlock, 1978 : 26) menyimpulkan bahwa remaja yang berpotensi menjadi nakal, dapat diidentifikasi sedini usia dua atau tiga tahun karena perilaku anti sosialnya.

B.     Hakikat Matematika Usia Dini
Dalam pembelajaran matematika terdapat banyak keterampilan yang dapat dikuasai anak didik. Namun, bagi usia dini khususnya anak TK, keterampilan matematika yang dapat diajarkan pada mereka tidak sebanyak dan sesulit anak-anak di atas usianya. Adapun keterampilan yang dapat dilatih bagi anak-anak TK antara lain :
  1. Mencacah
Mencacah merupakan dasar bagi semua pekerjaan yang berkaitan dengan bilangan. Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan mencacah, yaitu :
a.       Anak-anak perlu belajar mengetahui nama bilangan satu, dua, tiga, empat dan seterusnya.
b.      Anak-anak harus belajar bahwa kita mencacah satu bilangan untuk setiap benda tanpa boleh ada yang ketinggalan atau tercacah lebih dari sekali.
c.       Jawaban terhadap pertanyaan “Ada berapa ?” atau “Berapa banyaknya?” adalah satu bilangan : misalnya tiga, bukan satu, dua, tiga.
d.      Banyaknya bilangan tetap sama, tidak berubah, darimana kita mulai mencacah dan bagaimanapun benda-benda itu tersusun.
Cara terbaik mencacah benda adalah dengan menunjukkan ke benda tersebut atau memegang dan memindahkannya. Kegiatan mencacah menggunakan buku, maka anak dapat diminta mencoret setiap benda yang sudah dicacah atau menutupinya dengan sesuatu, untuk menjamin bahwa setiap benda dicacah tepat sekali. (Yulvia Sari, 2006).


  1. Membuat Pola
Pola merupakan urutan dari warna, bentuk, benda, suara atau gerakan-gerakan yang dilakukan berulang kali. Adapun beberapa macam pola, diantaranya :
a.       Pola Visual
Pola visual merupakan pola yang tampak atau jelas dilihat oleh mata. Pola visual biasanya terdapat pada bahan-bahan atau kain-kain.
b.      Pola Auditori
Pola auditori atau pendengaran biasanya ditemukan dalam melodi musik, tepuk tangan dan pengulangan bahasa atau suara-suara dari cerita atau permainan jari dan suara binatang seperti kucing, kambing dan yang lainnya.
c.       Pola Physic
Pola physic atau gerak terdapat dalam tarian, dan gerakan-gerakan yang berurutan.
Belajar dengan macam pola juga dapat membantu anak untuk mengembangkan keterampilan berpikir seperti menganalisa (menguraikan) dan membuat sintesis (paduan beberapa pengertian) dan mengasah keterampilan bahasa matematika.
Hal-hal yang perlu diingat dalam belajar tentang pola adalah dimulai dengan 2 pola yang sederhana seperti AB. Setelah pola sederhana tersebut dikuasai anak bisa dilanjutkan ke pola yang lebih sulit seperti ABC, AAB, AABB. Selain itu suatu pola juga dapat diperoleh melalui identifikasi (tanda kenal atau penentu identitas benda atau sesuatu), mencocokan, menyalin dan menciptakan pola.
  1. Menyortir dan Mengelompokkan
Menyortir atau memilih dan mengelompokkan benda merupakan kegiatan umum yang dilakukan oleh berbagai usia. Pada anak-anak, benda-benda yang dapat disortir dan dikelompokkan adalah berbagai       
  1. Membandingkan
Kegiatan membandingkan yang biasa dilakukan oleh anak adalah membandingkan ukuran, tekstur, warna dan kecepatan yang pada akhirnya mengarah pada kualitas atau banyaknya sesuatu.
  1. Konsep Angka
Pembelajaran konsep angka berkaitan dengan pemikiran tentang “Berapa banyak” suatu benda. Konsep angka juga meliputi kegiatan berhitung. Satu per satu dan yang paling penting adalah memahami angka yang dipelajari. Belajar memahami angka merupakan keterampilan yang sangat mendasar bagi anak yang melakukan kegiatan yang bertalian dengan angka.
Pembelajaran berhitung berkaitan dengan pembelajaran urutan nama angka yang digunakan untuk menamakan jumlah dari suatu benda.
Berbicara tentang konsep angka. Disini terdapat perbedaan antara angka dan bilangan. Angka diartikan sebagai simbul (5). Sedangkan bilangan merupakan arti yang sesungguhnya dari angka atau simbul 5.
  1. Pemecahan Masalah
Problem solving atau pemecahan masalah merupakan suatu proses penyelesaian masalah yang berkaitan dengan keterampilan matematika dan konsep. Problem solving dapat dilakukan di berbagai tempat dan situasi seperti waktu makan atau snack, waktu berkumpul dalam lingkaran (Circle time), diberbagai sudut atau area, di halaman bermain dan lain-lain.
Manfaat pemecahan masalah bagi anak adalah memberikan pengalaman berbagai pikiran atau pendapat dengan anak-anak yang lain. Dan kemampuan anak dan memecahkan suatu masalah akan menimbulkan rasa percaya diri pada anak tersebut.
  1. Ukuran dan Perkiraan
Dalam mempelajari keterampilan mengukur dan memperkirakan sesuatu, hendaklah menggunakan benda kongkret. Dalam kegiatan ini anak dilibatkan untuk mengukur dan memperkirakan sesuatu jangan hanya menjadi pengamat pasif. Adapun hal-hal yang dapat digunakan untuk kegiatan mengukur adalah jam mengukur waktu, thermometer mengukur temperature atau suhu, gelas mengukur kuantitas, skala mengukur luas dan lain-lain.
  1. Waktu
Hal ini terasa sulit karena waktu merupakan konsep yang abstrak. Konsep waktu yang dapat dilatih untuk dipahami anak adalah waktu sekarang, kemarin dan besok. Adapun waktu yang dapat dibaca melalui jam atau kalender dapat dipahami anak setelah mereka memakai konsep kemarin dan besok.
Cara yang dapat digunakan dalam mengenal konsep waktu adalah dengan menggunakan jadwal kegiatan anak sehingga mereka mengetahui urutan kegiatan hari ini dan selanjutnya.

C.    Hakikat Strategi Bermain di TK
1.      Pengertian dan Kriteria Pemilihan Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru dan murid dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar. Strategi pembelajaran adalah segala usaha guru untuk menerapkan berbagai metode pembelajaran dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian strategi pembelajaran menekankan kepada bagaimana aktivitas guru mengajar dan aktivitas anak belajar.
Terdapat beberapa kriteria yang harus menjadi pertimbangan guru dalam memilih strategi pembelajaran, yaitu (1) karakteristik tujuan pembelajaran apakah untuk pengembangan aspek kognitif, aspek afektif atau psikomotor. Atau apakah pembelajaran itu bertujuan untuk mengembangkan domain fisik-motorik, kognitif, sosial emosi, bahasa, dan estetika; (2) karakteristik anak sebagai peserta didik baik usianya maupun kemampuannya; (3) karakteristik tempat yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran apakah di luar atau di dalam ruangan; (4) karakteristik tema atau bahan ajar yang akan disajikan kepada anak; dan (5) karakteristik pola kegiatan yang akan digunakan apakah melalui pengarahan langsung, semi kreatif atau kreatif.
Semua kriteria ini memberikan implikasi bagi guru untuk memilih stratgei pembelajaran yang paling tepat digunakan di Taman Kanak-kanak.

2.      Karakteristik Cara Belajar Anak
Anak belajar dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Beberapa karakteristik cara belajar anak itu antara lain (1) anak belajar melalui bermain; (2) anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya; (3) anak belajar secara alamiah, dan (4) anak belajar paling baik jika yang dipelajarinya menyeluruh, bermakna, menarik, dan fungsional.
Bermain sebagai salah satu cara belajar anak memiliki ciri-ciri simbolik, bermakna, aktif, menyenangkan, suka rela, ditentukan oleh aturan, dan episodik.
Para ahli teori konstruktivisme mempunyai pandangan tentang cara belajar anak yaitu bahwa anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya melalui kegiatan mengeksplorasi objek-objek dan peristiwa yang ada di lingkungannya dan melalui interaksi sosial dan pembelajaran dengan orang dewasa.
Lingkungan yang diciptakan secara kondusif akan mengundang anak untuk belajar secara alamiah tanpa paksaan sehingga apa yang dipelajari anak dari lingkungannya adalah hal-hal yang benar-benar bermakna, fungsional, menarik dan bersifat menyeluruh.

3.      Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran Di Taman Kanak-Kanak
Ada beberapa jenis strategi pembelajaran umum yang dapat digunakan di Taman Kanak-kanak. Strategi pembelajaran tersebut pada umumnya lebih menekankan pada aktivitas anak dalam belajar, namun, tidak berarti peranan guru pasif. Guru harus berperan sebagai fasilitator yang dapat memberikan kemudahan dan kelancaran kepada anak dalam proses belajar.
Jenis-jenis strategi pembelajaran umum tersebut adalah: (1) meningkatkan keterlibatan indra, (2) mempersiapkan isyarat lingkungan, (3) analisis tugas, (4) scaffolding, (5) praktik terbimbing, (6) undangan/ajakan, (7) refleksi tingkah laku/tindakan, (8) refleksi kata-kata, (9) contoh atau modelling, (10) penghargaan efektif), (11) menceritakan/menjelaskan/menginformasikan, (12) do-it-signal, (13) tantangan, (14) pertanyaan, dan (15) kesenyapan.
Strategi-strategi pembelajaran tersebut dapat diintegrasikan atau digabungkan dalam keseluruhan proses pembelajaran, sehingga tercipta kegiatan belajar yang lebih bervariasi.
Strategi Pembelajaran Khusus di Taman Kanak-kanak terdapat beberapa jenis strategi pembelajaran khusus yang dapat diterapkan di Taman Kanak-kanak. Penerapan strategi pembelajaran khusus tersebut pada prinsipnya sama dengan penerapan strategi pembelajaran umum, yaitu harus mempertimbangkan karakteristik tujuan, karakteristik anak dan cara belajarnya, karakteristik tempat yang akan digunakan, dan pola kegiatan.
Jenis-jenis strategi pembelajaran khusus tersebut adalah (1) kegiatan eeksploratori, (2) Penemuan Terbimbing, (3) Pemecahan Masalah, (4) Diskusi, (5) Belajar Kooperatif, (6) Demonstrasi, dan (7) Pengajaran Langsung.
Di samping strategi pembelajaran di atas, guru Taman Kanak-kanak dituntut untuk dapat menggunakan strategi pembelajaran lainnya sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik.
4.      Penerapan Strategi Pembelajaran yang Berpusat Pada Anak
Anak pada hakikatnya memiliki potensi untuk aktif dan berkembang. Pembelajaran yang berpusat pada anak banyak diwarnai paham konstruktivis yang dimotori Piaget dan Vigotsky.
Anak adalah pembangun aktif pengetahuannya sendiri. Mereka membangun pengetahuannya ketika berinteraksi dengan objek, benda, lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Yang melandasi pembelajaran yang berpusat pada anak adalah pendekatan perkembangan dan pendekatan belajar aktif.
Belajar aktif merupakan proses dimana anak usia dini mengeksplorasi lingkungan melalui mengamati, meneliti, menyimak, menggerakkan badan mereka menyentuh, mencium, meraba dan membuat sesuatu terjadi dengan objek-objek di sekitar mereka.
Pembelajaran yang berpusat pada anak memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) prakarsa kegiatan tumbuh dari minat dan keinginan anak, 2) Anak-anak memilh bahan dan memutuskan apa yang ingin ia kerjakan, 3) Anak mengekspresikan bahan-bahan secara aktif dengan seluruh indranya, 4) Anak menemukan sebab akibat melalui pengalaman langsung, 5) Anak mentransformasikan dan menggabungkan bahan-bahan, 6) Anak menggunakan otot kasarnya, 7) Anak menceritakan pengalamannya.
Pembelajaran yang berpusat pada anak harus direncanakan dan diupayakan dengan matang. Upaya yang dilakukan adalah dengan merencanakan dan menyediakan bahan/peralatan yang dapat mendukung perkembangan dan belajar anak secara komprehensif. Untuk itu perlu disediakan area-area yang memungkinkan berbagai kegiatan sesuai pilihannya.
Area- area tersebut meliputi:
a.       Area Pasir dan Air.
b.      Area Balok.
c.       Area Rumah dan Bermain Drama.
d.      Area Seni.
e.       Area agama.
f.       Area bahasa dan baca tulis.
g.      Area pertukangan atau kerja Kayu.
h.      Area musik dan gerak.
i.        Area masak.
j.        Area bermain di luar ruangan.
Pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada anak meliputi: tahap perencanaan, tahap bekerja dan tahap melaporkan kembali.
Contoh Penerapan Pembelajaran yang Berpusat pada Anak Plan Do Review, merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak. Dalam pendekatan ini anak diberi kesempatan untuk melakukan sesuai dengan minat dan keinginannya, mulai dari membuat perencanaan, (Plan), mengerjakan (Do), dan melaporkan kembali (Review). Prosedur pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:
a.       Tahap merencanakan (Planning Time).
Pada tahap ini anak diberi kesempatan untuk membuat rencana dari kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya.
b.      Tahap Bekerja (Work Time).
Tahap ini adalah tahap dimana anak bermain dan memecahkan masalah. Anak mentransformasikan rencana ke dalam tindakan.
c.       Tahap Review (Recall).
Tahap ini merupakan tahap memperlihatkan apa yang telah dilakukan anak pada tahap bekerja.

D.    Bermain Stick Angka
  1. Pengertian bermain
Bermain adalah segala aktivitas untuk memperoleh rasa senang tanpa memikirkan hasil akhir yang dilakukan secara spontan tanpa paksaan orang lain, yang harus diperhatikan orang tua, bermain haruslah suatu aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Tidak boleh ada anak untuk perkembangan aspek tertentu walaupun kegiatan tersebut dapat menunjang perkembangan aspek tertentu.
Parten, dalam Fathul Mujib dan Nailur Rahmawati, memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi. Melalui bermain diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada seorang anak, siswa dan peserta didik dalambereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. Selain itu kegiatan bermain dapat membantu anak dapat mengenal dirinya, dengan siapa ia hidup, serta lingkungan sekitar. Sedangkan menurut Bettelheim (Fathul Mujib dan Nailur Rahmawati:2011), bermain adalah kegiatan yang tidak mempunyai aturan lain, kecuali yang ditetapkan pemain sendiri, dan tidak ada hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar.
Menurut N. Murdiati Sulastomo (2002), kegiatan bermain yang dilakukan harus berdasarkan inisiatif anak. Seorang anak harus diberikan kesempatan untuk memilih kegiatan bermainnya sendiri dan menentukan bagaimana melakukannya. Menurut dari beberapa ahli bermain adalah kegiatan yang menyenangkan bagi anak dan suatu kebutuhan yang sudah ada (inheren) dalam diri anak. Dengan demikian anak dapat mempelajari berbagai keterampilan dengan senang hati, tanpa merasa terpaksa atau di paksa untuk mempelajarinya. Bermain mempunyai manfaat dalam mengembangkan keterampilan anak. Sehingga anak lebih siap untuk menghadapi lingkungannya dan lebih siap untuk mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

  1. Beberapa Ciri Bermain
a.       Menyenangkan
b.      Tidak memiliki tujuan, tidak boleh ada interfensi tujuan dari luar si anak yang memotifasi di lakukannya kegiatan bermain.
c.       Bersifat spontan
d.      Bermain berarti anak aktif melakukan kegiatan
e.       Memiliki hubungan yang sistematis dengan sesuatu yang bukan bermain seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan peran sosial, perkembangan kognitif.

  1. Jenis Bermain
Jenis bermain berdasarkan aktivitas fisik dan sumber kesenangan adalah sebagai berikut :
a.        Bermain aktif, seorang anak melakukan sendiri dalam sumber rasa senang yang diperoleh anak berasal dari apa yang dilakukan oleh anak itu sendiri.
b.       Bermain pasif adalah anak melakukan kegiatan dengan sedikit menggunakan aktivitas fisik dan sumber rasa senangnya diperoleh dari aktivitas yang dilakukan oleh orang lain.

  1. Manfaat Bermain
a.       Perkembangan fisik motorik
b.      Perkembangan kognitif dan bahasa
c.       Perkembangan sosial-emosional


  1. Tahap Perkembangan Bermain
Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya.
a.        Jean Piaget
Adapun tahapan kegiatan bermain menurut Piaget adalah sebagai berikut:
1)        Permainan Sersori Molorik (± ¾ bulan – ½ tahun)
Bermain diambil pada periode perkembangan koguitif sensori motor, sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya,lni disebut reproductive assimilation.
2)       Permainan Simbolik (± 2 – 7 tahun)
Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia2 – 7 tahun ditandai dengran bermain khayal dan bermain pura-pura. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dm menjawab pertanyaan, mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka ruang, kuantitas dan sebagainya. Seringkali anak hanya sekedar beranya, tidak terlalu momperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan, sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi utuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya.
3)       Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8 – 11 tahun)
Pada usia 8 – 11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.
4)       Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas)
Kegiatan bermain lain ymg memiliki aturan adalah olahraga. Kegialan bemain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaik – baiknya.
Jika dilihat tahapan perkembangan bermain Piaget maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilahirkan untuk keenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk basil tertentu seperti ingin menang memperoleh hasil kerja yang baik.
b.        Hurlock
Adapun tahapan perkembangan bermain menurut Hurlock adalah sebagai berikut:
1)      Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage)
Benda kegiatan mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya.
2)      Tahapan Mainan (Toy stage)
Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah, anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya.
3)      Tahap Bermain (Play stage)
Biasanya terjadi bersamaan mulai masuk di sekolah dasar, pada masa ini jenis permainan semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.
4)      Tahap Melamun (Daydream stage)
Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas, dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal.  Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain.
Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami, bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan, dan perasaan gembira tidak memiliki tujuan ekstrinsi melibatkan peran aktif anak, memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas) dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak.

  1. Stick Angka
Dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia, stick diartikan sebagai kata benda yang berarti tongkat, batang,atau potongan. Sedangkan angka adalah simbol untuk hitungan dengan simbol pokok yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,dan 9.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Tidak berbeda dengan pengertian tersebut, Mills (2000). Mendefinisikan penelitian tindakan sebagai “sistematik inquiry” yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukannya.

B.     Tempat Dan Waktu Penelitian
  Penelitian yang dilakukan penulis mengambil lokasi di Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Persatuan Meduran Manyar Gresik
Adapun penelitian dilaksanakan, pada semester ganjil tahun pelajaran 2014 – 2015.

C.    Subjek Penelitian.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan Meduran Manyar Gresik yang berjumlah 11 siswa.


D.    Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan ini dilaksanakan dalam dua siklus kegiatan yaitu siklus 1 dan siklus 2. Masing-masing siklus terdiri 4 tahap kegiatan yaitu :
1.      Menyusun rencana tindakan
2.      Melaksanakan tindakan
3.      Melakukan observasi
4.      Membuat analisis dilanjutkan refleksi
Pada penelitian ini yang melaksanakan kegiatan mengajar adalah guru kelas kelompok A sebagai peneliti bersama-sama dengan guru kelompok B yang  bertindak sebagai observer
SIKLUS – 1
1.      Penyusunan rencana tindakan 1
Pada tahap ini peneliti menyusun rencana pembelajaran berdasarkan pokok bahasan dan tema yang akan diajarkan yaitu kemampuan berhitung yang meliputi merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun langkah-langkah pembelajaran, merencanakan alat peraga (media) apa yang sesuai pokok bahasan yang akan diajarkan dari bagaimana menggunakannya, serta menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan.
2.      Pemberian tindakan 1
Guru melaksanakan pengajaran dengan menggunakan permainan stick angka sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Pada kegiatan awal pembelajaran guru melakukan kegiatan tanya jawab tentang kondisi siswa. Tentang benda-benda di sekitar anak yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari, siswa beri tugas untuk mengamati dan melihat media yang telah disediakan, kemudian siswa diminta untuk membilang angka yang terdapat pada stick dan juga siswa diminta untuk menghitung banyak benda dan memasangkan dengan stick angka yang sesuai.  
3.      Melakukan observasi
Pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, guru kelompok A yang bertindak sebagai peneliti bersama guru kelompok B melakukan observasi dan mencatat kejadian-kejadian selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang nantinya dapat bermanfaat untuk pengambilan keputusan apakah guru dapat menggunakan media dengan tepat atau perlu diadakan tindak lanjut.
4.      Pembuatan analisis dan refleksi
Dari hasil observasi dilakukan analisis pada tindakan 1 kemudian dilanjutkan dengan refleksi. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dilakukan bersama-sama ini, direncanakan perbaikan dengan melakukan tindakan 2 terhadap permasalahan-permasalahan yang masih ada.  

SIKLUS – 2
1.      Penyusunan rencana tindakan 2
Rencana tindakan 2 disusun berdasarkan hasil analisis dan refleksi selama siklus 1.
2.      Pembelajaran tindakan 2
Tindakan 2 ini dilakukan terhadap permasalahan yang masih ada pada siklus 1. Diharapkan pada akhir tindakan 2, permasalahan guru dan siswa dalam pembelajaran dalam rangka meningkatkan kemampuan berhitung dengan menggunakan permainan stick angka dapat teratasi.
3.      Pelaksanaan observasi
Pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, guru kelompok A yang bertindak sebagai peneliti bersama guru kelompok B melakukan observasi dan mencatat kejadian-kejadian selama kegiatan pembelajaran berlangsung yang nantinya dapat bermanfaat untuk pengambilan keputusan apakah guru dapat menggunakan media dengan tepat atau perlu diadakan tindak lanjut.
4.      Pembuatan analisis dan refleksi
Pada akhir tindakan 2 dilakukan analisis dan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan. Dan hasil analisis dan refleksi ini disusun kesimpulan dan saran dari seluruh kegiatan pada siklus 2.

E.     Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini ada 2 teknik pengumpulan data yaitu observasi dan penugasan atau pemberian tugas.
  1.  Observasi
Cara pengumpulan data untuk mendapatkan informasi dengan cara pengamatan langsung terhadap sikap/ perilaku guru dan anak.
Tujuannya adalah mengamati peristiwa yang dirasakan subjek dan untuk mengembangkan pemahaman tentang kognitif ( berhitung )  secara kompleks yang dimiliki anak.
Tabel 3.1 Format Observasi.
No
Observasi
SB
B
C
K
Guru
1
Kesiapan guru




2
Membuat RKH




3
Alat atau sarana  prasarana




4
Mempersiapkan kelas sesuai dengan tema dan kegiatan yang dilakukan




5
Penguasaan materi




Siswa
1
Perilaku siswa




2
Kreatifitas siswa




3
Hasil belajar siswa




                        Keterangan:
                        SB       : Sangan baik               C         : Cukup
                        B         : Baik.                          K         : Kurang.    
2.      Penugasan atau pemberian tugas
Suatu penelitian dimana guru dapat memberikannya setelah melihat hasil kerja anak. Pemberian  tugas dapat dilakukan secara kelompok atau individu.
Tujuannya ialah untuk mengetahui sejauh mana hasil kerja anak selama dalam mengikuti proses  belajar mengajar atau menerima materi.
Tabel 3.2 Aspek Penilaian dalam Permainan dengan Menggunakan
 Stick Angka
No
Aspek Penilaian
Peralatan
1
Membilang angka 1- 10
Stick angka
2
Menghitung banyak benda 1 - 10
Macam Gambar dan stick es krim yang ada angkanya
     
F.     Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa catatan-catatan, rencana persiapan mengajar, hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran dan hasil tugas atau pekerjaan siswa. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah :
1.  Data yang didapat dari kegiatan anak yang diamati selama proses kegiatan berlangsung dilakukan melalui observasi atau pengamatan langsung yang mana hasilnya ditulis dalam lembaran observasi.
2.  Data dari hasil kegiatan anak dapat dilihat dalam proses kegiatan anak berlangsung yakni ketika anak bermain dengan stick angka.



G.    Teknik Analisis Data
Penulis menggunakan tanda penilaian berupa angka yang memiliki kriteria sebagai berikut:
                            1).      Nilai 4: sangat baik
                            2).      Nilai 3: baik
                            3).      Nilai 2: cukup baik
                            4).      Nilai 1: kurang baik
Teknik analisis data yang digunakan untuk mengolah data dihasilkan dari menggunakan rumus (Suharsimi Arikunto,1998)

Keterangan:
x = nilai rata-rata
n = jumlah jawaban
N = jumlah anak
1, 2, 3, 4 = bobot atau skor jawaban
Prosentase keseluruhan analisis data dari penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran dihitung dengan menggunakan rumus (Fuad Amsyari)

Keterangan:
X = nilai rata-rata
= presentase masing-masing kriteria
N = jumlah anak
Seorang anak dikatakan mencapai ketuntasan jika taraf penguasaan lebih dari 75% dan belum mencapai ketuntasan apabila taraf penguasaan kurang dari 


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Siklus I
1.      Perencanaan
a.       Membuat rencana penelitian pembelajaran
b.      Membuat media pembelajaran anak
c.       Membuat lembar observasi atau pengamatan
2.      Hasil Pengamatan
Pada pelaksanaan pertama diamati oleh pengamat dengan melakukan pencatatan pada lembar observasi yang disediakan. Untuk mengetahui perkembangan anak pada saat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model permainan menggunakan stick angka.
Tabel 4.1
Lembar observasi dalam proses kegiatan pembelajaran
No
Observasi
SB
B
C
K
Guru
1
Kesiapan guru



2
Membuat RKH



3
Alat atau sarana  prasarana



4
Mempersiapkan kelas sesuai dengan tema dan kegiatan yang dilakukan



5
Penguasaan materi



Siswa
1
Perilaku siswa



2
Kreatifitas siswa



3
Hasil belajar siswa




Tabel 4.2
Penilaian Anak Dalam Kegiatan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung Dengan Menggunakan Stick Angka
No
Nama
 Penilaian Anak dalam Kegiatan Pembelajaran
Membilang 1 - 10
Menghitung banyak benda    1 -10
1
Muhammad Maulana malik
2
3
2
Rangga Bhuana Kencana
3
3
3
Nisa Nur Fitri Yuliani
2
2
4
Alifatul Ifroh
2
3
5
M. Farid
4
4
6
Alvira Yuniar
3
3
7
Wachid Ahmadi
3
3
8
Abel Purwaningdya
2
3
9
Evelyn Dwi Ramadhani
3
3
10
M. Arif Satrio
4
3
11
Muhammad Ghatfan Arendra
3
3
Jumlah
31
33
Prosentase
70.45
75.00

Analisa data penilaian anak dalam kegiatan belajar berhitung melalui permainan stik angka  adalah sebagai berikut :

  1. Perhitungan hasil belajar siswa dalam membilang angka 1 - 10 dengan menggunakan stick angka
Hasil belajar siswa dalam membilang angka 1 – 10 dengan menggunakan stick angka prosentasenya sebesar 70,45%..
  1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan menghitung banyak benda 1 - 10
Hasil perhitungan data berdasarkan kemampuan menghitung banyak benda 1 – 10, dalam kegiatan ini menunjukkan prosentase sebesar 75%.
Prosentase keseluruhan dari analisis data dapat dihitung dengan menggunakan rumus:


= 72,72 %
Berdasarkan hasil analisis data keseluruhan pada siklus pertama, penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran berhitung melalui permainan stick angka dikategorikan belum mencapai ketuntasan dengan prosentase sebesar 72,72%

B.     Deskripsi Siklus II
1.      Perencanaan
a.       Membuat rencana penelitian pembelajaran
b.      Membuat media pembelajaran anak
c.       Membuat lembar observasi atau pengamatan
2.      Hasil Pengamatan
Pada siklus 2 ini diamati oleh pengamat dengan melakukan pencatatan pada lembar observasi yang disediakan. Untuk mengetahui perkembangan anak pada saat kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model permainan.
Tabel 4.3
Lembar observasi dalam proses kegiatan pembelajaran
No
Observasi
SB
B
C
K
Guru
1
Kesiapan guru



2
Membuat RKH



3
Alat atau sarana  prasarana



4
Mempersiapkan kelas sesuai dengan tema dan kegiatan yang dilakukan



5
Penguasaan materi



Siswa
1
Perilaku siswa



2
Kreatifitas siswa



3
Hasil belajar siswa




Tabel 4.4
Penilaian Anak Dalam Kegiatan Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung Dengan Menggunakan Stick Angka
No
Nama
 Penilaian Anak dalam Kegiatan Pembelajaran
Membilang 1 - 10
Menghitung banyak benda    1 -10
1
Muhammad Maulana malik
3
3
2
Rangga Bhuana Kencana
3
4
3
Nisa Nur Fitri Yuliani
3
4
4
Alifatul Ifroh
3
3
5
M. Farid
4
4
6
Alvira Yuniar
4
4
7
Wachid Ahmadi
4
3
8
Abel Purwaningdya
4
4
9
Evelyn Dwi Ramadhani
3
3
10
M. Arif Satrio
4
4
11
Muhammad Ghatfan Arendra
3
4
Jumlah
38
40
Prosentase
86.36
90.91

Analisa data penilaian anak dalam kegiatan belajar melalui permainan kartu huruf hijaiyah adalah sebagai berikut :
Perhitungan hasil belajar siswa dalam membilang angka 1 - 10 dengan menggunakan stick angka
Hasil belajar siswa dalam membilang angka 1 – 10 dengan menggunakan stick angka prosentasenya sebesar 86,36%.. .
  1. Penghitungan hasil pengumpulan data berdasarkan kemampuan menghitung banyak benda 1 - 10
Hasil perhitungan data berdasarkan kemampuan menghitung banyak benda 1 – 10, dalam kegiatan ini menunjukkan prosentase sebesar 90,91%.
Prosentase keseluruhan dari analisis data dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

= 88,63 %
Berdasarkan hasil analisis data keseluruhan dari siklus kedua. Penilaian anak dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berhitung melalui permainan stick angka dikategorikan tuntas dengan prosentase sebesar 88,63%

C.    Pembahasan
Dalam penelitian ini terdapat dua siklus, yakni siklus 1 dan siklus 2. Siklus 2 berisi tentang perbaikan – perbaikan dalam pembelajaran siklus 1. Pembelajaran dalam siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 17 Nopember 2014 dan pembelajaran dalam siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 24 Nopember 2014.
Pada siklus 1, pembelajaran dalam rangka meningkatkan kemampuan berhitung yang meliputi kemampuan membilang 1-10 dengan benar dan kemampuan menghitung banyak benda 1-10 sudah tuntas. Tetapi masih dilakukan perbaikan pada siklus 2 dengan tujuan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Kemampuan anak dalam berhitung mengalami peningkatan pada tiap siklusnya. Pada siklus 1 kemampuan anak mencapai 72,72%,  akan tetapi pada siklus 2 kemampuan anak mengalami peningkatan sebesar 88,63%.
Aktivitas yang dilakukan oleh guru maupun siswa selama proses pembelajaran berlangsung cukup baik.

BAB V
PENUTUP

A.    Simpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan proses kegiatan pembelajaran dengan menggunakan permainan stick angka dalam upaya meningkatkan kemampuan berhitung di Kelompok A TK Dharma Wanita Persatuan Meduran Manyar Gresik maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
  1. Dengan menggunakan permainan stick angka ini, pembelajaran berlangsung dengan baik.
  2. Dengan menggunakan pembelajaran melalui permainan stick angka dalam kegiatan pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan berhitung. Ini diketahui dari hasil analisis siklus I sebesar 72,72% dan pada siklus II menunjukkan peningkatan sebesar 88,63%.
  3. Suasana kegiatan pembelajaran anak dari hasil observasi anak terlibat aktif dan guru mampu menciptakan proses kegiatan pembelajaran yang efektif dengan menggunakan media yang sesuai dengan tujuan kegiatan pembelajaran.

B.     Saran
Dari hasil pelaksanaan penelitian kegiatan pembelajaran melalui permainan stick angka ini terdapat beberapa saran yang dapat diajukan yakni :
  1.  Bagi anak TK agar memotivasi diri untuk berani melakukan dan mencoba sendiri dirumah hal-hal yang dipelajarinya ditaman kanak-kanak. Hal ini untuk lebih melatih kemampuan anak dalam berhitung.
  2. Bagi guru TK disarankan hendaknya menciptakan sebuah bentuk tugas yang menyenangkan bagi anak.
  3. Bagi kepala sekolah TK disarankan agar dapat memperhatikan, mendukung dan memberikan fasilitas untuk membantu upaya guru dalam membantu perkembangan anak.
















DAFTAR PUSTAKA

Hurlock B. Elisabeth. 1978. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Sari, Yulvia. 2001. Strategi pengembangan matematika anak usia dini. Semarang : IKIP Veteran Press
Mujib, Fathul dan Nailur Rahmawati. 2011. Metode Permainan-Permainan Edukatif Dalam Belajar Bahasa Arab. Jogjakarta: Diva Press
Departemen Pendidikan Nasional 2006, Pedoman Penerapan Pendekatan “Beyond Centers and Cirles Time” (BCCT) dalam Pendidikan Usia Dini.
Hurloock, E.B.,1999. Perkembangan Anak Julid 1 (edisi 6). Penerbit Erlangga: Jakarta.
Mudjito, A K. 2007. Pedoman Pembelajaran Berhitung di Taman Kanak- Kanak.Jakarta:Departement Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Diroktorat Pembinaan Taman Kanak – Kanak dan Sekolah Dasar.
 Mudjito, A K. 2007. Pedoman Pembelajaran Bidang Pengembangan
Kognitif.Jakarta : Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Diroktorat Pembinaan Taman Kanak – Kanak dan Sekolah Dasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar